Tuesday, 28 April 2026   |   Tuesday, 11 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 4.385
Hier : 25.766
La semaine dernière, : 7.342.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



20 april 2015 07:07

Mengutip Manik Waktu Yang Masih Tersisa

Judul Buku
:
Mengutip Manik Waktu Yang Masih Tersisa
Penulis
:
Mahaya Mohd. Yassin
Penerbit:
Dewan Bahasa dan Pustaka
Cetakan
:
Pertama, 2007
Tebal
:

x + 120 Halaman

Ukuran
:
14 X 21,5 cm 
Karya tulis Mahaya ini merupakan kumpulan puisi yang diciptakan ketika melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan dalam kondisi dan kesempatan yang berbeda-beda. Seperti halnya puisi yang berjudul Tangkuban Perahu, puisi tersebut dibuat ketika Mahaya melihat hal-hal dikawasan seputaran objek wisata Gunung Tangkuban perahu. “Anak kerdil itu, mengheret nasibnya, dari denai ke gerai, dengan sisir panjang kusam di tangan. Di luar kawasan kawah, dipenggal kudratnya, untuk secicip air, seperti semalam, nasibnya cair. Seperti perahu itu, sesekali meraung, menyanggah untung, anak itu, merawat nasib terpengap, tersandung. Bandung, Indonesia, 20 Oktober 1994.” (h.5.)

Secara implisit puisi-puisi pada buku ini seolah-olah ingin menyampaikan kepada pembaca mengenai kenyataan yang terdapat di depan mata yang meliputi berbagai aspek, baik mengenai kehidupan, keindahan alam, pesan, kesan, pengalaman, harapan dan lain sebagainnya.

Puisi pada buku ini juga menjadi salah satu cara Mahaya untuk mengungkapkan isi hati maupun perasaan yang kemungkinan sulit untuk diungkapan. Seperti puisi yang berjudul “Bagai Bintang Mengerlip” Puisi ini merupakan dedikasi kepada Dato’ Asiah Abu Samah. “Sesungguhnya, bakat kepimpinanmu, yang bersemi sejak semula, tergilap dengan cahaya minda dan wibawa, menyerlahkan ketokohan seorang wanita, menerobos tradisi monopoli insane lelaki. Dalam santun bicaramu tersusun, dalam sopan kemajuanmu diteladani, lelaki dan wanita segandingan, salain melengkapi tanggung jawab dan peranan. Semaraklah alam pendidikan, memantapkan kejayaan wawasan. Pada kaummu, agamamu, bangsamu, dan negaramu, dikaulah Ratu Guru Berilmu, bagai bintang mengerdip, zaman-berzaman di dada langit. Kamilah pekongsi paling ghairah, tercabar dan tergugah, penerus langkah tanpa lelah, demi pengisi sebuah tuntutan, karena dikaulah perintis keharuman.” (h.1). Puisi ini jelas menerangkan kekaguman Mahaya kepada Dato’ Asiah yang dianggap sebagai tokoh emansipasi wanita pekerja keras dan menunjukkan ketokohan seorang wanita yang mampu disejajarkan dengan pria.

Buku kumpulan puisi ini berisi puisi-puisi yang menggunakan bahasa penuh makna. Selain itu puisi-puisi tersebut juga ada yang dibuat berupa gurindam atau puisi lama yang menggunakan kata berakhiran sama. Tentunya harapan dengan diterbitkannya buku ini dapat menjadi pengetahuan dan pembelajaran bagi pembaca. (OS Koto/Res/10/04-2015).

Read : 1.023 time(s).