Sunday, 19 April 2026   |   Sunday, 2 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 860
Hier : 26.672
La semaine dernière, : 249.242
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

30 juni 2009 03:00

Studi Sejarah Lokal Sulawesi Tengah Belum Banyak

Studi Sejarah Lokal Sulawesi Tengah Belum Banyak

Palu, Sulteng - Studi yang khusus mendalami dan membahas sejarah lokal di Sulawesi Tengah, ternyata belum banyak. Kurangnya studi tersebut ditengarai bukan karena kurangnya minat akademisi sejarah untuk meneliti, namun dituding akibat pemerintah daerah yang kurang perhatian. Termasuk minimnya anggaran dana penelitian untuk studi sejarah lokal. Seperti yang terungkap dalam Sosialisasi Metodologi Penulisan Sejarah, kemarin (29/6).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulteng bekerja sama dengan pusat penelitian sejarag (PusSEJ) Untad itu, terungkap keprihatinan atas kurangnya hasil studi sejarah lokal Sulteng. Akibatnya masyarakat Sulteng justru lebih mengenal sejarah daerah lain, ketimbang sejarah daerah sendiri.

Drs Charles Kapile MHum, salah satu pemateri, mengungkapkan diperlukan komitmen pemerintah daerah terkait studi sejarah lokal. Bukan hanya soal anggaran, namun juga komitmen mencakup sikap untuk tidak mencampuri hasil studi di kemudian hari. Campur tangan pemerintah daerah dalam penelitian dikhawatirkan membuat hasil studi sarat kepentingan politik.

“Penelitian itu berbasis pada hal-hal yang bersifat murni. Sebab itu kita menulis sejarah harus tanpa intervensi politik. Komitmen itu yang seharusnya didorong,” ujar Charles di hadapan puluhan peserta sosialisasi. Besarnya kepentingan politik dalam mengintervensi studi sejarah lokal, juga diamini oleh Ketua PusSEJ Untad, Drs Syakir Mahid MHum. Syakir yang membawakan materi Metodologi Sejarah saat itu, mengungkapkan diperlukan pencerahan bagi semua pihak yang terkait dengan sejarah lokal. Termasuk independensi peneliti harus betul-betul dijaga.

Sebab, menurut interpretasi Syakir, hingga saat ini sifat-sifat kolonial Belanda masih berpengaruh pada keluarga-keluarga besar pemegang sejarah lokal. Syakir, merujuk pada strategi adu domba yang dilakukan Belanda, sehingga terjadi pengkotak-kotakan keluarga bangsawasan lokal. Pengaruh Belanda itu hidup hingga saat ini dan memengaruhi penulisan sejarah lokal yang sesungguhnya. “Jangan harapkan kita bisa maju kalau warisan ini (dari Belanda) dipertahankan,” tegas Syakir.

Akademisi Sejarah lainnya, Drs HM Anas Ibrahim, menuturkan studi sejarah lokal khususnya Kota Palu, belum begitu banyak. Padahal menurut Anas yang menjadi moderator saat itu, studi sejarah lokal di Kabupaten Poso justru lebih banyak dilakukan. Artinya, Anas mengungkapkan perhatian serta komitmen pemerintah daerah menjadi kuncinya.

Perlu diketahui peserta Sosialisasi Metodologi Penulisan Sejarah saat itu didominasi oleh praktisi dan guru sejarah. Sementara itu, menurut Kadisbudpar Sulteng, Drs H Suaib Djafar kegiatan tersebut dilakukan untuk mendorong lahirnya lebih banyak penetilian sejarah. Karena itu menurut Suaib, diperlukan penyamaan persepsi dan penafsiran terkait metodologi penelitian sejarah. (uq)

Sumber: http://www.radarsulteng.com
Kredit Foto: http://mycityblogging.com


Read : 3.492 time(s).

Write your comment !