Friday, 30 October 2026   |   Friday, 18 Jum. Awal 1448 H
Visiteurs en ligne : 1.488
aujourd hui : 25.814
Hier : 42.097
La semaine dernière, : 9.404
Le mois dernier : 45.610.426
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

20 februari 2016 02:47

‘Kereta Kencana’ Kendaraan Surga untuk Kakek dan Nenek


Untung Basuki (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com - Untung Basuki dan Ami Simatupang akan tampil dalam drama ‘Kereta Kencana’ karya Eugene Ionesco (Les Chaises) pada Rabu - Kamis (24 – 25/2) di Institut Francais Indonesia (IFI) Yogya. Kereta Kencana juga pernah dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bulan lalu dengan pemain berbeda.

“Yang di TBY tokoh Kakek Henry saya buat sosok ningrat tapi penuh kekonyolan. Tapi di IFI tokoh Henry akan saya buat lebih ugal-ugalan,” kata Untung Basuki yang ditemui Melayuonline, Jumat (19/2).

Kereta Kencana yang dipentaskan oleh Teater Dandang dan Untung Basuki sebagai sutradara mengemban tugas berat. Ia sengaja memilih naskah karya Eugene Ionesco karena memiliki unsur karakter para aktor dalam mengembangkan bakat dan imajinasi. “Naskah ini sangat baik untuk melatih aktor,” ujar Untung.

Pentas berdurasi 1,5 jam ini nanti bisa molor ketika pengembangan cerita dan musik saling berebut ingin tampil secara utuh. Ceritanya, ketika kakek Henry dan istrinya Nenek yang masing-masing berusia 200 dan 197 tahun mendapat panggilan dari surga dan akan dijemput dengan Kereta Kencana. Dalam menunggu waktu itulah kakek dan nenek seperti kembali pada masa remaja, pacaran dan mengenang masa lalu. Dan akhirnya seorang kaisar datang dan menjemput pasangan kakek nenek itu dibawa ke surga.

Menurut alumnus Bengkel Teater ini, untuk menyiapkan naskah itu diperlukan waktu satu tahun satu bulan. Dan pentas Kereta Kencana itu merupakan penutup dari rangkaian Parade Pentas Sastra Yogya I/2016 yang diisi pentas Jengkel Dadaku ‘Ini Dadaku’. Kemudian pentas tiga kota Yogya, Magelang dan Purworejo, pentas Teater Kewajaran Kedua ‘Pertemuan dengan Roh Halus’, dan musikalisasi puisi cinta WS Rendra.

Menurut Untung, sebenarnya acara itu semua dirancang melibatkan sutradara seperti Bambang Darto, Merzit Hendra, dan Daru Mahedaswara. Tapi tiga sutradara itu mengundurkan diri. “Padahal sudah latihan segala. Dengan bongkar pasang para pemain, program dari Teater Dandang terus berjalan,” tandas Untung Basuki. *(Teguh R Asmara)


Read : 1.178 time(s).

Write your comment !