Sunday, 26 April 2026 |Sunday, 9 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.116
aujourd hui
:
18.892
Hier
:
23.172
La semaine dernière,
:
7.342.256
Le mois dernier
:
101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
22 mei 2008 03:03
PT Malaysia Mulai Lirik Lembaga Pendidikan di Indonesia
Jakarta- Perguruan Tinggi Malaysia mulai mengincar dan merambah lembaga pendidikan di Indonesia yang sedang mengalami krisis keuangan dan krisis mahasiswa.
Hal itu terlihat dengan apa yang dilakukan Universitas Islam Antarbangsa (UIA), Malaysia. Perguruan tinggi tersebut baru saja mengambilalih Meridian University College menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer (STIMIK) Meridien, Jakarta, yang sedang sekarat. "Krisis mahasiswa dan krisis keuangan yang jadi masalah. Padahal, Indonesia masih menjadi pasar potensial dalam menjaring mahasiswa," ujar Rektor UIA Shamsul Kahar kepada Media Indonesia, di Jakarta, Rabu (21/5).
Shamsul mengatakan sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menjaring mahasiswa baru Indonesia, meskipun lembaga pendidikan tersebut, pernah mengalami krisis keuangan dan krisis mahasiswa. "Langkah yang penting, guna menarik perhatian mahasiswa baru, perguruan tinggi yang kita akuisisi itu, menetapkan biaya yang cukup bersaing, namun memiliki mutu pendidikan berstandar internasional," ujar Shamsul.
Shamsul mencontohkan dengan biaya pendidikan berkisar Rp4 juta-Rp5 juta per semester yang diberlakukan pada STIMIK Meridien, perguruan tinggi yang diakuisisi menjanjikan akan memberi standar dan kualitas pendidikan berstandar internasional.
"Selain menggunakan kurikulum berstandar internasional, proses perkuliahan pun akan dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Inggris, terutama ketika terjadi diskusi antara mahasiswa dan dosen," kata Shamsul.
Ia menambahkan tidak hanya krisis keuangan dan krisis mahasiswa saja yang memicu akuisisi tersebut, namun juga karena minat mahasiswa Indonesia yang tinggi untuk belajar di Malaysia, dalam hal ini di UIA. Saat ini, jelas Shamsul, UIA yang merupakan salah satu perguruan tinggi ternama di Malaysia, berjumlah 25 ribu orang, sekitar 400 orang berasal dari Indonesia. Mahasiswa asing lainnya berasal dari Bosnia, China, Laos dan Vietnam.
"Setelah melihat besarnya orang Indonesia yang kuliah di UIA, kemudian muncul gagasan mendirikan perguruan tinggi di sini. Mahasiswa Indonesia bisa mendapat pendidikan yang setara dengan di Malaysia, tanpa perlu ke Malaysia. Jadi lebih hemat karena tidak perlu keluar uang untuk biaya hidup," kata Shamsul.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Suharyadi mempertanyakan langkah akuisisi yang dilakukan Yayasan Universitas Islam Antarbangsa terhadap perguruan tinggi di Indonesia tersebut. "Dalam Perpes No. 77 tahun 2007, tentang bidang usaha tertutup dan terbuka, modal asing boleh masuk ke perguruan tinggi, namun sahamnya maksimal 49 persen, dan ini belum terealisasi sampai saat ini, biasanya hanya melalui kerjasama," ujar Suharyadi.
Sebab itu, lanjut Suharyadi, jika kasusnya diambil alih, bukan dalam bentuk kerjasama, maka sudah menyalahi aturan, dan untuk itu APTISI meminta Dirjen Dikti, untuk melakukan peninjauan ke perguruan tinggi bersangkutan. Dalam hal ini, lanjut Suharyadi, Dikti harus memastikan, apakah itu diambil alih, atau hanya sebatas kerjasama (Sidik Pramono).
Sumber : www.mediaindonesia.com (21 Mei 2008) Kredit foto : www.surabaya.go.id