Tuesday, 28 April 2026   |   Tuesday, 11 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 3.032
Hier : 25.766
La semaine dernière, : 7.342.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



30 mei 2011 00:07

Minangkabau

Minangkabau
Judul Buku
:
Minangkabau
Penulis
:

Darman Moenir, dkk.

Penerbit:
Yayasan Gebu Minang, Jakarta
Cetakan
:
Januari, 1993
Tebal:
240 halaman
Ukuran:24,5 x 34 cm
            

Christin Dobin (1784-1847), seorang peneliti Barat dalam bukunya Islamic Revivalism in A Changing Peasant Economy Central Sumatera 1784-1847 menggambarkan Minangkabau dengan indah. “Pada ketinggian 3.000 kaki di atas permukaan laut, terletak lembah Agam di kaki gunung Singgalang, sebuah gunung berapi yang menjulang dengan ketinggian 9.400 kaki, letaknya hampir di Kathulistiwa. Di Tenggara lembah Agam terletak lembah Tanah Datar. Keduanya dipisahkan oleh kerucut puncak gunung Merapi, yang tingginya 9.500 kaki dan merupakan titik yang paling anggun dalam pemandangan Minangkabau,” demikian tulis Dobin.

Apa yang digambarkan Dobin di atas menjadi sebuah imajinasi bagi Anda untuk mengenal Minangkabau lebih jauh. Jika Anda belum berkesempatan mengunjungi Minangkabau, buku di depan Anda ini bisa menjadi informasi penting untuk mengenal ranah Minang beserta pernak-perniknya. Buku berjudul Minangkabau ini tampaknya sengaja ditulis untuk memenuhi kebutuhan para pelancong, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang ingin mengenal ranah Minang lebih dekat. Bagi Anda peminat kajian budaya Melayu, Anda perlu membaca buku ini karena buku ini menghadirkan beragam informasi tentang ranah Minangkabau, seperti sejarah manusia Minangkabau dan peninggalannya (h. 15-37), ajaran budi pekerti Minangkabau (h. 39-43), alam dan manusia Minangkabau (h. 51-62), sejarah pendidikan Minangkabau (h. 63-84), serta seni dan kebudayaan Minangkabau (h. 90-122).

Buku ini cukup istimewa karena meskipun terhitung buku lama, namun cukup eksklusif karena dicetak dengan kertas yang tebal dan cover yang indah bergambar rumah adat Minangkabau. Ditambah dengan ulasan yang singkat, padat, dan komunikatif, buku ini enak dibaca karena dilengkapi dengan foto-foto yang indah dan penting untuk dicermati, karena sebagian foto tampak foto klasik masa lalu hasil jepretan fotografer handal seperti Alain Compost, Gino Franki Hadi, dan Ed Zoelverdi. Bagi Anda pecinta foto, penting juga membaca buku ini sebagai referensi fotografi. Satu hal yang menjadi sedikit kelemahan dalam buku adalah tidak adanya daftar isi yang tentu saja hal ini menyulitkan pembaca jika ingin membaca langsung pada pembahasan tertentu.

Jejak Pendidikan di Ranah Minang

Ranah Minang telah menghasilkan banyak tokoh bangsa. Mereka adalah kaum terdidik yang mengabdikan hidup dan pengetahuannya demi kemajuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tersebutlah nama-nama seperti Sutan Sjahrir (1909-1966), Mohammad Hatta (1902-1980), Haji Agus Salim (1884-1954), Ibrahim Datuk Tan Malaka (1897-1949), Mohammad Natsir (1908-1993), Muhammad Yamin (1903-1962), dan masih banyak lagi. Tradisi pendidikan telah lama ada di ranah Minang. Jauh sebelum Indonesia merdeka, berbagai lembaga pendidikan tradisional telah berdiri di Minangkabau. Sekolah Islam dalam bentuk pesantren, surau tempat mengaji, atau kursus-kursus keterampilan kerajinan Minang sudah ada untuk mendidik generasi muda Minang. Pendidikan menjadi identitas orang Minang sejak dulu. Dalam ungkapan adat Minangkabau disebutkan elok negeri karena penghulu, elok tepian karena anak muda. Ungkapan ini mengajarkan: “kemajuan dari sebuah negeri diharapkan dari pundak generasi mudanya”.

Orang Minang memasukkan ajaran budi pekerti dalam untaian ungkapan-ungkapan adat yang indah didengar dan tidak menggurui. Sebuah ungkapan Melayu menyebutkan: manusia tahan kias, binatang tahan pukul. Ungkapan ini bermakna bahwa anak muda harus memiliki keluhuran budi terhadap empat kata (kato nan ampek), yaitu kata mendaki kepada orangtua, kata menurun kepada yang muda, kata mendatar kepada teman sebaya, dan kata melereng kepada ipar atau besan (h. 84). Dengan demikian, perpaduan antara pendidikan dan ajaran budi pekerti menjadi kekuatan kebudayaan Minang. Buku ini menghadirkannya lengkap dengan foto-foto yang indah dan artistik sehingga semakin mudah dipahami.

(Yusuf Efendi/Res/69/05-2011)

Read : 3.317 time(s).