Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
29 oktober 2008 02:55
Jejak Kerajaan Aru Diperjualbelikan
Medan, Sumatra Utara- Sekali-kali Anda boleh mencoba! Duduk-duduk di sebuah kedai kopi di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. Tak seberapa lama, anak-anak atau warga setempat akan mendatangi Anda. Mereka menawarkan pecahan aneka benda kuno yang ditemukan di sekitar rumahnya.
Benda kuno itu, antara lain, koin uang logam, keramik, dan tembikar. Benda yang berukuran besar tersimpan di rumah. Benda-benda kuno itu dijual kepada siapa saja yang mau membeli. Sasaran yang paling mereka cari adalah kolektor benda antik.
Sudah lama kawasan di utara Medan ini terkenal, terutama di kalangan jaringan kolektor benda antik. Berkali-kali warga menemukan benda kuno secara tidak sengaja. Beberapa temuan penting, di antaranya, telah tersimpan di Museum Negeri Sumatera Utara. Temuan itu di antaranya patung arca Buddha, koin berhuruf China dan Arab, keramik kuno, serta batu bersurat alias nisan.
Sejauh ini tidak terhitung berapa banyak temuan yang lolos dari pantauan juru pelihara sebab juru pelihara di kawasan sejarah ini sudah diberhentikan pemerintah sejak 1980-an.
Salah satu warga setempat, keluarga M Safii (36), secara tidak sengaja berkali-kali mendapatkan barang antik. Temuan itu didapat saat membuat tambak ikan di dekat rumahnya. Barang itu masih tersimpan di rumah dan sebagian sudah terjual ke tangan kolektor. Suatu hari, dia pernah menemukan patung China yang kemudian dijual ke orang yang mengaku petugas pemerintah senilai Rp 400.000.
Tidak tahu
Pada 2006, saat ada proyek pembuatan tanggul pengendalian banjir, warga kembali dikejutkan dengan temuan benda-benda kuno. Temuan secara kebetulan ini tidak pernah dikabarkan pemerintah. Warga pun tidak tahu harus melapor ke mana jika menemukan benda bersejarah seperti itu. Lurah Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Medan, Amirudin memaklumi keputusan warganya. ”Kami tidak tahu kepada siapa kami harus melapor. Tiba-tiba ada beberapa orang datang ingin membeli. Kami tak bisa melarang warga menjual barang temuannya,” kata Amirudin.
Pada 1972, sebuah penelitian sistematis pertama dilakukan EE McKinnon dan T Luckman Sinar. Mereka menggali bukti- bukti keberadaan situs Kota China di daerah Medan Labuhan, Kota Medan. Dari literatur sejarah diduga kuat kawasan ini pernah menjadi pusat Kerajaan Aru yang pernah ada pada abad ke-13 sampai abad ke-16.
Adapun situs ini diduga kuat pernah menjadi pusat perniagaan abad ke-11 hingga ke-14. Peneliti Balai Arkeologi Medan, Ery Sudewo, mengatakan, keberadaan situs ini penting karena menyimpan kekayaan artefak kuno. Artefak yang dia maksud, antara lain, keramik China dari Dinasti Sung hingga Dinasti Yuan, keramik Asia Tenggara daratan (Khmer / Kamboja, Myanmar / Burma, dan Champa / Vietnam).
Di kawasan ini warga kerap menemukan koin-koin China dan Sri Lanka. Penelitian itu, tutur Ery, menemukan bukti adanya aktivitas religi berupa sisa-sisa struktur bangunan bata yang diperkirakan adalah sebuah kuil atau candi. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya empat arca batu berlanggam seni Chola (India Selatan). Arca ini terdiri dari dua arca Buddha, satu arca Wisnu, dan satu arca Lakshmi.
Situs Kota China ini disebut-sebut sebagai salah satu dari tiga situs sejarah yang penting di Sumatera Utara abad ke-12. Dua lainnya terletak di Barus, Tapanuli Tengah, dan Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas. Secara samar, tutur Ery, situs ini sebetulnya telah diketahui keberadaannya oleh John Anderson, seorang agen perdagangan Inggris pada 1823. Dalam bukunya, Mission to the East Coast of Sumatera, dia menyebutkan keberadaan sebongkah batu bersurat.
Penelitian resmi paling anyar dilakukan pada 24 April 2008. Balai Arkeologi bekerja sama dengan EE McKinnon (peneliti National University of Singapore) menggali sebuah daerah yang disebut sebagai Kota Rantang atau Kota Rentang di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.
Kawasan ini sejajar dengan utara Medan. Tempat ini disebut-sebut sebagai salah satu kota pada masa Kerajaan Aru. Pada sebidang lahan di tempat ini bergelimpangan batu nisan bergaya bertuliskan Arab tanpa angka tahun. Di tempat ini pula peneliti menemukan keramik dan gerabah kuno asal China, Myanmar, dan Gresik, Jawa Timur. Sama halnya dengan di Paya Pasir atau di Terjun, warga setempat terbiasa melakukan transaksi jual beli dengan jaringan kolektor benda antik. McKinnon pun datang ke kawasan ini dengan perantara seorang makelar barang antik.
Kemiskinan
Kemiskinan telah memaksa warga di utara Medan menjual aneka benda bersejarah ke tangan kolektor. Warga setempat umumnya bekerja sebagai nelayan kecil. Sebagian yang lain bekerja mengolah daun nipah (Nypa fruticans). Penghasilan dari mencari ikan dan mengolah daun nipah jauh lebih kecil jika dibanding berdagang benda-benda kuno. Praktik ini bertahun-tahun berjalan tanpa tindakan apa pun. Tidak terhitung berapa banyak bukti sejarah yang hilang ke tangan kolektor.
Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari mengatakan, kawasan utara Medan merupakan sejarah peradaban tua. Pemerintah Kota Medan harus mengamankan situs ini dari kerusakan. Dia meyakini di kawasan ini masih menyimpan banyak benda sejarah. Sayangnya, sudah banyak jejak sejarah yang hilang.
Dilihat dari temuan yang ada, kehidupan masa lampau di pesisir utara Medan begitu metropolis. Masyarakatnya mengenal banyak benda kuno dari mancanegara. Cukup beralasan, sebagian sejarawan menyebut kawasan ini sebagai pusat Kerajaan Aru. Kerajaan ini juga dikenal dengan sebutan Haru atau Arrow dari berbagai literatur. Data sejarah menyebut ibu kota kerajaan ini berpindah-pindah. Sejarawan JV Mills menyebut Kota China—yang kini berada di Labuhan Deli, Medan—sebagai pusat Kerajaan Aru.
Utusan Portugis, F Mendes Pinto, menulis pusat Kerajaan Aru ada di tepi Sungai Petani, Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Adapun di buku Pararaton tertulis, Kerajaan Singosari pernah menaklukkan Aru pada 1292 saat Ekspedisi Pamalayu. Begitu pun Majapahit yang pernah menaklukkan Aru pada 1365, seperti tertulis dalam Negarakertagama.
Hingga kini belum ada temuan peninggalan tertulis tentang Kerajaan Aru. Siapakah tokoh intelektualnya dan apa karyanya? Siapa saja mestinya terpanggil menjawab persoalan ini, jika tidak, jejak yang tersisa akan habis tak berbilang. (Andy Riza Hidayat)
Sumber : cetak.kompas.com (28 Oktober 2008) Kredit foto : Kompas (Andy Riza Hidayat)