Wednesday, 15 July 2026   |   Wednesday, 29 Muharam 1448 H
Visiteurs en ligne : 984
aujourd hui : 17.048
Hier : 32.207
La semaine dernière, : 209.046
Le mois dernier : 7.211.288
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

09 agustus 2007 07:01

Bangunan Terminal Bandara Bone Bergaya Bugis

Bangunan Terminal Bandara Bone Bergaya Bugis

Watampone- Bandara Bone diperkirakan mulai beroperasi tahun 2009 setelah proyek tahap II selesai dengan status bandara perintis. Pengoperasian bandara pertama kali menguji coba pendaratan pesawat jenis Cassa.

Sementara, pada tahap II, mulai tahun 2008, pelaksana proyek segera mempersiapkan lahan pembangunan bandara, berupa landasan pacu (runway) sepanjang 1.000 meter, berikut taxi way dan apron bandara.

Pelaksana proyek, PT Republika Nusantara Permai, yang memenangkan tender bandara itu, juga segera membangun terminal penumpang di sisi selatan landasan pacu. Khusus gedung terminal penumpang ini, pemerintah mengupayakan akan dirancang dengan gaya bangunan bugis.

"Kita tidak akan mengacu ke bandara mana yang akan ditiru. Diharapkan, gedung terminal itu dibangun dengan gaya bugis. Sementara ini, pemerintah pusat sudah mengucurkan dana Rp 9,9 miliar untuk mengawali pembangunan ini berupa persiapan lahan," kata Kepala Dinas Perhubungan Sulsel, Saggaf Saleh, Rabu (8/8).

Hal senada juga diungkapkan penanggung jawab pembangunan bandara, Syamsul Bandri, dalam pemaparannya di depan Gubernur Sulsel Amin Syam, pada peletakan baru pertama bandara yang berlokasi di Desa Mappalo Ulaweng, Kecamatan Awangpone, kemarin.

Lokasi bandara terletak sekitar 155 kilometer arah timur Makassar atau 10 kilometer dari Kota Watampone, ibu kota Kabupaten Bone. Gubernur dalam peletakan batu pertama kemarin didampingi Bupati AM Idris Galigo, anggota DPRD, dan sejumlah pejabat terkait.

"Tahun 2008, biayanya belum dihitung dan kami akan membahas dalam rapat teknis di pusat. Yang jelas, total dana hingga tahap III bisa mencapai Rp 51,6 miliar. Bahkan, bisa mencapai Rp 107 miliar, tergantung bagaimana pengembangan bandara. Pengembangan bandara juga tergantung animo penumpang," kata Syamsul, usai acara itu.

Menurutnya, total dana yang akan digunakan dalam megaproyek bandara dan sejumlah sarana pendukungnya diharapkan dari dana sharing antara pemerintah pusat dan daerah.

"Pada tahap operasionalnya nanti pemerintah pusat masih akan memberi subsidi karena bandara ini masih belum berstatus komersil, masih perintis. Kalau sudah berstatus komersil, pengembangannya akan terus dilakukan," katanya.

Gubernur dalam sambutannya meminta kepada PT Republika sebagai pelaksana proyek agar menyelesaikan pembangunan bandara sesuai jadwal yang ditentukan. Dia juga berharap agar pelaksana mempekerjakan 70 persen buruh lokal dalam proyek ini.

Harga Lahan Naik 20 Kali Lipat, Kepala Dinas Perhubungan Sulsel, Saggaf Saleh, kepada Tribun, Rabu (8/8), mengungkapkan, keberadaan bandara di Desa Mappalo Ulaweng, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, diyakini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

"Masyarakat di sana nanti sudah pasti banyak yang membuka lahan bisnis. Mereka bisa membangun penginapan, toko, dan sejumlah lahan bisnis yang menguntungkan mereka. Sektor perparkiran juga akan menambah pendapatan daerah," katanya.

Pertumbuhan ekonomi yang pertama kali akan sangat menonjol, yakni harga tanah yang diperkirakan naik 10-20 kali lipat. Kenaikan harga tanah ini, lanjut dia, juga menandakan bahwa perekonomian masyarakat setempat mulai meningkat drastis.

"Seperti contoh di Bandara Hasanuddin. Dulu, sekitar tahun 2001, sebelum pengembangan bandara, harga di sekitarnya itu masih sekitar Rp 12.000 per meter. Bayangkan, sekarang harga tanah sudah mencapai Rp 215.000 per meter, tidak tahu lagi berapa persen naiknya, yang jelas sudah sampai 20 kali lipat," tandasnya.

Sumber : www.tribun-timur.com
Kredit foto : www.bone.go.id


Read : 3.716 time(s).

Write your comment !