Wednesday, 10 June 2026 |Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui
:
2.505
Hier
:
58.870
La semaine dernière,
:
227.151
Le mois dernier
:
9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
29 april 2009 01:15
Menggali Potensi Pelaku Teater Perempuan
Bandar Lampung - Sutradara dan penulis lakon teater perempuan di Indonesia terbilang sangat sedikit. Akan tetapi, kegelisahan untuk menambah jumlah dan meregenerasi sutradara dan penulis lakon lebih banyak muncul dari kelangan pelaku teater sendiri. Sementara peran pemerintah untuk menumbuhkembangkan perteateran sama sekali tidak ada.
Imas Sobariah, Kepala Bidang Operasional Program Kala Sumatera, Gelar Karya Teater Panggung Perempuan se-Sumatera, Selasa (28/4) mengatakan, dalam aktivitas teater, pelaku teater perempuan cenderung lebih banyak mendapat peran kecil, bukan peran besar atau peran kunci. Di antaranya menjadi sutradara atau penulis lakon. Hal tersebut menjadikan jumlah sutradara dan penulis lakon teater di Indonesia amat minim. Hal tersebut memprihatinkan karena pelaku teater perempuan di Indonesia juga memiliki kemampuan dan keahlian yang sama dengan sutradara ataupun penulis lakon teater laki-laki.
Kegelisahan tersebut memunculkan ide bagi para pelaku teater Lampung, khususnya Teater Satu, untuk memelopori penggalian potensi pelaku teater perempuan Indonesia, khususnya Sumatera. Kegiatan penggalian terangkum dalam program Kala Sumatera. Iswadi Pratama, pimpinan umum Teater Satu Lampung sekaligus pemateri pada program Kala Sumatera mengatakan, penggalian potensi pelaku teater perempuan di Sumatera dilakukan melalui diskusi dan pelatihan penyutradaraan dan manajemen pertunjukan pada November 2008. Kegiatan tersebut kemudian diikuti dengan lokakarya penulisan naskah dan penyutradaraan pada Januari 2009. Pada April 2009 ini kita menikmati pertunjukan yang digarap para pelaku teater perempuan Sumatera, ujar Iswadi.
Ags Aryadipayana, pengamat teater Indonesia yang turut mencermati gelar karya teater panggung perempuan se-Sumatera 25-28 April 2009 mengatakan, potensi pelaku teater perempuan di Sumatera luar biasa. Para sutradara dan penulis lakon hasil pelatihan, sebagian besar sudah bisa menangkap aspek dan teknis pemanggungan. "Mereka bisa menghadirkan detil dan sisi artistik dari sebuah pertunjukan," ujar Ags Aryadipayana. Menurut Ags, kalaupun ada pertunjukan yang kurang mengalir, itu lebih karena faktor manajemen pertunjukan dari sutradara.
Namun demikian, Ags Aryadipayana memandang, cara-cara penggalian potensi semacam itu sangat menunjang munculnya sutradara dan penulis naskah perempuan baru di Indonesia. Ia berpandangan, model demikian merupakan model yang bagus untuk menambah jumlah dan meregenerasi pelaku teater perempuan, khususnya sutradara dan penulis lakon.
Yang sangat disayangkan, untuk program semacam itu, pemerintah sama sekali tidak terlibat. Iswadi mengatakan, dari aspek pengembangan sebenarnya pemerintah bisa terlibat melalui kegiatan pelatihan. Pemerintah dengan program-programnya bisa mendatangkan sutradara atau penulis naskah teater ke daerah untuk membagi ilmu kepada pelaku teater. "Hanya saja, kegiatan semacam itu pun tidak pernah terpikirkan pemerintah. Memang kegelisahan untuk regenerasi akhirnya lebih banyak dipikirkan dan dipecahkan para pelaku sendiri," ujar Iswadi. (Helena Fransisca)