Home »
Book Review » Becerite dan Bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas
24 agustus 2011 07:07
Becerite dan Bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas
Judul Buku
| : | Becerite dan Bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas |
Penulis
| : | Chairil Effendy |
| Editor | : | AR Muzammil |
| Penerbit | :
| STAIN Pontianak Press, Pontianak |
Cetakan
| :
| Pertama, September 2006 |
Tebal
| :
| xiv + 160 halaman |
Ukuran
| :
| 15 x 20,8 cm
|
Tradisi kebudayaan orang Sambas di Kalimantan Barat, khususnya sastra lisan, belum banyak dikenal orang. Padahal, tradisi sastra lisan Sambas tidak kalah dari tradisi daerah Melayu lainnya, misalnya Riau atau Aceh. Kurang dikenalnya sastra Sambas itu tidak lepas dari kurangnya perhatian masyarakat Sambas sendiri terhadap budaya bercerita dari nenek moyang mereka. Cerita sehari-hari itu masih dianggap sebagai cerita biasa dan tidak alihgenerasikan.
Salah satu sastra lisan yang masih diingat hingga kini, khususnya di kalangan orang-orangtua di pedalaman Sambas, adalah tradisi sastra lisan yang biasa disebut dengan istilah becerite dan bedande. Keduanya berisi tentang ajaran, doa, mantra, dan petuah leluhur. Berkat ketekunan dan kerja keras Chairil Effendy, pengetahuan tentang kebudayaan Sambas dalam becerite dan bedande kini dapat dibaca lagi. Sebagai putra asli Sambas, Chairil tergerak untuk melestarikan tradisi becerite dan bedande dengan meneliti lalu menulisnya dalam sebuah buku.
Buku berjudul “Becerite dan bedande: Tradisi Kesastraan Melayu Sambas” ini merupakan hasil kumpulan tulisan Chairil yang memang sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra dan Budaya UGM fokus meneliti tentang tradisi sastra lisan, khususnya pada masyarakat Melayu Sambas. Secara komunikatif, buku ini umumnya ditulis dari sisi pelaku becerite dan bedande sendiri. Hal ini tentu saja menarik karena pembaca dapat melihat pendapat pelaku becerite dan bedande tentang apa saja yang mereka lakukan.
Buku ini dibagi dalam IV bab. Pada Bab I, penulis mengkaji sastra lisan sebagai seni pertunjukan dan konsep kebudayaan (h. 1-13). Bab II membincangkan tentang berbagai bentuk aktivitas kesastraan (h. 15-25). Bab III mengulas tentang asal-usul, jenis, proses kemunculan, dan contoh teks becerite dan bedande yang lazim dilantunkan oleh orang- Melayu Sambas (h. 29-81). Bab IV merupakan menyimpulkan tradisi becerite dan bedande (h. 91).
Pada akhir buku, penulis melampirkan beberapa teks sastra lisan Sambas seperti, Si Miskin dan Firman Tuhan, Si Miskin dengan Anaknya, atau Raja Alam (h.101-121). Teks-teks ini dilampirkan dengan tujuan agar pembaca dapat membaca dan menganalisisnya sendiri. Bagi Anda pecinta kajian sastra Melayu, buku ini menjadi bahan yang cukup menarik untuk diteliti.
Becerite dan bedande dalam konsep orang Melayu Sambas mencerminkan pandangan tentang tradisi lisan yang serupa tapi tak sama. Becerite artinya bercerita dengan apa adanya. Sementara bedande adalah bercerita sambil didendangkan. Istilah bedande bisa jadi menurunkan kata “berdendang” dalam bahasa Melayu. Dalam “pendendangan” (baca: dilagukan) ini, bisa dilakukan sendiri (bedande tunggal murni) dan bisa juga dilakukan dengan iringan musik atau tari (h.45-50). Dua jenis tradisi lisan ini merupakan wujud kreativitas budaya orang Melayu Sambas pada gaya bercerita yang unik dan tidak menjenuhkan.
Pelantun becerita disebut pencerite, sedangkan pendendang bedande disebut pedande. Istilah pedande ini mengingatkan pada pemimpin upacara umat Hindu yang juga disebut bedande. Seorang pedande oleh orang Sambas juga didudukkan dalam posisi sakral. Bagi mereka, cerita adalah sekaligus doa dan tidak sedikit dari apa yang diceritakan menjadi kenyataan.
Kemiripan ini bisa jadi dapat dirunut dari isi dari teks bedande yang umumnya juga berupa mantra-mantra dan doa. Kemiripan ini juga bisa disebabkan oleh heterogenitas orang Melayu Sambas yang berasal dari beragam suku, budaya, dan agama atau kepercayaan, termasuk Hindu dan Buddha. Kemiripan kata dan istilah ini menjadi bukti bahwa keberagaman telah ada di masyarakat Sambas sejak lama. Mereka telah lama hidup dengan perbedaan dan mereka menikmati itu hingga kini. Saat zaman modern di mana kepentingan hidup manusia juga berkembang, keragaman budaya juga tercermin dalam tema-tema becerite dan bedande. Dengan adanya benang merah ini, buku ini semakin menarik untuk dibaca.
(Yusuf Efendi/Res/78/08-2011) Read : 3.534 time(s).