Saturday, 9 May 2026   |   Saturday, 22 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 5.314
Hier : 40.425
La semaine dernière, : 209.627
Le mois dernier : 15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

03 oktober 2008 09:50

Sarung Samarinda Ditinggalkan Anak Muda

Sarung Samarinda Ditinggalkan Anak Muda

Samarinda- Usaha perajin Sarung Samarinda kini "terseok-seok" karena menghadapi persaingan dagang begitu ketat akibat membanjirnya sarung yang sama dari luar daerah yang dibuat menggunakan mesin.

Sejumlah perajin sarung itu di Samarinda, Jumat mengaku kini seperti mati segan hidup tak mau, karena masih bertahan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) namun kini harus menghadapi dengan membanjirnya sarung dengan motif sama hasil produksi mesin atau pabrik.

Begitu masuk sebuah Gang Petenunan di Samarinda Seberang maka terdengar bunyi kayu beradu dari suara ATBM menandakan sebagian perajin masih bekerja menenun secara tradisional. Para perajin Samarinda masih bertahan menggunakan ATBM yang mereka sebut sebagai "gedokan".

"Berbeda dengan Lebaran beberapa tahun lalu, saat ini pasar Sarung Samarinda sepi, mungkin karena banyak saingan hasil buatan pabrik," kata Ani, salah salah seorang penenun.

Ia mengharapkan pemerintah daerah setempat bisa membantu agar bisa bertahan. Para perajin itu butuhcmodal serta dukungan sektor kepariwisataan dalam "mengemas" kawasan itu benar-benar menjadi sebuah objek wisata budaya, karena terdapat ratusan perajin Sarung Samarinda.

Dijelaskannya, Sarung Samarinda akan laris apabila ada tamu-tamu dari Pemkot Samarinda atau Pemprov Kaltim berkunjung ke kawasan itu, karena sarung tersebut biasanya dijadikan cindera mata namun di luar kegiatan itu, penjualan sepi termasuk Lebaran tahun ini.

Ia menjelaskan, kini pekerjaan sebagai penenun secara perlahan ditinggalkan sehingga kini umumnya penenun adalah orang-orang tua.

Hambatan mereka yang lain adalah harga bahan baku sutera dari China yang terus melambung sehingga perajin kesulitan menentukan harga.

Harga sarung berkisar antara Rp200 ribu sampai Rp1 jutaan per lebar tergantung bahan, motif serta kehalusan pengerjaan. Sekarang Sarung Samarinda tidak hanya diproduksi dari Samarinda, namun sudah ada diproduksi di Gresik untuk jenis "printing", bahkan sistem penjualannya sudah diekspor sampai ke Dubai.

Sehingga apabila pembeli tidak hati-hati maka akan membeli Sarung Samarinda "printing" dengan kualitas rendah yang sebenarnya harganya hanya Rp30 ribu per lembar, namun dibeli Rp300 ribu per lembar. (ABI)

Sumber : www.kompas.com (3 Oktober 2008)
Kredit foto : Tribun Kaltim


Read : 3.605 time(s).

Write your comment !