Wednesday, 13 May 2026 |Wednesday, 26 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.049
aujourd hui
:
21.047
Hier
:
33.274
La semaine dernière,
:
209.627
Le mois dernier
:
15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
04 juli 2009 01:45
Festival Musik Tradisi Anak Tanamkan Jati Diri Bangsa
Jakarta - Untuk mendorong minat anak-anak agar lebih mengenal, memahami, dan menghargai seni musik tradisional pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menyelenggarakan Festival Nasional Kesenian Musik Tradisi Anak-anak 2009. "Mulainya hari ini sampai lusa (2-4 Juli 2009) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)," kata Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Depbudpar Tjetjep Suparman saat ditemui di tengah berlangsungnya festival di GKJ, Kamis (2/7).
Menurut Tjejtjep, festival yang mengangkat tema “Aku Bangga dengan Musik Tradisional Indonesia” juga bertujuan untuk memacu kreativitas seniman, khususnya dalam menciptakan komposisi musik untuk anak-anak. "Selain itu juga dapat mengembangkan pemetaan seni musik tradisional di daerah-daerah sehingga mempeluas pengetahuan budaya bangsa," ungkap Tjetjep.
Di dalam festival ini terdapat 5 Dewan Pengamat dari kalangan pakar musik. Mereka akan menentukan 11 penyaji terbaik tanpa peringkat, 11 pemusik terbaik tanpa peringkat, 11 pemilihan materi musik terbaik tanpa peringkat, dan 3 penata musik terbaik tanpa peringkat dari total 28 peserta dari 28 propinsi. "Ini bukan lomba tapi festival, jadi tidak ada peringkat," katanya. Peserta yang hari ini tampil adalah Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Lampung, Maluku, Sulawesi Barat, Bali, Jambi dan Jawa Barat. Peserta lain akan tampil besok dan lusa.
Lebih jauh, Tjetjep menilai festival yang diikuti pelajar SD dan SMP usia 7-12 tahun ini merupakan salah satu usaha untuk menanamkan jati diri bangsa secara dini. "Selain itu untuk mewartakan seni tradisional yang mempunyai kekuatan untuk mempererat kesatuan bangsa," tuturnya. Apa yang ditampilkan di pada festival ini, menurut Tjetjep akan didaftarkan dan dipatenkan. "Pemerintah bersama kantor-kantor balai penelitian sejarah dan tradisi daerah sudah dan sedang mengumpulkan kesenian daerah yang menjadi unggulan. Jangan sampai diambil negara lain. Ribuan yang belum terdaftar," pungkasnya. (ONE)