Wednesday, 29 April 2026   |   Wednesday, 12 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 3.445
Hier : 22.835
La semaine dernière, : 169.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

01 april 2009 03:15

‘Vox Populi’ Bikin Seniman Malaysia Penasaran

Bantul, Yogyakarta - Pameran ‘Vox Populi’ di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, memang memiliki daya tarik tersendiri, mengundang rasa penasaran sekaligus rasa kagum pada sikap responsif seniman terhadap pesta demokrasi, Pemilu yang sebentar lagi berlangsung. Puluhan seniman dari negara tetangga, Malaysia, juga datang berduyun-duyun.

“Rombongan seniman Malaysia sengaja datang untuk menyaksikan pameran ini. Mereka penasaran betul, bagaimana sikap seniman Indonesia memaknai pesta demokrasi sekarang ini,” kata Adin, pengelola Sangkring Art Space. Dikatakan Adin, pameran ini memang diniatkan sebagai bentuk konkret, yakni protes politik seniman, advokasi publik, partisipasi rakyat madani, ekspresi kebahasaan dalam bentuk tekstualisasi, retorika, dialektika baru.

Pameran yang berlangsung hingga 7 April tersebut menghadirkan karya AS Kurnia, Erik Pauhrizi, Hari Budiono, Hanafi, Ipong Purnama Sidhi, Ivan Hariyanto, Nasirun, Tisna Sanjaya, Wayan Kun Adnyana. “Seniman yang karyanya dihadirkan di sini memang pilihan, dari Jakarta, Bali, Bandung dan Yogyakarta,” kata Tubagus P Svarajati, kurator pameran. Seniman pilihan dari beberapa kota sebagai ‘suara’ representasi memandang pesta demokrasi dan ‘Vox Populi’ (suara rakyat).

Tubagus mengacu pemikiran sejarawan Ong Hok Ham, di Indonesia suksesi kepemerintahan senantiasa berdarah-darah dan penuh goncangan. Mengapa itu terjadi? Suksesi di Indonesia, seperti halnya banyak masyarakat Asia tradisional, yakni kekuasaan lama mengalami disintegrasi (keruntuhan) untuk kemudian mengalami proses konsolidasi kekuatan baru.

Oleh karena itu, kata Tubagus, mencermati pesta demokrasi Pemilu 2009 tentu menjadi sangat perlu, unik dan penting. Seniman Indonesia, bagian dari masyarakatnya, niscaya mampu memberikan kontribusi dengan cara mengamati, mencatat dan ‘mendedahkannya’ dalam bentuk karya seni. “Sudah barang tentu, penting atau tidak merupakan bagian integral dari zamannya,” ucap Tubagus.

Sejumlah karya memang sangat menarik untuk dicermati. Perupa Hanafi dari Jakarta mengusung tema khusus ‘Jangan Pilih Saya!”. pernyataan ini tentu paradoks dengan sikap kritis-skeptis dari realitas yang kebanyakan menginginkan dan membujuk-bujuk, ‘pilih saya’. Karya itu memberikan isyarat, masyarakat yang perlu memiliki sikap cermat, memeriksa para kontestan politik itu, dengan beberapa alternatif, memilih, tidak memilih, bahkan kalau perlu golput.

Nasirun dan Tisna Sanjaya pun ikut bersaksi dan mencatat pengamatannya, baik karakter, visualitas menangkap fenomena keindonesiaan yang jungkir balik. Sedangkan Hari Budiono menghadirkan karya simbolik berjudul ‘Bendara Raden Mas Herjuna Darpito Golput’. Karya berukuran 145 Cm X 145 Cm sudah bisa menerka sendiri, Sultan Hamengku Buwono X melepas dadu dari genggaman tangan. Mari  berspekulasi dan bertarung dalam pemilu 2009, siapakah yang mampu merebut simpati rakyat? (Jay)

Sumber: http://www.kr.co.id/
Kredit Foto: http://fiber-face.blogspot.com


Read : 3.204 time(s).

Write your comment !