Wednesday, 10 June 2026   |   Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 5.524
aujourd hui : 58.691
Hier : 25.426
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

04 februari 2008 03:20

Fariz, Pelukis Cilik dari Palembang

Palembang- Di salah satu panel dalam pameran lukisan di Galeri Cipta Kompleks Taman Budaya Sriwijaya beberapa waktu lalu terdapat dua lukisan berukuran 50 x 20 sentimeter dengan media kanvas. Lukisan tersebut berjudul ”Seniman Sesat” dan ”Emosi Tertahan”.

Kedua lukisan tersebut menampilkan bentuk makhluk yang aneh. Tubuh mereka seperti bakteri berwarna hijau yang dilihat di bawah mikroskop, tetapi mereka memiliki kepala dan tangan seperti manusia serta memiliki ekor dan tanduk seperti binatang.

Tidak ada yang menyangka bahwa kedua lukisan tersebut adalah karya pelukis cilik Fariz Fahlevi Akbar yang masih duduk di kelas III SMP 30 Plaju, Palembang. Fariz adalah pelukis termuda dalam pameran yang diikuti 14 pelukis Palembang dan 20 pelukis Padang Panjang, Sumatera Barat, itu.

Wajah dan sorot matanya menunjukkan sifat kanak-kanak, tetapi lukisan karyanya sudah melampaui kemampuan anak sebayanya. Melihat karyanya akan tampak sebuah perpaduan antara imajinasi anak-anak yang lugu dan pikiran orang dewasa yang lebih abstrak.

Menurut Fariz, dia belajar melukis secara otodidak meskipun ayahnya, Abdulah Hernawan, adalah seorang pelukis. Fariz mengaku ayahnya hanya sedikit memberi pengetahuan tentang melukis, yaitu tentang teknik melukis, selebihnya Fariz belajar sendiri.

”Ayah saya mengajarkan kalau melukis jangan ikuti kata orang lain, tetapi ikuti diri sendiri,” kata Fariz.

Fariz mulai melukis dengan media kanvas sejak tahun 2006. Saat itu Fariz belum memberikan judul untuk karya lukisan pertamanya di atas kanvas yang bertema abstrak tersebut.

Fariz paling suka melukis dengan tema robot. Itulah yang sebenarnya dilukis oleh Fariz dalam lukisan ”Seniman Sesat” dan ”Emosi Tertahan”, yaitu bentuk robot.

”Saya paling suka melukis robot, sebab bentuknya unik dan tidak ada pelukis lain yang membuat lukisan robot,” kata Fariz. Fariz mengatakan satu lukisan karyanya ditawarkan dengan harga Rp 1 juta.

Fariz yang bercita-cita menjadi arsitek itu mengungkapkan, dia hampir tidak pernah mengikuti lomba melukis untuk anak sebaya karena selalu menang. Dia berusaha mengikuti lomba lukis yang diikuti peserta orang dewasa.

”Terakhir saya ikut lomba melukis di Palembang Indah Mal, tetapi tidak juara karena lawannya pelukis yang sudah berpengalaman semua,” katanya.

Fariz ingin setelah duduk di bangku SMA kelas I dirinya sudah bisa mengadakan pameran tunggal. Targetnya, mengadakan pameran setelah lukisannya berjumlah 30 buah.

Sumber : www.kompas.co.id


Read : 3.254 time(s).

Write your comment !