Wednesday, 20 May 2026 |Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.831
aujourd hui
:
26.523
Hier
:
25.387
La semaine dernière,
:
249.195
Le mois dernier
:
15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
26 juli 2008 04:01
Bahasa Muna Diseminarkan Secara Internasional
Peserta Mayoritas Guru dan Budayawan
Tugu di kota Raha, Muna, Sulawesi Tenggara.
Muda, Sulawesi Tenggara- Kepres-Populasi pemakai Bahasa Muna tidak sebanyak Bahasa Jawa, Sunda dan Bugis. Tapi kepedulian Diknas Muna untuk mempertahankan dan melestarikan Bahasa Muna patut diacungkan jempol dengan melakukan seminar internasional Bahasa Muna. Tak tanggung-tanggung menghadirkan pakar linguistik (ilmu tentang bahasa) dari Belanda Dr Rane van Berg, Prof Abdul Rauf, Prof La Sidu dan Drs La Mokui, berlangsung di Aula Bappeda Muna, kemarin.
Seminar ini mendapat perhatian serta menarik minat publik. Pesertanya mayoritas guru dan sejumlah budayawan yang memiliki kepedulian untuk melestarikan Bahasa Muna, agar jangan tergilas zaman. Apalagi seminar ini bertajuk internasional. Dengan panelis adalah pakar yang memiliki kompetensi dalam linguistik dan sudah menerbitkan kamus bahasa Muna.
Sehingga tampilnya Dr Rane, peneliti berkebangsaan Belanda, menjadi jaminan seminar ini bisa menjadi titik awal untuk melahirkan komitmen, Bahasa Muna tetap lestari dan harus dipertahankan. Sehingga populasi pemakai Bahasa Muna bukan hanya di Muna atau di Sultra tapi menyebar ke seluruh Indonesia.
Drs La Taha, Kepala Sekolah SMA Tampo yang juga peserta seminar mengatakan seminar ini memiliki makna yang sangat strategis. Sebagai momen untuk mempertahankan bahasa Muna. Apalagi peserta mayoritas dewan guru yang akan menjadi penggerak pada siswanya untuk tetap memakai dan menggunakan Bahasa Muna.
Karena peranan guru dalam mempertahankan Bahasa Muna sangat besar. "Hampir semua pembicara optimis untuk mempertahankan Bahasa Muna agar jangan punah. Komitmen ini merupakan sebuah sikap luhur untuk tetap melestarikan nilai-nilai luhur budaya yang dimiliki Muna. Sehingga secara moral, merupakan tugas semua komponen masyarakat untuk satu sikap dalam kemanunggalan mempertahankan dan terus menggelorakan pemakaian bahasa Muna," ujar Taha.
Sementara itu Kadis Diknas Muna, Drs Safiuddin mengatakan, filosofi yang dibangun dengan menggelar seminar Bahasa Muna secara internasional adalah sebagai upaya untuk mempertahankan Bahasa Muna sebagai bahasa ibu.
Karena bahasa ibu harus dikenal sebagai identitas lokal. Lagi pula, dalam seminar ini bukan saja berbicara soal linguistik tapi pada pendekatan antropologi, sosiologi. Sehingga dimensi bahasa Muna sebagai bahasa ibu menjadi sebuah makna yang jelas, baik dalam arti sebagai media komunikasi juga sebagai penguatan budaya.
"Saya undang khusus Dr Rane van Berg untuk menjadi panelis dalam seminar ini. Karena beliau memiliki kelayakan untuk bicara tentang Bahasa Muna, meskipun dia orang Belanda. Tapi pemahaman dan kajian akademis tentang Bahasa Muna layak kita dengar. Dan dia telah menyusun buku kamus Bahasa Muna. Sehingga atas realitas ini dia hadir untuk memberikan informasi secara akademis hasil penelitiannya tentang bahasa Muna," ujar Syafiuddin.
Menurut Syafiuddin, bahasa Muna merupakan produk budaya lokal dan wajib untuk dilestarikan. Sehingga anak yang dilahirkan di Muna harus fasih berbahasa Muna. Sebab sangat ironis jika anak yang lahir dan besar di Muna tapi asing terhadap bahasa Muna. Maka merupakan tugas bersama semua pihak untuk mempertahankan bahasa Muna agar jangan punah. "Saya mengajak semua komponen masyarakat baik budayawan, akademisi, tokoh masyarakat untuk membangun sebuah kesamaan fisi untuk mempertahankan bahasa Muna. Dan ini merupakan tugas mulia," tandas Syaifuddin. (Saf/Dul)