Monday, 20 April 2026   |   Monday, 3 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 535
aujourd hui : 13.359
Hier : 26.672
La semaine dernière, : 249.242
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

30 maret 2009 05:15

Perayaan Qing Ming untuk Arwah Leluhur

Perayaan Qing Ming untuk Arwah Leluhur

Surabaya, Jawa Timur - Meski perayaan Qing Ming baru jatuh pada 5 April mendatang, sebagian warga Tionghoa sudah merayakannya kemarin (29/3). Salah satunya dilakukan keturunan keluarga Han Bwee Koo. Mereka merayakan upacara persembahan untuk arwah para leluhur itu di rumah persembahyangan keluarga Han, Jalan Karet 72, Surabaya.

Robert Rosihan, generasi kesembilan keluarga Han, bersama anak-istri dengan khusyuk melakukan upacara persembahyangan tersebut. Di antara tujuh keturunan keluarga Han, kemarin hanya dua keluarga yang merayakan Qing Ming. Selain keluarga Robert Rosihan, tampak pula keluarga Yohanes Rosihan. Keturunan keluarga Han yang lain kini tinggal di luar negeri atau pindah agama. ``Meski perayaannya baru 5 April nanti, kami boleh merayakannya sekarang, seminggu sebelum hari H atau seminggu sesudah hari H,`` jelas Robert.

Di meja persembahan, berjajar rapi peranti persembahyangan. Asap dupa merebak ke mana-mana. Sejumlah makanan dan benda-benda buatan dari kertas siap dipersembahkan kepada arwah para leluhur. Ada meja utama untuk hio swa (tempat dupa dari kuningan, Red). Dupa yang berada di hio swa merupakan pertanda banyaknya keluarga yang datang dan melakukan persembahyangan. Setiap orang wajib menyalakan dupa dalam jumlah ganjil. ``Biasanya, satu orang tiga dupa. Minimal satu dupa,`` ujar Robert.

Selain dupa, hio swa digunakan untuk meletakkan koin kembar yang dipercaya menjadi penghubung arwah leluhur dengan dunia nyata. Bila dupa sudah terbakar setengahnya, itu pertanda bahwa waktu makan para leluhur dipandang sudah cukup.

Sebelum membakar barang-barang untuk arwah para leluhur, keluarga menanyakan terlebih dahulu kesediaan para leluhur untuk menerimanya. Caranya melempar dua koin. Bila dua koin menunjukkan gambar yang sama, itu pertanda bahwa para leluhur marah dan tidak setuju. Bila dua koin menunjukkan tulisan, tandanya para leluhur menertawakan para pendoa karena mereka belum selesai makan. Bila gambar yang keluar berbeda, itu pertanda bahwa arwah para leluhur setuju diadakan pembakaran sesaji.

Persembahyangan itu juga dilengkapi dengan buah-buahan yang masing-masing memiliki makna. Selain pisang raja, buah yang disarankan adalah apel (kemakmuran), srikaya (kesejahteraan), dan delima (lima penjuru angin). Manggis dan buah-buahan yang sifatnya berada atau di dalam tanah dilarang dipersembahkan karena mempunyai konotasi buruk. Manggis mempunyai makna menangis atau kesedihan. Buah persembahan untuk arwah leluhur harus bersifat kefanaan, tidak boleh berbau bumi yang dilambangkan dengan tanah.

Yang menarik, dalam upacara itu, keluarga wajib membakar barang yang bersifat duniawi untuk dikirim ke akhirat. Barang-barang tersebut berupa uang, baju, makanan kaleng, bir, whisky, minuman ringan, sarang walet, dan mobil. Namun, semua dibuat dari kertas dalam kemasan khusus. Uang yang dipersembahkan adalah jenis tail (mata uang Tiongkok kuno) dan uang kertas. Uang kertas harus dilipat dalam bentuk tertentu agar memiliki nilai lebih di akhirat.

Surat izin jalan, ternyata, juga dibutuhkan para arwah leluhur. Buktinya, Mega Rosihan, istri Robert Rosihan, melipat sejumlah surat jalan. Semakin banyak surat jalan yang dipersembahkan, semakin banyak arwah leluhur yang memberkati. ``Arwah para leluhur perlu izin dari akhirat untuk bisa menghadiri upacara (Qing Ming),`` jelas Mega. (ika/ari)

Sumber: http://www.jawapos.com
Kredit Foto: http://site.xavier.edu


Read : 3.288 time(s).

Write your comment !