Friday, 17 April 2026   |   Friday, 29 Syawal 1447 H
Visiteurs en ligne : 9.027
aujourd hui : 111.582
Hier : 36.578
La semaine dernière, : 249.242
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

31 agustus 2009 01:45

Baju Patima Bermodel Abaya, Mempelai Wanita Harus Khatam Alquran

Menelusuri Pengaruh Budaya Islam Melayu di Lembah Palu
Baju Patima Bermodel Abaya, Mempelai Wanita Harus Khatam Alquran

Palu, Sulteng - Masuknya para mubalig dari daratan Sumatra pada abad ke 17 Masehi ke Lembah Palu tidak hanya membawa ajaran Islam, namun juga membawa pengaruh kebudayaan Islam-Melayu yang kental. Budaya inilah yang kemudian beralkulturasi dan tetap ada hingga saat ini. Salah satu pengaruh budaya Islam-Melayu itu dapat dilihat dari model baju pengantin Kaili di Lembah Palu.

Kehadiran Datokarama dan sejumlah pengikutnya dalam misi mengemban syiar Islam di Lembah Palu membawa begitu banyak pengaruh, termasuk pengaruh kebudayaan Islam-Melayu di tanah Kaili. Pengaruh tersebut bisa dilihat dari model pakaian pengantin etnis Kaili, terutama yang bermukim di Lembah Palu. Pakaian pengantin etnis Kaili, khususnya bagi mempelai perempuan, dikenal ada dua macam yakni baju Patima dan baju Bora. Keduanya bukanlah pakaian asli etnis Kaili namun sudah merupakan hasil dari asimilasi budaya Kaili dan Islam-Melayu, sehingga kedua baju tersebut ditenggarai lahir di tengah masyarakat saat Islam pertama kali masuk ke Lembah Palu pada abad ke 17 Masehi.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah (DKST), Dra Injte Mawar Lasasi, baju Patima diambil dari kata Fatimah, yang merupakan nama anak perempuan Rasulullah Muhammad SAW. Baju Patima merupakan baju panjang dengan model lurus hingga mata kaki. Potongan baju Patima ini bermodel seperti abaya dengan celana panjang di dalamnya. “Untuk menjaga aurat tetap tertutup, maka mempelai wanita dipakaikan lagi celana panjang di balik baju Patima. Tapi karena ini baju pengantin, maka di ujung masing-masing celana panjang diberi hiasan manik-manik,” ujar Intje Mawar.

Dia lantas mengungkapkan, sebelum Islam masuk ke Lembah Palu, baju Patima tidak dikenal oleh masyarakat Kaili tempo dulu. Begitu juga dengan prosesi khatam Alquran yang harus dijalani oleh mempelai wanita pada malam hari, sebelum akad nikah dilakukan keesokan harinya. Sebaliknya, saat Islam masuk baju Patima merupakan baju pengantin bagi mempelai wanita Kaili dan khatam Alquran menjadi prosesi sebuah dalam pernikahan.

Soal baju Bora yang merupakan pilihan baju pengantin Kaili lainnya, Intje Mawar menolak anggapan bahwa baju ini berkaitan dengan Boraq, yakni sesuatu yang berkaitan dengan perjalanan Israj Miraj Rasulullah. Apalagi berhubungan dengan daerah Bora, yang berada di Kabupaten Sigi, meski Injte Mawar mengaku baju Bora juga memiliki hubungan dengan masuknya Islam, khususnya pengaruh budaya Melayu. Intje Mawar menjelaskan, baju Bora terdiri dari baju atasan yang mirip dengan kebaya berlengan panjang dan bawahan yang merupakan rok panjang. Sehingga berbeda dengan Baju Patima yang bermodel terusan panjang dan memakai celana panjang di dalamnya.

Selain itu, baju Bora dalam pemakaiannya menggunakan mahkota dan kerudung yang dibentuk menjuntai seperti seloyor. Penggunaan mahkota dan model baju Bora seperti itu mirip dengan baju pengantin mempelai wanita di Malaysia, sehingga Intje Mawar meyakini bahwa kuat dugaan, baju Bora memiliki hubungan dengan kebudayaan Melayu yang dibawa saat Islam masuk ke Lembah Palu. “Saya pernah melihat baju yang sama (baju Bora) dipakai oleh istri mantan Perdana Menteri Mahatir Muhammad saat menikah. Sama juga seperti saat Manohara menikah sama Pangeran Kelantan, dia juga pakai mahkota. Lebih kurang seperti itu,” tambah Intje Mawar.

Selain mempengaruhi cara pakaian mempelai wanita Kaili, budaya Islam-Melayu juga turut berpengaruh terhadap model celana mempelai pria. Dahulu, celana mempelai pria menggunakan celana selutut yang dinamai dengan sebutan Puruka Pajama, namun kemudian berubah model menjadi panjang hingga mata kaki. Perubahan model celana itu, menurut Intje Mawar, juga diperkuat dengan masuknya penjajah Belanda ke Lembah Palu. (nursoima)

Sumber: http://www.radarsulteng.com
Photo: http://nemupalu.blogspot.com


Read : 5.207 time(s).

Write your comment !