Sunday, 26 April 2026   |   Sunday, 9 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 3.936
Hier : 25.493
La semaine dernière, : 7.342.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



02 februari 2010 00:07

120 Jam di Belantara Bukit Barisan

120 Jam di Belantara Bukit Barisan

Judul Buku
:
120 Jam di Belantara Bukit Barisan
Penulis
:
Abel Tasman
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
Ketiga, 1999
Tebal
:
99 halaman
 

Buku kecil ini adalah novel yang mengisahkan tentang petualangan tiga orang anak remaja kampung yang tinggal di dekat hutan Propinsi Riau. Pada awalnya ketiga sahabat yang bernama nawas, Asan dan Giman ini masuk ke hutan dengan tujuan untuk mencari burung dengan alat ketapel. Namun karena mereka masuk hutan terlalu dalam, akhirnya mereka terjebak dan bertemu dengan para pemburu lain yang bersejatakan senapan. Kisah menjadi menarik dan menemukan maksudnya ketika tiga sahabat tersebut berusaha melarikan diri dari para pemburu yang bersenjatakan senapan itu.

Di saat anak-anak remaja kota sekarang banyak yang terjebak dalam aktivitas-aktivitas yang memprihatinkan dan berbahaya bagi masa depannya, seperti ikut dalam geng motor yang merusak, geng remaja yang berkelahi dengan geng lain, penyalahgunaan narkoba, menggunakan situs-situs yang tidak sesuai dengan umur dan kemampuannya, serta nongkrong-nongkrong yang tidak jelas arahnya, maka persahabatan ala anak kampung yang suka mandi di kali, mencari burung dengan ketapel di hutan, atau mandi air hujan sambil bertelanjang kaki sungguh merupakan kehidupan kampung yang mengasyikkan. Bagaimanapun, kampung dan anak-anaknya adalah sebuah eksotisme tersendiri yang tidak dipunyai orang kota.

Akan tetapi sungguh sangat disayangkan, ketika tayangan televisi dan benda-benda seperti telpon genggam dan kata-kata “kuno” menyerbu kampung-kampung, sementara banyak anak-anak kampung tidak memiliki daya kritis, maka persahabatan ala anak-anak remaja kampung itu menjadi hilang. Ketika jalanan kampung tidak lagi tanah namun berubah menjadi aspal atau semen, anak-anak berganti mainan dengan kebut-kebutan motor. 

Di kampung saat ini jarang lagi ditemukan anak-anak remaja yang bermain gasing, bermain sembunyi-sembunyian, berkemah di tengah gelapnya malam, atau pergi ke masjid dan pulang hingga larut malam. Anak-anak remaja kampung sekarang sudah mulai takut dengan gelap, padahal dahulu mereka sering bermain sembunyi-sembunyian hingga masuk areal kuburan. Ketapel yang dahulu sering bergelantung di leher mereka sekarang berganti dengan telpon genggam dengan tali yang warna-warni.

Ya, pembangunan dan kemajuan memang keniscayaan, sebanding dengan keniscayaan hilangnya nilai-nilai kampung yang asri dan damai. Apa yang ditulis oleh Abel Tasman dalam novel kecil 120 Jam di Belantar Bukit Barisan tampak merupakan sebuah kerinduan penulis akan kehidupan kampung itu. Hutan Riau yang dahulu masih asri dan lebat dengan kayu-kayunya yang besar menjadikan Riau sebagai daerah yang kaya oksigen dan indah.

Kala itu, persahabatan anak-anak remaja kampung masih sangat mengasyikkan. Anak-anak remaja kampung masih mudah dan aman keluar masuk hutan. Tidak ada rasa takut pada diri mereka hingga berani masuk sampai ke pedalaman hutan. Namun ketika hutan Riau banyak dijarah oleh para cukong kayu dan para pengusaha yang katanya memiliki surat izin atau Hak Penguasaan Hutan (HPH), maka tidak ada lagi ruang bagi anak-anak remaja kampung untuk bermain.

Walaupun ditulis dengan gaya cerita petualangan anak-anak, novel kecil ini sebenarnya merupakan kritik terhadap pemerintah daerah dan pemerintah pusat atas kebijakan mereka dalam memberikan izin HPH kepada pengusaha. Pengusaha itu ternyata hanya mementingkan keuntungan bisnisnya saja, tanpa memperhitungkan efek negatif terhadap masyarakat sekitar hutan. Saat ini berita tentang banjir dan tanah longsor akibat hutan Riau yang gundul bukanlah hal baru dan mengejutkan. Masalah ini sebenarnya sudah disadari oleh masyarakat Riau, akan tetapi sepertinya penguasa pusat dan daerah memiliki kepentingan bisnis dan politik yang sama sehingga hutan semakin gundul.

Selain banjir dan longsor, Riau saat ini juga dikenal dengan penghasil asap akibat pembukaan lahan oleh pengusaha kelapa sawit. Asap bahkan sampai ke negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Namun sayangnya lagi, tampaknya penguasa hanya menganggap masalah ini sepele, sehingga masalah ini terus berulang dari tahun ke tahun.

Sebagai sebuah novel, buku ini tidak ditulis dengan runtut hingga membentuk sebuah tema yang lengkap, misalnya dengan memaparkan lebih dahulu keadaan hutan Riau. Selain itu, juga tidak dituliskan tentang latar belakang si Asan, Nawas, dan Giman, yaitu tiga sahabat yang berpetualang masuk hutan. Kekurangan ini menyulitkan pembaca dalam melihat permasalahan secara utuh.

Yusuf Efendi

Read : 3.189 time(s).