Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
23 juli 2007 02:51
Redakan Konflik DCA, Lee Melawat 6 Hari
Agendakan Bertemu Wapres
Jakarta- Di tengah silang pendapat soal Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA), Menteri Mentor Singapura Lee Kuan Yew kemarin tiba di Jakarta. Dia akan memulai lawatan tidak resminya selama enam hari untuk mengikuti sejumlah acara di tanah air.
Hanya, kehadirannya kali ini dipastikan tidak akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebab, pada saat yang bersamaan, SBY dijadwalkan berkunjung ke Korea Selatan. Namun, Rabu mendatang Lee direncanakan bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres.
Mengutip Channel News Asia, bapak pendiri Republik Singapura itu selama di Indonesia akan didampingi istri serta beberapa anggota parlemen dan pejabat senior pemerintah Singapura. Di Jakarta, Lee yang juga ayah PM Singapura Lee Hsien Loong itu akan menyampaikan pidato di Yayasan Indonesia Forum yang mengusung visi Indonesia 2030.
Kunjungan Lee diawali dengan makan malam bersama sejumlah pimpinan media massa di tanah air, termasuk Indo Pos/Jawa Pos, tadi malam. Acara yang digelar di Majapahit Terrace Hotel Grand Hyatt Jakarta itu berlangsung secara khusus dan tertutup. Materi yang dibicarakan juga dinyatakan off the record.
Hari ini dan besok, PM Singapura 1959 hingga 1990 itu dijadwalkan mengikuti kegiatan bersama Citibank. Kegiatan tersebut merupakan acara utama Lee dalam kunjungan ke Jakarta kali ini. Setelah itu, barulah Lee bertemu Kalla pada Rabu mendatang. "Rencananya, Mr Lee akan kembali ke Singapura Jumat depan," ujar Duta Besar Singapura untuk Indonesia Ashok Kumar Mirpuri.
Bagaimana soal kelanjutan DCA? Soal itu, Lee tampaknya juga belum mau bicara. Namun, beberapa waktu lalu dia sempat menyampaikan keprihatinannya atas memanasnya hubungan Indonesia-Singapura akhir-akhir ini. Perasaan tokoh yang sangat dihormati di negeri Singa itu diungkapkan secara khusus kepada dua media paling berpengaruh di sana, yakni The Strait Times dan Berita Harian edisi 1 Juli.
Di kedua harian itu, dia juga sempat menanggapi berita yang dimuat harian ini beberapa waktu lalu terkait masalah DCA. Pernyataan tersebut juga disampaikan kepada Indo Pos/Jawa Pos melalui Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. Dalam tulisan itu, Lee mengaku prihatin terhadap perkembangan hubungan Singapura- Indonesia. Dia menilai, inilah fase terburuk hubungan bilateral setelah dibina selama 20 tahun.
Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA), lanjut mantan PM Singapura itu -yang berkuasa pada 1959-1990-, bisa memberikan manfaat lebih terhadap kekuatan bersenjata kedua negara. Menurut dia, keputusan DPR memperdebatkan isi DCA sama saja dengan langkah mundur jauh ke belakang.
"Selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan Soeharto, Singapura telah menyediakan fasilitas training militer kepada Indonesia. Padahal, isi perjanjian DCA sama dengan perjanjian terdahulu (pada era Soeharto)," kata Lee seperti dikutip The Straits Times.
Sumber : www.jawapos.com Kredit foto : www.payer.de