Sunday, 19 April 2026 |Sunday, 2 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.761
aujourd hui
:
26.334
Hier
:
25.133
La semaine dernière,
:
249.242
Le mois dernier
:
101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
27 april 2009 03:15
Pemerintah Abaikan Situs Sejarah di Sibolga
Sibolga, Sumut - Kota Medan dan Kota Sibolga merupakan dua kota yang sangat unik dan menarik dibandingkan daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara (Sumut). Pasalnya, kedua daerah ini memiliki ikon/peninggalan-peninggalan sejarah serta memori yang banyak dan sangat perlu untuk dipelihara dan diselamatkan.
Di kota Sibolga ada rumah pahlawan FL Tobing, mesin percetakan uang pada masa revolusi, menara air zaman penjajahan, bangunan-bangunan tua seperti benteng, sekolah, gereja dan rumah serta pelabuhan yang menjadi rebutan Inggris dan Belanda pada abad 16 lalu. Demikian dengan keberadaan pahlawan lainnya seperti Maraden Panggabean selaku pelaku sejarah zaman Jepang.Hanya saja situs itu terkesan diabaikan pemerintah. Kondisi itu memunculkan keprihatinan Ketua Assosiasi Museum Indonesia Sumatera Utara (Ami Sumut), Phil Ikhwan Azhari kepada wartawan saat berada di Sibolga, pekan lalu.
“Seperti bukti Rumah Pahlawan Nasional FL Tobing yang dijadikan menjadi rumah salah satu partai politik (parpol), mesin percetakan uang yang dimanfaatkan pada masa revolusi tetapi dibiarkan begitu saja di rumah salah satu warga. Demikian juga dengan menara air yang berada di kompleks wisata tangga seratus. Pipa-pipa air berukuran besar menara itu terbuang begitu saja dekat bangunan, padahal menara air itu mungkin dibangun pada masa rodi (kerja paksa) yang sama juga dengan objek wisata batu lobang," ujarnya.
Ahli sejarah dari Universitas Negeri Medan (Unimed) ini mengemukakan, jika situs-situs sejarah Sibolga ini dikelola dengan baik melalui pembangunan sebuah museum, tentunya sangat bermanfaat dan membuat kebanggaan tersendiri bagi penduduk kota. Selain dapat menarik wisatawan, situasi daerah terutama dalam kancah perpolitikan bisa terpelihara dengan baik. Para caleg - caleg akan selalu mengingat sejarah demokrasi kota Sibolga yang sudah terbangun dengan baik sejak dulu seperti adanya parlementer Batak.
"Selain itu, tahun depan kurikulum pendidikan Sejarah akan berobah menjadi kurikulum berbasis daerah. Sehingga, anak- anak boleh melihat dan mengetahui apa saja situs-situs sejarah yang ada di daerahnya," tukas Phil. Phil Ikhwan Azhari juga berharap, buku tentang sejarah keberadaan kota Sibolga perlu di tulis dengan benar dan sebaik mungkin. (Tigor Manalu)