Saturday, 2 May 2026 |Saturday, 15 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.319
aujourd hui
:
19.273
Hier
:
18.558
La semaine dernière,
:
192.091
Le mois dernier
:
15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
08 sepember 2008 08:25
Prof. Datuk Dr. Abdul Latiff Abu Bakar: Kita Harus Menjaga Warisan Budaya Serumpun
Pertikaian dua negara rumpun Melayu, Indonesia-Malaysia, sebetulnya merupakan cerminan dari ketidakpahaman akan warisan budaya Melayu. Warga Melayu yang kini terpecah-pecah secara geopolitik berjuang demi kepentingan masing-masing negara, bukan lagi untuk kepentingan menjaga warisan budaya, marwah, dan kemajuan budaya Melayu. Untuk mendalami wacana ini, Redaktur MelayuOnline.com mewawancarai langsung Ahli Lembaga Pengarah Dunia Melayu Dunia Islam, Institut Seni Malaysia Melaka (ISMMA), Prof. Datuk Dr. Abdul Latiff Abu Bakar, pada Kamis (29/05).
Relasi dua negara serumpun, yaitu Indonesia dan Malaysia, kerap kali ‘memanas’ karena perbedaan pandangan tentang kepemilikan kebudayaan. Nah, bagaimana pandangan Prof. Abdul Latiff tentang harmonisasi dua bangsa serumpun ini?
Sebenarnya, bangsa Melayu serumpun ini dapat dimaknai dari bermacam-macam peristilahan (perspektif). Pertama, tafsiran terhadap Melayu yang dilihat dari perspektif geobudaya dan, kedua, bisa juga dilihat dari peristilahan pemerintahan atau yang dikenal sebagai geopolitik.
Kita perhatikan, kini Melayu menjadi terpecah-pecah. Dalam konsepsi geobudaya, Melayu pada kenyataannya begitu besar, namun saat ini sudah dikecilkan oleh konsep geopolitik. Geopolitik ini merupakan bentukan kolonialisme. Belanda mengambil Indonesia, British mengambil Malaya, Portugis mengambil Malaya, Spanyol mengambil Filipina, sedangkan Thailand berdiri sendiri. Kondisi ini membuat orang Melayu serumpun secara politik menjadi terpecah-pecah. Dari situ, kemudian timbul berbagai tafsiran mengenai (bangsa dan kebudayaan) Melayu.
Berdasarkan pemahaman itu, kita sebenarnya dapat menunjukkan kepada semua pihak bahwa Melayu itu sesungguhnya merupakan bangsa yang besar, bukan bangsa yang terbagi-bagi menjadi Brunei, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Singapura. Sebenarnya, di negeri-negeri inilah bangsa sekaligus kebudayaan Melayu tumbuh dan hal ini yang harus kita pahamkan kepada generasi penerus rumpun Melayu bahwa kita berasal dari satu bangsa, malay-astronesia, dari satu rumpun Melayu, dan mendiami kepulauan Melayu (Malay archipelago). Kepulauan yang didiami rumpun Melayu ini merupakan suatu wilayah yang besar, karena di dalamnya mempunyai (baca: hidup berbagai) etnik (secara berdampingan). Bagi saya, hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati oleh semua pihak, terutama bagi bangsa Malaysia dan Indonesia.
Apakah itu berarti penyatuan rumpun Melayu sebetulnya bisa dilakukan dengan jalan strategi kebudayaan, meskipun sekarang sudah terpecah-pecah secara politik?
Kalau kita tengok, hampir seluruh orang Melayu saat ini memahami dan menghayati (budaya dan bangsa) Melayu dalam kerangka geopolitiknya masing-masing, misalnya pemaknaan masyarakat Indonesia terhadap Melayu berbeda dengan pemaknaan yang dilakukan oleh Malaysia. Begitu juga dengan Thailand, Brunei, Singapura, maupun Filipina. Pada akhirnya, 300 juta masyarakat di rumpun Melayu ini memahami Melayu dari kacamata pemikiran politik yang berkembang di masing-masing negara.
Tapi, sebagai ahli akademik maupun jurnalis, kita paham bahwa kita adalah satu bangsa rumpun Melayu yang besar, di mana hampir 300 juta warga memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama untuk berkomunikasi (sehari-hari) dan menyampaikan ilmu pengetahuan, menjalankan adat-istiadat Melayu, dan juga menyampaikan ajaran agama Islam. Islam merupakan agama yang mendominasi religiositas orang rumpun Melayu. Dalam sejarahnya, sebelum beralih ke Islam, orang Melayu menjalankan ajaran Hindu dan Buddha. Pilihan pada Islam ini dikarenakan Islam dianggap sesuai dan dapat diterima oleh masyarakat Melayu sebagai pedoman menjalankan kehidupan. Kita dapati hal ini di Brunei yang majority Melayu, Indonesia majority Melayu, Malaysia majority Melayu, Mindanao majority Melayu, begitu juga Thailand Selatan majority Melayu.
Oleh sebab itu, sebagai seorang sarjana dan sebagai orang yang cinta pada bangsa kita, orang Melayu tetap bangga menjadi bangsa yang besar dan tetap peduli pada rumpun Melayu. Rumpun Melayu di sini ialah seperti rumpun serai, gabungan pokok-pokok kecil yang seakar Melayu dan mencintai warisan seni budayanya. Warisan seni budaya ini kita kenali sebagai peneguh jatidiri, sebagai satu lambang kekuatan orang Melayu. Nah, ini yang kita serap dan penting untuk kita pahami. Hanya dengan pemahaman ini, bangsa Melayu dapat bersatu.
Dalam salah satu seminar, Prof Abdul Latiff pernah mengangkat tema tentang pelestarian warisan budaya. Ini menjadi tantangan besar di era modern. Lebih jauh lagi, modernisasi telah mendorong melunturnya identitas kemelayuan. Misalnya, anak muda sekarang lebih baik menonton MTV daripada menonton Zapin. Bagaimana memandang persoalan ini, dan apa yang bisa dilakukan?
Saya rasa, kita sebagai bangsa Melayu haruslah memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri dari daya-daya Barat. Letak kekuatan kita ialah pada culturalheritage (warisan budaya), bukan saja dari segi luaran (fisik/bendawi), tapi pemahaman warisan (budaya) kita dari segi minda (pemikiran) dan juga jiwa kita. Kita perlu melestarikan berbagai bentuk warisan (budaya) untuk menjaga identitas kita sebagai orang Melayu.
Hal ini karena, warisan kebudayaan Melayu melambangkan satu peninggalan yang sangat tinggi nilainya, mempunyai taraf yang tinggi, dan sesuai dengan tamadun dunia. Warisan budaya Melayu merupakan heritage yang telah ditapis, di mana di dalamnya ada satu filter, yang mana ada yang tak baik, atau yang tak sesuai bagi orang Melayu telah ditanggalkan. Sebab itu, saya melihat warisan itu penting.
Jadi inilah yang mesti kita perhatikan, yaitu warisan (budaya) kita. Kita memiliki warisan yang sangat tinggi nilainya. Warisan bernilai tinggi karena mempunyai marwah. Yang dikatakan marwah untuk menjaga, mengawal, menghayati, dan mengembangkan dengan baik warisan tersebut supaya generasi yang akan datang akan mempertahankan dan melanjutkan pengembangan warisan budaya Melayu itu. Sehingga, nantinya, pilihan-pilihan generasi muda pada produk budaya Barat akan berangsur berkurang.
Menurut Prof. Latiff, apakah dengan jalan seperti yang kami lakukan ini, misalnya membangun portal MelayuOnline cukup strategis untuk membangun kembali peradaban Melayu?
Sebenarnya MelayuOnline yang dibuat oleh yayasan ini sangat kita dukung, ini sebagai langkah awal dan kita akan beri sokongan. Saya pun akan membantu BKPBM (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu) untuk mengembangkan (kajian-kajian tentang budaya) Melayu.