Tuesday, 28 April 2026   |   Tuesday, 11 Dzulqaidah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 4.372
Hier : 25.766
La semaine dernière, : 7.342.256
Le mois dernier : 101.098.282
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



20 april 2015 07:07

Melayu nan Serumpun

Judul Buku
:
Alam Melayu: Sejumlah Gagasan Menjemput Keagungan
Penulis
:
Elmustian Rahman, dkk.
Penerbit:
UNRI Press
Cetakan
:
2003
Tebal
:

xii + 320 halaman

Ukuran
:
24,3 × 16 cm 

Buku yang terdiri dari berbagai artikel oleh berbagai penulis ini seakan menyiratkan dinamika budaya Melayu dari awal perkembangannya hingga kondisi terkini. Tema utama yang diangkat oleh buku ini adalah sejarah dan budaya Melayu dalam konteks keserumpunan. Sejarah, adat, dan budaya dalam konteks kemelayuan ini ialah merangkul kembali puak-puak Melayu yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Riau yang menjadi salah satu pusat budaya Melayu di Asia Tenggara turut diketengahkan sebagai bahan kajian dan perbandingan dalam membahas kebudayaan Melayu. Melayu dalam keserumpunan mempunyai tujuan baik dan bermanfaat yaitu menjalin ikatan silaturahmi dan membentuk kekuatan yang menjadikan budaya Melayu tak lekang oleh masa yang silih berganti.

Budaya Melayu menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa fase sejarah, namun dalam buku ini berbagai tantangan dan pengaruh sejarah budaya Melayu itu turut menguatkan dan mengekalkan budayanya serta turut pula memperkaya khazanah Melayu. Sebagaimana dalam salah satu artikel yang ditulis oleh Bazrul bin Bahaman. Beliau menjelaskan bahwa sebelum kedatangan Islam, budaya Melayu adalah budaya yang berdasarkan budaya Hindhu-Budha. Pada sejarahnya, terdapat kerajaan-kerajaan Melayu yang eksis pada masa tersebut, misalnya kerajaan Sriwijaya, Malayu, dan Melaka.

Bazrul pun menjelaskan bahwa kedatangan para ulama dari Parsi, India, dan Arab mengembangkan agama Islam di istana. Apabila pihak istana kerajaan menerima Islam, maka akan diikuti oleh rakyatnya. Menurutnya,  proses penerimaan dan pengamalan nilai-nilai Islam inilah yang melahirkan budaya Melayu baru, budaya Melayu yang kita dapati sekarang. Sebagaimana yang terdapat pada ungkapan budaya Melayu, “sekali air bah, sekali tepian berubah”, budaya Melayu “kini” banyak berteraskan pada tauhid Islam. Hal ini kemudian mengubah pemikiran mereka lebih rasional, sehingga mereka tidak lagi begitu mempercayai unsur-unsur animisme, dinamisme, ataupun mitos.

Sejarah kebudayaan Melayu pun membuktikan bahwa pernah ada berdirinya kerajaan-kerajaan Melayu Islam, seperti kerajaan Melaka. Pada masa kerajaan itu pula, budaya Melayu Islam semakin kukuh. Ketika kedatangan bangsa Eropa yaitu Portugis dan menguasai wilayah Melaka, Melayu Islam  dapat membentengi dari pengaruh misionaris Portugis. Pernyataan dari Bazrul pun ditambah oleh Husni Thamrin bahwa Islam telah mengikis kebudayaan kuna (animis), sikap Islam yang membangun dengan menghapus segala jenis kebudayaan yang bertentangan dengan aqidah dan ibadah Islam.

Berikutnya, Melayu dalam konteks keserumpunan ini terdapat produk kebudayaan yang menjadi ciri identitasnya yaitu pantun. Dalam pemaparan Maman S. Mahayana, pantun dalam budaya Melayu sangat menarik perhatian para peneliti untuk mengkajinya dan memiliki cara pandang sendiri-sendiri dalam memandang makna dan misteri dalam pantun itu. Boleh dibilang bahwa pantun itu merupakan representasi budaya Melayu.

Masih dalam keserumpunan Melayu, M. Usoff J. Cutillan juga menulis mengenai keberadaan orang Melayu Inggris. Penulis yang juga menjadi bagian dari komunitas Melayu Inggris menjelaskan bahwa orang Melayu yang menetap di Inggris ini berasal dari Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Singapura. Kegiatan-kegiatan budaya masih tetap dipertahankan oleh orang Melayu Inggris dari generasi ke generasi.

Satu hal yang menarik ada dalam tulisan Sudarno Mahyudin, yaitu tentang budaya dan etos berpikir kaum Melayu. Sudarno menjelaskan, dalam sejarah Melayu terdapat para tokoh-tokoh pemikir Melayu yang dapat menjadi contoh. Budaya berpikir sebetulnya telah ditanamkan oleh para orangtua Melayu kepada anaknya, contoh dalam ungkapan “Pikirlah sedikit!”, kebiasaan ini dalam hubungan komunikasi Melayu menunjukkan bahwa berpikir dahulu sebelum melakukan suatu perbuatan merupakan bagian dari tindakan kehidupan orang Melayu. Berpikir adalah kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya untuk memilih dan mempertimbangkan berbagai hal. Sebagaimana dalam budaya Melayu, banyak cara bertindak diungkapkan dalam pepatah, begitu juga dalam berpikir, “pikir itu pelita hati” dan “ikut rasa binasa, ikut hati mati”. Artinya adalah untuk menyelesaikan segala masalah harus berpangkal dari jalan pikiran bukan rasa atau hati. Islam yang dianut oleh orang Melayu turut pula memperkuat etos berpikir ini.

Berbagai usaha yang dilakukan oleh orang Melayu ini supaya menjadikan kebudayaan Melayu yang tersebar ini kuat, berkembang dan maju. Berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah harus dilibatkan dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan. Para cendekiawan atau akademis pun turut serta terlibat institusi pendidikan. Berbagai tantangan yang dihadapi orang Melayu memang sangat problematik. Globalisasi, modernisasi, hegemoni, kapitalisme, dan hedonisme menjadi faktor eksternal yang mau tidak mau harus dihadapi. Krisis nilai-nilai agama pun tak luput menjadi perhatian untuk dijadikan bahan dasar dan pertimbangan dalam tantangan orang Melayu. Kawasan Asia Tenggara sebagai wilayah geografis utama bagi orang Melayu dapat menjadi peluang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Usaha-usaha membina dan mengembangkan kebudayaan Melayu hendaknya diikuti pula oleh evaluasi atas hasil yang didapat, karena hal itu untuk menilai kemajuan yang terjadi. Faktor kesejahteraan masyarakat Melayu harus menjadi faktor yang tak kalah untuk diamati, dikaji, dan dibahas bersama karena dibalik kebudayaan yang maju dan berkembang, manusia Melayu yang menjadi peran utamanya ini haruslah berdaya dan sejahtera dari berbagai aspek kehidupan seperti sosial, budaya, ekonomi, politik, agama dan lain-lain.

Buku yang diselenggarakan oleh Elmustian Rahman, Tien Marni, dan Zulkarnain ini memuat dinamika pembinaan dan pengembangan budaya Melayu, sungguh tepat bagi para kalangan cendekiawan, akademisi atau masyarakat umum yang memiliki minat terhadap pelesetarian dan pengembangan kebudayaan lokal. (Adwi/Res/06/04-2015).

Read : 1.148 time(s).