Saturday, 13 June 2026 |Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 503
aujourd hui
:
10.989
Hier
:
18.252
La semaine dernière,
:
227.151
Le mois dernier
:
9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
13 agustus 2008 06:45
MelayuOnline.com di E-Life Style Metro TV
E-Culture : Budaya Hidup Era Digital
Jakarta, MelayuOnline.com- Setelah dimuat di Harian Kompas, media cetak terbesar di Indonesia, pada tanggal 8 Agustus 2008, Melayuonline.com kembali diekspose pada acara E-Life Style di Metroteve pada hari Minggu, 10 Agustus 2008. Acara ini ditayangkan secara live pada jam 09.00 WIB dari Studio I Metroteve di Kedoya, Jakarta, dan ditayangkan ulang pada hari Senin, 11 Agustus 2008 jam 01.00 pagi. Acara yang dipandu oleh presenter Ferly Junandar dengan produser Budi Cakrawati ini berlangsung selama 30 menit. Hadir sebagai narasumber Mahyudin Al Mudra, SH., MM. sebagai pemimpin Melayuonline.com dan Dr. Aris Arif Mundayat dari Fakultas Ilmu Budaya UGM sebagai pakar budaya sekaligus Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT UGM).
Apa yang dimaksud dengan e-culture? Mahyudin menjelaskan, e-culture adalah pelestarian warisan budaya melalui teknologi informasi dan komunikasi (TIK). E-culture merupakan bagian dari e-life style, yaitu gaya hidup masyarakat yang berbasis pada teknologi digital. Pada era globalisasi dan teknologi informasi sekarang ini, gaya hidup berbasis teknologi digital merupakan suatu hal yang tidak terhindarkan. Dalam kaitan pelestarian budaya dan pariwisata, media komunikasi digital sudah menjadi tuntutan yang tidak bisa tidak harus diapresiasi oleh setiap orang. Salah satu contoh, hilangnya candi Borobudur dari daftar 7 Keajaiban Dunia (The Seven Wonder of The World) disebabkan oleh kurangnya jumlah pemilih pada pooling yang dilakukan oleh Unesco untuk meranking warisan-warisan budaya yang dinilai paling unggul di dunia. Kalau saja masyarakat Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta ini sudah mengapresiasi teknologi digital, dan memilih Borobudur pada pooling di internet tersebut, pastilah sekarang ini kita masih memiliki kebanggaan sebagai bangsa pewaris peninggalan budaya tertinggi di dunia.
Melayuonline.com sendiri adalah salah satu media on line yang dipakai Balai Pengkajiandan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) untuk mempertahankan budaya Melayu dengan cara mendokumentasi, menginventarisasi, dan mempublikasi segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya Melayu. Tujuannya adalah untuk membangun masyarakat Melayu baru, yaitu masyarakat Melayu yang tidak gagap teknologi, dalam kerangka besar memelayukan orang Melayu. Namun demikian kendalanya masih cukup banyak, terutama pada kolekting data yang disebabkan oleh lemahnya kepedulian kita untuk mendokumentasikan budaya-budaya Melayu yang pernah atau masih ada.
Dr. Aris Arif Mundayat menjelaskan, bahwa budaya elektronik secara perlahan telah menggantikan budaya tradisional yang dianggap kurang up to date. E-culture ini pada gilirannya akan membentuk budaya baru, oleh karena apa yang disampaikan melalui media internet akan menyebar ke pemirsa di mana pun mereka berada. Jika masyarakatyang sudah memperoleh informasi ini kemudian menyebarkannya kepada masyarakat yang lebih luas, maka proses pembentukan budaya baru itu pun berlangsung.
Masih menurut Dr. Aris Arif Mundayat, pada zaman dahulu budaya Melayu terbagi menjadi dua, yaitu high culture yang hidup di kalangan kerajaan, dan low culture yang berlangsung di tengah masyarakat biasa. Karena perubahan zaman, akhirnya kedua budaya ini melebur menjadi satu yang disebut dengan budaya Melayu Pop (Malay Pop Culture). Budaya inilah yang nantinya akan survive melintasi zaman, oleh karena budaya ini bisa menyesuaikan diri dan memenuhi kebutuhan masyarakat pendukung budaya tersebut, terlebih pada generasi muda di masa kini yang hidup di tengah perubahan dan disergap globalisasi yang merupakan keniscayaan. (Tuti Nonka)