Wednesday, 20 May 2026 |Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.365
aujourd hui
:
16.402
Hier
:
25.387
La semaine dernière,
:
249.195
Le mois dernier
:
15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
20 februari 2008 06:29
Suku Akit `Semah Kampung` Sambut `Cap Go Meh`
Kelenteng In Hok Kiong - Bagansiapi-api, Riau
Pekanbaru- Masyarakat Akit, suku asli Riau, yang bermukim di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, bersiap-siap menyambut cap go meh dengan mengadakan `semah kampung`.
"Dalam tradisi kami, tiap cap go meh yang bermakna juga puncak Imlek, kami mengadakan semah kampung," ujar Juriah, salah seorang warga Suku Akit yang bermukim di Desa Titi Akar Kecamatan Rupat Utara, Selasa (19/2).
Juriah mengaku, setiap kali acara semah kampung selalu dapat peran sebagai Dewi Kuan Yin dan tradisi menjaga kampung dari pengaruh roh jahat itu dipimpin seorang bomo.
Masyarakat Akit yang berdomisili di pulau terluar perbatasan Riau-Malaysia itu, akan memulai perayaan cap go meh pada Rabu (20/2) dan puncak acara ritual semah kampung pada Kamis (21/2).
Saat puncak acara semah kampung itu, para bomo yang datang dari berbagai pelosok Riau dan luar negeri seperti dari Malaysia dan Singapura serta beberapa warga Akit yang telah `menjelma` sebagai dewa atau dewi, berkeliling kampung membuang sial setelah terlebih dahulu mereka sembahyang di kelenteng Cin Buk Kiong, kelenteng tertua di Riau.
"Saat semah kampung, tempat yang disinggahi merupakan lokasi tempat bermukimnya para hantu," ujar Juriah.
Lokasi tersebut, katanya, baik di halaman rumah penduduk maupun tanah yang kosong diberi tanda berupa bendera dengan warna tertentu yang mencerminkan jahat atau tidaknya hantu di lokasi tersebut dan sesajian.
"Saat menjelma sebagai Dewi Kuan Yin, saya sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi," ujar Juriah, menceritakan pengalamannya saat kemasukan roh dalam tradisi sukunya itu.
Sementara itu Kepala Desa Titi Akar, Anyang, mengatakan cap go meh tidak hanya tradisi bagi warganya tetapi juga bagi warga Tionghoa yang banyak terdapat di daerahnya. Menurut dia, sukunya berasimilasi dengan kaum Tionghoa telah sejak lama dan itu sebabnya tradisi perayaan saat imlek dan cap go meh suku asli ini sama dengan yang dimiliki masyarakat Tionghoa.
"Tapi semah kampung tradisi asli kami dari nenek moyang dulu," katanya. Ia yang telah menjabat hampir 40 tahun sebagai kepala desa dan baru terpilih lagi itu mengatakan, saat cap go meh, warganya yang bermukim di luar desa berdatangan bahkan yang tinggal di luar negeri juga datang tidak hanya dari Singapura dan Malaysia sebagai negara terdekat, tetapi juga dari Hong Kong.
"Saat cap go meh kampung kami ramai karena banyak orang luar datang dan sembahyang di sini untuk keberuntungan di tempat kami," katanya.
Kelenteng Cin Buk Kiong, merupakan kelenteng yang telah berumur satu abad lebih, berada di tepi Selat Morong. Kelenteng tersebut menjadi tujuan bagi warga Tionghoa untuk bersembahyang dan meminta keberuntungan pada Dewa Laut.
Sumber : www.mediaindonesia.com Kredit foto : www.kelenteng.com