Wednesday, 29 April 2026 |Wednesday, 12 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui
:
459
Hier
:
22.835
La semaine dernière,
:
169.256
Le mois dernier
:
101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
23 april 2008 04:09
Sumatra Alami Krisis Sumber Daya Manusia
Medan- Tokoh nasional asal Sumatra pada tiga dekade terakhir mengalami krisis. Hal tersebut disebabkan adanya krisis sumber daya manusia.
”Peran tokoh asal Sumatra menurun dalam dua dekade terakhir karena kaderisasi yang tidak berjalan. Faktor lain karena kalah bersaing dengan tokoh luar Jawa dari daerah lain dalam dua dekade terakhir,” tutur antropolog Universitas Negeri Medan, Usman Pelly, Sabtu (19/4), seusai seminar nasional ”Budaya Politik Indonesia”.
Usman mengatakan, penurunan peran tokoh asal Sumatra itu juga disebabkan kualitas sumber daya manusia. Hal itu yang menyebabkan tokoh asal Sumatra kalah dengan daerah lain di luar Jawa. Salah satu daerah yang banyak menyumbang tokoh nasional di luar Jawa berasal dari Sulawesi Selatan. Peran mereka, tuturnya, lebih dominan daripada peran tokoh asal Sumatra di pentas nasional.
Usman pesimistis tokoh asal Sumatra bisa tampil di pentas nasional dalam Pemilihan Umum 2009. Pada pesta demokrasi nanti itu, peran tokoh asal Jawa masih dominan.
Perjuangan tokoh asal Sumatra ke pentas nasional dia ibaratkan seperti perjuangan Barrack Obama tampil menjadi calon presiden Amerika Serikat (AS) tahun ini.
”Butuh kesabaran bertahun-tahun untuk sampai pada tahap itu,” katanya.
Salah satu penyebab krisis kepemimpinan nasional asal Sumatra adalah karena kuatnya pergesekan etnis di Sumatera.
Menurut Usman, belakangan ada kecenderungan antara suku satu dan yang lain tidak ada yang mau kalah. Ini terjadi seiring dengan masuknya era otonomi daerah. Hal itu juga diakui oleh pemerhati sosial-budaya, Basyral Hamidy Harahap. Menurut dia, pergesekan antaretnis tidak terelakkan terjadi di Sumatra, salah satunya di Sumatra Utara.
Di daerah ini terjadi persaingan antara Mandailing dengan Batak Toba. Kedua suku, kata Basyral, berangkat dari hal yang berbeda, yaitu sejarah, tradisi, agama, kontak dengan dunia luar, dan gaya hidup. (NDY)
Sumber : www.kompas.com (22 April 2008) Kredit foto : www.asiatour.com