28 juli 2015 07:07
Gagasan Bangsa Malayan Bersatu, Sebuah Utopia?
Judul Buku
| : | Gagasan Bangsa Malayan yang Bersatu 1945 - 57 |
Penulis
| : | Mohd. Ashraf Ibrahim |
| Penerbit | :
| Universiti Kebangsaan Malaysia |
Cetakan
| :
| Pertama, 2004 |
Tebal
| :
| 265 Halaman |
Ukuran
| :
| 15cm x 23 cm. |
Buku ini pada awalnya adalah sebuah tesis yang diajukan untuk memperoleh gelar sarjana sastra di Universitas Kebangsaan Malaysia. Menjelaskan berbagai usaha yang dilakukan oleh kerajaan Inggris untuk membentuk bangsa Malayan bersatu sesudah perang dunia kedua sehingga menjadi negara yang merdeka, yang kini menjadi negara Malaysia.
Pembentukan Malayan bersatu merupakan kelanjutan dari gagasan yang pernah berkembang sebelum perang dunia kedua, yaitu pembentukan Malayan Union yang kemudian menjadi persekutuan tanah Melayu. Ide terpenting pada buku ini ialah bahwa pergantian Malayan Union kepada Persekutuan Tanah Melayu hanya akan berlaku apabila kepentingan kerajaan Inggris tidak hilang begitu saja.
Bagi penjajah, perubahan bentuk dan struktur sebuah negara tidaklah terlalu urgen, karena yang menjadi pertimbangan utama adalah bagaimana masa depan keamanan kepentingan besar mereka agar tidak terganggu dan bisa berlangsung selama mungkin. Hal ini yang mendasari Inggris bersepakat dengan berbagai elemen tanah air Melayu itu untuk membentuk sebuah negara Malayan bersatu. Dengan cengkeraman kuku pengaruh kekuasaannya melalui proses pendidikan dan pengembangan dasar ekonominya bagi warga jajahan, Kerajaan Inggris tidak merasa dirugikan dengan berbagai perkembangan poitik yang ada.
Alih-alih membelenggu pengaruh para tokoh Warga tempatan, Kerajaan Inggris justru melibatkan para pemimpin-pemimpin pribumi menjadi tim untuk mengurus hubungan antar suku. Hal ini merupakan strategi cerdas yang dilakukan agar Persekutuan Tanah Melayu tetap berada di bawah kepentingan kekuasaan Kerajaan Inggris.
Sudah barang tentu, banyak informasi yang dikedepankan dalam buku yang berharga ini, termasuk perkembangan dunia kepartaian sebagai prasyarat penting bagi berdirinya sebuah negara modern. Di dalamnya juga bisa kita dapatkan pembahasan tentang keragaman etnis dan hak-hak warga negaranya seperti kontroversi hak istimewa warga Melayu dibanding warga non-Melayu. Pengistimewaan terhadap salah satu komunitas sosial semacam ini dalam sebuah negara sangat rentan terhadap percik-percik ketidakpuasan salah satu pihak. Terbukti, pemberlakuan hak istimewa yang terbawa hingga dewasa ini banyak dipermasalahkan dan sedikit banyak telah memberikan hembusan hawa panas dalam wacana perpolitikan negeri Tanah Melayu ini.
Pada akhirnya, gagasan Bangsa Malayan bersatu, menurut Mohd Ashraf Ibrahim, hingga saat ini masih merupakan impian. Membayangkan berdirinya bangsa bersatu dan setara bagi negeri ini nyaris bagai menegakkan benang basah. Justru, ujar Ashraf, mengutip pendapat Rustam Sani, sentimen “berbangsa satu dan bernegara satu” belum lagi berlaku dan sebaliknya wujud pula “perpaduan nasional yang dangkal”. (hlm.232).
Kompromi kepentingan semua etnis sangat mendesak diwujudkan agar “elemen-elemen penyeimbang” bagi keberlangsungan sebuah negara turut memiliki andil. Lebih dari itu, dengan memberikan penghargaan yang sama bagi semua etnis akan menjulangkan Melayu sebagai bangsa bermarwah yang berkakmuran melaju. (OS Koto/Res/42/07-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Read : 1.351 time(s).