Friday, 12 June 2026   |   Friday, 26 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 587
aujourd hui : 12.670
Hier : 20.067
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

20 november 2008 06:38

Seminar Internasional Tradisi Lisan di Wakatobi 1-3 Desember

Seminar Internasional Tradisi Lisan di Wakatobi 1-3 Desember
Ketua ATL, Prof. Dr. Pudentia, MPSS

Jakarta- Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, akan menggelar Seminar Internasional VI dan Festival Tradisi Lisan di Wakatobi pada 1-3 Desember mendatang.

Perhelatan ini, menurut Ketua ATL Pudentia MPSS, sebagai upaya untuk menyelamatkan tradisi lisan dari kepunahan. “Tradisi lisan merupakan khazanah budaya bangsa yang harus dilestarikan. Sebab, keberadaannya kini terancam punah,” ujarnya kepada Ade Alawi dari Media Indonesia, Jumat (14/11).

Pudentia mengatakan, tradisi lisan termasuk dalam intangible cultural heritage (ICH). “Sebagai produk kultural, tradisi lisan mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, yang disampaikan melalui tuturan dan sebagiannya, kemudian ada yang diabadikan dalam naskah,” kata Pudentia.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya ini menjelaskan, tradisi bukanlah sesuatu yang statis tanpa perubahan dan perkembangan. “Tradisi selalu mengalami transformasi seiring dengan dinamika sosial masyarakat itu sendiri, baik transformasi isi, bentuk, maupun keduanya dan berganti dengan tradisi yang baru,” ujarnya.

Tradisi lisan, katanya, sering dianggap sekadar dongeng, sehingga seringkali dinilai tidak ada manfaatnya bagi kehidupan sebuah bangsa. “Padahal, dari tradisi lisan kita bisa belajar tentang adat istiadat, kearifan lokal, etos kerja, undang-undang, demokratisasi, dan sebagainya. Ini perlu dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa,” ungkapnya.

Ia tidak memungkiri bila tradisi lisan, perlahan tapi pasti, mulai tergerus. Penyebabnya, arus globalisasi, urbanisasi, migrasi, perubahan lingkungan, industrialisasi, dan regenerasi yang macet. “Mengingat kondisi tersebut, penyelamatan tradisi menurut Konvensi UNESCO 2003 lebih berorientasi pada proses, dan bukan pada hasil,” tuturnya.

Terpilihnya Wakatobi sebagai tempat seminar, kata Pudentia, karena Wakatobi memiliki tradisi lisan yang kuat. Tidak aneh bila tuan rumah mendapatkan kesempatan membedah topik ‘Potensi Tradisi Lisan Wakatobi sebagai Kekuatan Kultural.‘

“Kegiatan ini baru pertama kali di luar ibu kota negara. Pemkab Wakatobi dengan sangat cerdas memanfaatkan event ini untuk go international melalui pendekatan budaya sekaligus peresmian Bandara Wakatobi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemakalah yang akan tampil 40 orang dari dalam dan luar negeri dengan jumlah peserta sekitar 150 orang. “Pemakalah dari luar yang sudah oke, yakni dari Belanda, Malaysia, Brunei dan Singapura,” katanya.

Selain kegiatan seminar dan festival, akan diluncurkan buku-buku terbaru ATL, pameran buku, foto, film, dan produk budaya lainnya.

Sebelumnya, Bupati Wakatobi Hugua menyambut baik hajatan akbar ini. “Ini kesempatan emas bagi Wakatobi untuk mempromosikan diri ke dunia luar. Selain itu, kami pun memiliki kepedulian untuk mengembangkan tradisi lisan yang menjadi salah satu kekayaan kultural daerah kami,” ungkapnya, seraya menambahkan Wakatobi memiliki obyek wisata bawah laut yang sudah terkenal ke mancanegara. (Alw/X-10). Ade Alawi

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/ (20 November 2008)
Kredit foto : koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu


Read : 3.629 time(s).

Write your comment !