Saturday, 13 June 2026 |Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui
:
4.619
Hier
:
18.545
La semaine dernière,
:
227.151
Le mois dernier
:
9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
19 april 2008 05:12
Tembok Balai Arkeologi Bukit Siguntang Roboh
Palembang– Tembok Balai Arkeologi Bukit Siguntang, di Jalan Hulubalang, Kelurahan Bukit Lama, kemarin, kembali roboh dan menimpa tiang telepon.
Pengawas Balai Arkeologi Bukit Siguntang Sarkasih mengatakan, robohnya tembok itu sama seperti kejadian sebelumnya, karena diterjang air ketika turun hujan. “Tembok sudah berusia puluhan tahun, saat diterjang air bah yang cukup deras jadi roboh,” ujarnya, Jumat (18/4), kemarin, usai melihat tembok yang roboh.
Dia mengaku mengetahui tembok tersebut roboh setelah mendapat laporan dari warga, karena letaknya jauh di belakang dan tertutup pepohonan. Setelah mengetahuinya, dia langsung melaporkan kejadian itu ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Sumsel. “Saat ini pihak pengawas berupaya memperbaiki tembok yang roboh itu, dengan menutup menggunakan seng dan kayu sementara waktu.
Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan benda-benda peninggalan kuno di dalam Balai Arkeologi Bukit Siguntang,” katanya. Selanjutnya, kata dia, di dalam Balai Arkeologi Bukit Siguntang banyak terdapat makam-makam peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Akibat robohnya tembok itu, kini banyak masyarakat yang keluar-masuk area balai arkeologi.
“Lihat, sekarang banyak pemuda keluar-masuk ke Balai arkeologi tanpa melalui pintu depan. Mereka dapat masuk melalui tembok yang roboh itu,”ungkapnya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Sumsel HR Rahman Zeth membenarkan tembok tersebut telah roboh akibat dilanda bencana.
“Memang dalam bulan ini cuaca di Palembang tidak menentu. Apalagi hujan dua hari yang lalu sangat deras, hingga merobohkan tembok Balai arkeologi tersebut,” ujarnya kemarin. Rahman mengaku, usia tembok tersebut sudah puluhan tahun sehingga diperlukan perbaikan.
Tetapi perbaikan baru dapat dianggarkan pada 2009, sehingga pihaknya berusaha memperbaiki apa adanya, demi keamanan peninggalan Balai Arkeologi tersebut. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Sartimin memahami, robohnya tembok itu karena merupakan musibah. Namun, instansi terkait segera memperbaiki tembok tersebut, karena Balai Arkeologi merupakan aset budaya. (hengky chandra agoes)