Saturday, 13 June 2026 |Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 369
aujourd hui
:
9.270
Hier
:
18.252
La semaine dernière,
:
227.151
Le mois dernier
:
9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
29 april 2009 04:30
Pesta Gendang Nusantara ke-12 di Melaka
Melaka, Malaysia - Reportoar tari Zapin Puan karya Irvansyah/Desi Indriani dan penata musik Datuk Ahmad Fauzi persembahan grup tari Cempaka Deli Medan, memukau ribuan penonton dalam momen "Archipelago Drum Festival Internasional Invitation" dalam Pesta Gendang Nusantara ke-12, di Majelis Bandar Raya Melaka Bersejarah dan Melaka Mall, Malaysia 12-15 April 2009.
Selain Zapin Puan, Cempaka Deli juga menyertakan tari Zapin Menjelang Maghrib karya H Yoserizal Firdaus dengan penata musik Rizaldi Siagian. Kedua sajian itu didukung oleh penari Sujadi, Roy Irawan, Irvansyah, Desi Indriani, Yuliati, Puspitasari, Erliani dan Yunita serta pemusik Dt Ahmad Fauzi (biola), Rubino (gambus), Ahmad Setia (akordion), Sofyan Alamsyah (saksopon), Mahdi (gendang), Zul Alinur (dol), Rois Fauzi (marwas) dan vokalis Sofyan/Eva Gusmalayanti.
Zapin Puan bertutur tentang eksistensi dan marwah perempuan Melayu yang akomodatif terhadap budaya luar, namun tidak melupakan tradisi warisan leluhur. Sedangkan tari Zapin Menjelang Maghrib bercerita tentang aktivitas remaja Melayu menjelang malam, yang diisi dengan kegiatan membersihkan halaman rumah, bersendagurau sesamanya, dan sebagainya.
Penampilan grup tari Cempaka Deli menyajikan dua tarian dengan apik, berhasil mengundang decak kagum dan aplus panjang ribuan penonton seusai pertunjukan. Baik saat digelar di Majelis Bandar Melaka maupun di Melaka Mall. Bahkan, beberapa Negara bagian di Malaysia serta Singapura telah mengundang Cempaka Deli untuk ikut berperan pada acara sejenis yang akan digelar beberapa bulan mendatang.
Pesta Gendang Nusantara 12 tersebut diikuti oleh 28 grup dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura. Korea, Uzbekhistan dan Chekolsovakia. Dari Indonesia diantaranya grup tari Cempaka Deli Medan, juga grup tari dari Provinsi Sumsel, Sumbar dan Aceh.
Grup tari Cempaka Deli sendiri dibentuk beberapa tahun lalu oleh beberapa kalangan muda Melayu dan pencinta Melayu yang secara intelektual mempunyai visi jauh ke depan dalam membangun persaudaraan universal melalui kebudayaan Melayu. Pendirinya antara lain Datuk Ahmad Fauzi, alm. Sirtuyono, Retno Ayumi dan Syahrial Felani.
Keberangkatan Cempaka Deli ke Melaka ini, sangat direspon oleh Gubsu Syamsul Arifin. Bahkan Gubsu juga menitipkan cendera mata untuk Sultan Melaka, yang diserahkan langsung oleh Penasihat/Tim Leader Cempaka Deli, Zaidan BS, kepada Gubernur serta Datuk Bandar Melaka pada acara pembukaan.
Penjaga Warisan Budaya
Sementara itu Zaidan BS, didampingi tim official Tarwiyah Hakim dan Heru Winata menyebutkan perhelatan "Archipelago Drum Festival Internasional Invitation" tersebut, merupakan bagian dari upaya pemerintahan Negara bagian Melaka dalam menjaga warisan budaya di wilayah itu, menyusul ditetapkannya Melaka sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.
Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menjadikan Melaka sebagai pusat budaya dunia, khususnya kebudayaan Melayu. Semua itu, merupakan bukti keseriusan pemerintahan Melaka dalam menjaga warisan budaya yang ada. Termasuk perhatian terhadap situs sejarah dengan memberikan subsidi untuk pemeliharaannya.
Kondisi ini, lanjut Zaidan, sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di Indonesia. Banyak situs-situs sejarah maupun warisan budaya yang dibiarkan lenyap begitu saja. Bahkan juga dilenyapkan secara sistemik tanpa sedikitpun ada upaya pemerintah untuk melindunginya. Kasus terbaru di Sumut misalnya, adalah pembongkaran situs Putri Hijau di Deli Tua oleh swasta, yang hingga kini tidak terlihat ada upaya pemerintah untuk menyelamatkannya. "Pemerintah Indonesia mestinya belajar dari kebijaksanaan pemerintahan Melaka dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya," tegas Zaidan.
Zaidan berharap, kasus pembongkaran situs Putri Hijau di Deli Tua tersebut segera direspon oleh pemerintah. Selain itu, ke depannya tidak akan terulang kasus-kasus semcam ini. Bahkan juga perlunya perhatian lebih besar pemerintah di dalam merawat dan melestarikan warisan budaya yang ada di daerah ini. (global)