Monday, 20 April 2026   |   Monday, 3 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 324
aujourd hui : 21.500
Hier : 26.672
La semaine dernière, : 249.242
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

11 februari 2008 05:29

Jepin Sekura dan Kain Sambas Bakal Diklaim Negara Tetangga?

Jepin Sekura dan Kain Sambas Bakal Diklaim Negara Tetangga?

Pontianak- Lemahnya proteksi kebudayaan bangsa dan pewarisannya ke generasi muda dapat menyebabkan keanekaragaman Indonesia itu bisa diklaim oleh negara lain jika tidak segera dilindungi dan diajarkan ke para penerus bangsa.

Salah satu khasanah bangsa, khususnya Provinsi Kalimantan Barat, yang menjadi incaran oleh negara asing untuk diklaim sebagai hasil kebudayaan dari negara mereka sendiri yakni Tari Jepin Lembut asal Sekura Kabupaten Sambas dan Kain Sambas asal kabupaten yang sama.

“Ada orang dari Malaysia yang mendokumentasikan Tari Jepin Lembut Sekura dari penarinya asal Sekura dan kini menjadi salah satu tarian di negara itu. Demikian juga dengan kain Sambas, yang diproduksi massal di Brunei Darussalam. Kedua budaya kita itu dikhawatirkan nanti diklaim oleh mereka sebagai bagian dari budaya mereka,” kata Indra Ae‘ pemilik Studio 18, dalam acara dialog dan informasi Remaja Kreatif dan Tangguh (Rekat) 2008 di Wisma Nusantara, Minggu (10/2).

Pentingnya generasi muda untuk membangkitkan dan mempertahankan kesenian dan budaya daerah juga diungkapkan Paryadi, Lgislator Termuda di DPRD Kota Pontianak yang juga menjadi pemateri dalam acara yang diikuti oleh remaja-remaja dari beberapa SMA di Kota Pontianak ini.

“Kita harus bisa membangkitkan tradisi dan budaya kesenian kita. Jangan malu untuk mempelajarinya, seperti hadrah dan tari jepin. Jangan sampai khasanah kebudayaan dan kesenian kita diakui oleh negara lain. Seperti kejadian wayang, reog, batik, lagu Rasa Sayange, hingga tempe,” kata Politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Sementara itu Indra Ae‘ menambahkan, “Jangan sampai nanti, anak kita minta uang untuk pergi ke Australia hanya untuk menonton tari jepin, atau ke Belanda Cuma pergi mau nonton wayang,”.

Indra melanjutkan, hal-hal tersbut menjadi tantangan bagi generasi muda di era globalisasi ini guna mempertahankan khasanah dan budaya bangsa. “Walau rambut punk, tapi ahli main tanjidor,” ujarnya.

Menurutnya, mengangkat sesuatu yang tidak populer menjadi populer di mata remaja dan menjadikannya sesuatu yang trend merupakan pekerjaan yang tidak mudah. “Itu memerlukan suatu kemauan,” katanya.

Ditambahkan lagi olehnya, “Bukan berarti kita anti terhadap budaya luar, tapi kita harus bisa memfilternya dan bisa melestarikan budaya bangsa.”

Sumber : www.pontianakpost.com
Kredit foto : www.sambas.go.id


Read : 5.595 time(s).

Write your comment !