Saturday, 13 June 2026   |   Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 373
aujourd hui : 9.265
Hier : 18.252
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

19 sepember 2008 07:56

BKPBM, Wadah Komunitas Belajar Budaya Melayu

Tumbuhkan Rasa Kebangsaan
BKPBM, Wadah Komunitas Belajar Budaya Melayu
Kantor Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta.

Yogyakarta- Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) didirikan oleh Mahyudin Al Mudra sebagai bentuk kepeduliannya akan budaya melayu. Dia yang asli kelahiran Riau memang selalu mempunyai ketertarikan besar akan budaya Melayu, meskipun sudah puluhan tahun berada jauh dari tanah kelahiran.

Namun yang ingin diusungnya bukan menghidupkan kembali budaya dalam arti sempit. “Kami di sini tidak ingin mengembangkan paham primordialisme sempit. Bahkan, kami ingin mewacanakan paham kebangsaan lewat multikulturalisme,” kata Mahyudin, saat ditemui di kantor BKPBM, Jalan Gambiran No 85A Yogyakarta.

Lebih dari sekadar komunitas biasa, tempat yang didirikan itu berfungsi juga sebagai tempat untuk berbagi ilmu. Faktanya, BKPBM berisikan orang dari berbagai daerah, tidak hanya dari rumpun melayu seperti Riau, Sumatra Selatan dan Sumatra Utara.

Kultur daerah Jogja dinilai cukup sesuai untuk mendirikan balai kajian daerah seperti ini. “Jogja itu miniatur Indonesia. Banyak orang daerah yang datang dan hidup di sini. Masyarakat Jogja sangat terbuka dalam menerima kehadiran orang asing, namun budayanya bisa tetap terjaga. Balai kajian ini akan menambah wajah Jogja sebagai pusat kebudayaan Indonesia,” katanya.

Paham kebangsaan, menurut Mahyudin, harus ditumbuhkan dengan cara yang benar. Keputusannya mendirikan Balai Kajian Melayu di Jogja juga atas dasar multikulturalisme. “Saya memang orang melayu. Tapi tempat hidup saya di sini (Jogja, Red). Jadi, saya ingin membangun komunitas ini, juga untuk masyarakat Jogja,” kata Mahyudin yang sekarang ini sedang mengambil master dalam bidang antropologi.

Tidak ada kekhawatiran bahwa tindakannya akan mendapat respon negatif dari masyarakat setempat. “Maksud saya kan baik. Saya ingin mendirikan komunitas Melayu, karena saya melihat budaya melayu sangat potensial untuk dikembangkan. Tapi saya mendirikan komunitas ini bukan untuk orang Melayu saja,” ujarnya.

Keanekaragaman budaya dan suku di Indonesia, bila diatur dengan baik, akan bisa hidup dan berkembang berdampingan tanpa konflik. Karena itu, masyarakat Indonesia harus dibiasakan dengan multikulturalisme. Bila kultur menghargai sudah bisa diresapi dengan baik oleh setiap elemen negri ini, persatuan dan kesatuan nasional bisa dicapai.

“Tidak ada negara yang seperti Indonesia. Kita punya 300 suku dan 700 bahasa. Sungguh suatu berkah yang luar biasa, asal kita bisa mengatur dengan baik,” papar pria berkacamata ini.

Gedung BKPBM di Gambiran terbuka untuk umum. Tidak dikenakan biaya apapun untuk mengunjungi tempat yang didesain dengan arsitektur khas Melayu itu. Sesuai tujuannya, yaitu sebagai tempat di mana orang bisa mencari segala hal tentang Melayu, kantor ini dilengkapi perpustakaan yang memadai dan berbagai atribut yang menunjukkan budaya melayu diantaranya adalah busana tradisional, alat kelengkapan upacara melayu, dan kain khas dari berbagai daerah.

Menurut Yuhastina Sinaro, Humas BKPBM, mereka sebisa mungkin menciptakan suasana khas Melayu. “Bahkan untuk manekin kami buat sendiri. Rata-rata manekin kan dibuat dengan wajah bule. Kami ingin manekin yang mengenakan busana Melayu juga berwajah Melayu. Karena itu kami membuatnya sendiri. Memang harganya jadi sedikit mahal, tapi kami ingin semua yang ada di sini mencerminkan budaya melayu,” ujar gadis lulusan Universitas Udayana, Bali.

Sumber : Radar Jogja (18 September 2008)


Read : 2.197 time(s).

Write your comment !