Wednesday, 15 April 2026 |Wednesday, 27 Syawal 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.412
aujourd hui
:
24.609
Hier
:
21.376
La semaine dernière,
:
249.242
Le mois dernier
:
101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
16 januari 2009 03:10
Menilik Kembali Pariwisata Berbasis Budaya
Yogyakarta, MelayuOnline.com - DI Yogyakarta, sebagai salah satu tujuan wisata internasional, telah lama mengembangkan konsep Pariwisata Berbasis Budaya. Menilik perkembangan Yogyakarta saat ini, apakah konsep tersebut masih berjalan? Mati suri? Atau perlu ditinjau kembali? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak Dialog Budaya dan Gelar Seni “YogyaSemesta” seri-18, yang diselenggarakan oleh YogyaSemesta, di Bangsal Kepatihan, pada Selasa malam (13/1). Sebanyak tiga narasumber hadir dalam acara yang dipandu oleh Hari Dendi ini, yakni ketua Pusat Studi Pariwisata, UGM Prof. Dr. Ir. Chafid Fandeli, Pemilik Museum Ullen Sentalu, KRT. Thomas Haryonagoro, dan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, SE Akt., MM.
“Sejak dekade 80-an pariwisata Yogyakarta masih terdistorsi oleh pemahaman kuantitatif, di mana perkembangan pariwisata dihitung dari banyaknya jumlah wisatawan. Padahal, untuk mencapai pariwisata berbasis budaya, yang diperlukan adalah konsep wisata yang berkualitas,” papar Chafid Fandeli. Lebih lanjut, Chafid mengatakan bahwa untuk mencapai konsep tersebut, diperlukan pembangunan sumber daya manusia pada masyarakat lokal, sehingga dampak positif dari pariwisata dapat langsung terasa. “Hal ini juga berguna untuk menghindari kebocoran ekonomi ke pihak luar Yogyakarta,” tambahnya.
Sementara itu, KRT. Thomas Haryonagoro menuturkan, museum dapat menjadi salah satu representasi pariwisata berbasis budaya. Hal ini dikarenakan, museum merupakan salah satu media yang melakukan pelestarian sejarah dan budaya. Untuk memaksimalkan fungsi museum tersebut, perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah sangatlah diperlukan.
Pada dialog tersebut Hery Zudianto menuturkan, bahwa Kota Yogyakarta telah melakukan strategi untuk menerapkan konsep pariwisata berbasis budaya. “Untuk mendukung pariwisata berbasis budaya ini, Kota Yogyakarta sendiri akan menampilkan keunikannya yang bersifat budaya,” tutur Hery Zudianto. Salah satunya yang telah terealisasi adalah keberadaan Taman Pintar yang tidak hanya memiliki arena permainan, namun juga mengajak pengunjung untuk mengenal sejarah dan budaya Yogyakarta. “Selain itu, di ruas-ruas jalan juga akan diusahakan untuk menampilkan keunikan Kota Yogyakarta, seperti menggunakan papan nama yang memiliki ukiran-ukiran Jawa,” ujarnya di akhir dialog.