Wednesday, 10 June 2026   |   Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 1.075
Hier : 58.870
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

28 mei 2009 04:15

Festival Bak Chang Lestarikan Kebudayaan Tionghoa

Festival Bak Chang Lestarikan Kebudayaan Tionghoa

Medan, Sumatra Utara — Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumut/Medan dan kecamatan beserta Ikatan Pemuda (IP) PSMTI Sumut menggelar Festival Bak Chang atau perayaaan Duan Wu Jie, Kamis (28/5). Gelaran kegiatan tersebut guna melestarikan kebudayaan Tionghoa yang secara rutin dan turun temurun dilakukan setiap tahun.

“Perayaan festival Bak Cang kami bagi dua tahap. Tahap I pukul 11.30-13.30 WIB di Kantor PSMTI Jalan Mustafa 56 dan tahap kedua dilakukan malam hari pukul 19.00-22.30 WIB di Sekolah Pasundan Jalan Pasundan 98 Medan,” ungkap Pjs Ketua Umum PSMTI Medan Joko Dharmanadi BSc, Rabu (27/5).

Dijelaskannya, PSMTI memandang perlu mensosialisasikan kebudayaan Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kebudayaan nasional. Dengan adanya gelaran kebudayaan tradisional tersebut diharapkan generasi muda mengenal dan cinta akan kebudayaannya sendiri. “Generasi muda jangan hanya kenal kebudayaan barat seperti Hallowen Day, Valentine Day dan sebagainya,” ucapnya.

Dijelaskannya, perayaan Duan Wu Jie (Festival Bak Cang) adalah memperingati nilai-nilai kepahlawanan/kesatrian seorang sastrawan terkenal Qu Yuan (340 SM - 278 SM) dari negeri Chu. Pada masa itu Duan Wu Jie sangat kecewa pada pemerintahan Chu yang korup, beliau kemudian bunuh diri dengan melompat ke Sungai Mei Luo. Masyarakat sekitar mendengar berita kematiannya berbondong-bondong mencari tubuh Qu Yuan dengan menggunakan perahu panjang dan sempit. Perahu tersebut disebut perahu naga (dragon boat).

Kepala Naga

Sepanjang sungai tersebut, masyarakat berusaha menghalau ikan dengan menabuh genderang serta membentuk haluan perahu menyerupai kepala naga. “Sambil melemparkan makanan yang dikenal zongzi (bak cang) yakni makanan beras ketan yang dicampur dengan beragam sayuran, kacang dan daging, yang kemudian dibungkus daun dan selanjutnya dimasukan ke dalam sungai, guna mencegah ikan memakan tubuh Qu Yuan,” jelas Joko Dharmanadi seraya mengatakan bak cang yang disajikan esok, halal dan netral  berisi daging ayam dan juga vegetarian.

Selain memperingati nilai kepahlawanan Qu Yuan, pada hari yang sama,lanjut Joko dilakukan pembuktian keajaiban alam yang terjadi setiap tahun. Keajaiban alam itu, menurut kalender Imlek, pada bulan ke-5, hari ke-5 tepat pukul 12.00 WIB, kita dapat mendirikan telur dan jarum pentul di atas lantai.

Dia juga berharap kepada masyarakat Tionghoa  Medan sekitarnya dan segala lapisan masyarakat lainnya dipersilakan hadir guna mensukseskan kegiatan tersebut, tanpa dipungut bayaran. “Rangkaian kegiatan itu diantaranya, barongsai, permainan kecapi, magic show, lomba bungkus bak cang rasa ayam dan lomba makan bak cang,” jelas Joko. (twh)

Sumber: http://www.analisadaily.com
Kredit Foto: http://www.usj.com.my


Read : 4.753 time(s).

Write your comment !