Friday, 1 May 2026   |   Friday, 14 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 744
aujourd hui : 13.874
Hier : 24.716
La semaine dernière, : 192.091
Le mois dernier : 15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

04 april 2016 11:49

"Melayoe Doeloe" dalam Karya Seni


Satu adegan drama Melayu

Pekanbaru, Riau – Berbagai kreasi dan kreatifitas dilakukan oleh  para pelaku seni. Kreatifitas tentunya menjadi penanda dalam proses berkesenian. Tak di kota, daerah- daerah hingga sampailah di ceruk-ceruk kampung, aktifitas berkesenian tetap dilaksanakan dengan berbagai konsep yang ditawarkan.

Baru-baru ini, proses kreatif dalam berkesenian itu juga dilakukan Komunitas Seni Muda Bernas (Kemas)-Meranti. Kumpulan genrasi muda yang dibina oleh Berty Asmara ini kembali menggelar karya. Berbeda dari tahun sebelumnya, bentang karya KEMAS di 2016 ini menggelar konsep pertunjukan seni dengan tajuk “Melayoe Doeloe”. Acara digelar di halaman gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kepulauan Meranti, Sabtu (26/3) itu juga dilaksanakan sekaligus bersempena ulang tahun Kemas yang ketiga.

Berbagai bentuk seni dipertontonkan malam itu di hadapan ratusan warga. Senandung syair sebagai pembuka tampilan. Bait demi bait dilantunkan salah seorang anggota Kemas, seolah menghimpun kebersamaan dalam suara nan merdu.

Lalu, seseorang muncul di antara ilalang tepat di bawah layar yang menjadi bagian set dekor pertunjukan. Seseorang itu tampaknya berlaku sebagai dukun atau bomo. Kemudian diikuti enam orang datang dari berbagai penjuru.  Suasana magis pun kemudian terasa. Sebuah musikalisasi puisi berjudul “sunyi” karya Matrock, dibawakan.

Pertunjukan berlangsung tanpa jeda. Semua tampilan ibratakan satu kesatuan adegan yang tak terpisahkan. Tak ketinggalan berikutnya, tari zapin kreasi yang digarap oleh Syamsudin. Tari itu  mengangkat “ancak berarak”, sebuah  tradisi suku Akit dalam melakukan ritual membuang penyakit atau bale.

Dilanjutkan pula, komposisi musik karya Zulfikar berjudul “Semokel”. Karya musik ini masih mengangkat tentang nilai-nilai kemelayuan. Dilanjutkan  dengan persembahan seni lakon yang berdurasi lebih kurang 20 menit. Lakon tersebut mengisahkan tentang pesan “pantang larang” dalam kehidupan masyarakat Melayu. Pertunjukan ditutup dengan persembahan musikalisasi puisi

“Tak Sempat Pulang ke Riau”, semua anggota Kemas terlibat dalam pertunjukan yang telah disiapkan enam bulan belakangan bahkan tidak ketinggalan Presiden Kemas, Berty Asmara ikut terlibat memainkan gitar akustik melengkapi pertunjukan malam itu.

Berty selaku Pembina, menyampaikan, apa yang telah digelar di hadapan masyarakat adalah sebuah tindakan nyata dari anggota Kemas dalam hal menularkan seni kepada generasi muda. Sungguh pun demikian, kepada anggota sanggarnya yang rata-rata dalah siswa-siswi, agar selalu mengutamakan pendidikan. Sebab, tanpa pendidikan, apa yang akan dilakukan tidak akan berarti.

Disadarinya, apa yang dilakukan belumlah apa-apa. Namun semangat yang dimiliki bersama anggotanya selalu menjadi kekuatan untuk terus berkreasi terutama dalam bidang seni.

“Selalu saya tekankan kepada anggota, agar jangan cepat merasa puas dengan apa yang telah dilakukan, karena masih banyak karya yang harus dibuat. Berkesenian itu membutuhkan intusi yang tajam menerjemahkan alam dan isinya. Butuh pemikiran yang cerdas sehingga bisa dituangkan dalam bentuk karya-karya yang bernas. Tentu saja dalam mengangkat marwah daerah khususnya bidang seni,” ujarnya.

Sumber: http://riaupos.co


Read : 729 time(s).

Write your comment !