18 agustus 2015 07:07
Migrasi Orang Bugis sebuah Pencarian yang Mencerahkan
Judul Buku
| : | Migrasi & Orang Bugis |
Penulis
| : | Andi Ima Kesumak |
| Penerbit | :
| Ombak |
Cetakan
| :
| Pertama, 2004 |
Tebal
| :
| XVIII + 170 Halaman |
Ukuran
| :
| 14 cm x 20,5 cm. |
Kehadiran Opu Daeng Rilakka di tanah Johor pada abad XVIII merupakan tonggak sejarah bagi orang-orang Bugis yang melakukan perpindahan ke Bumi Malaysia. Bugis merupakan bagian wilayah dari Indonesia yang terletak di Sulawesi Selatan. Manusia Bugis telah melukiskan legenda keberanian dan ketangkasan dalam mengarungi lautan baik dalam rangka mencari penghidupan maupun mempertahankan kemerdekaan. Kekerasan hati mereka dalam mempertahankan kebebasan dan harga diri merupakan simbol kehidupan yang lain bagi mereka di samping penakluk bahari. Ketika mereka tak lagi sefaham bahkan merasa terzalimi oleh penguasa, jalan yang ditempuh adalah mengingatkan, melawan, atau pilihan terakhirnya, menghindarkan diri sejauh mungkin dari jangkauan penguasa yang tidak lagi mampu menentramkan dan menyejahterakan. Dalam benak mereka bukan lagi merantau, pergi berbilang hari, akan tetapi pindah untuk menetap selama mungkin dan merajut harapan di tempat baru. Migrasi.
Karena itulah, migrasi orang Bugis tidak bisa dipandang dalam satu perspektif saja. Tidak sekedar faktor ekonomi dan politik semata. Johor juga hanyalah salah satu di antara sekian tempat migrasi orang Bugis. Bagi mereka faktor tempat bukanlah segalanya. Dibalik itu semua, ada latar filosofis yang menyertai setiap tindakan penting terkait pandangan hidup yang menjadi pegangan mereka.
Pada bab 1 buku ini, berisi sejarah singkat kehidupan orang-orang Bugis di tanah kelahirannya sebelum bermigrasi. Bab 2 menjelaskan kondisi sosial terkini pra-migrasi yang menyangkut peperangan yang terjadi dan uraian sedikit tentang Kerajaan Wajo. Bab 3 mengulas sekilas sejarah Nusantara abad ke XVI sampai abad ke XVII. Pada bab ini, setidaknya penulis menjelaskan beberapa wilayah yang tidak jauh dari pusaran lingkungan terdekat masyarakat Bugis, tentang sejarah beberapa kerajaan seperti Aceh, Gowa, Mataram, lalu perang VOC dan Makassar.
Gelombang migrasi orang Bugis ke Johor dan kondisi politik di daerah semenanjung pada saat itu, abad ke XV-XVII, masa-masa kekuasaan Malaka, Portugis, dan Belanda dipaparkan pada bab 4 buku ini.
Lambat laun orang-orang Bugis berhasil menancapkan pengaruh kuat di kawasan semenanjung Melayu. Dominasi para sultan di Malaysia hingga kini tidak bisa lepas dari sejarah besar migrasi ini. Sebagian sultan yang kini berkuasa di Malaysia merupakan keturunan dari Datu Luwu We Tenrileleang dari ke lima orang anak beliau yakni Daeng Marewah, Daeng Parani, Daeng Menambung, Daeng Celak, dan Daeng Kamasi.
Kehadiran buku ini membuka cakrawala baru bagi pembaca. Dalam sebuah petuah agama disebut bumi Allah itu luas, maka semangat hijrah itu diperlukan. Kebuntuan di sebuah tempat dan persoalan akan melahirkan banyak kemungkinan harapan di tempat dan bidang yang lain. Buku ini juga bisa menjadi panduan untuk kajian tentang migrasi bangsa lain, atau bahkan bisa menjadi acuan diri bagi pencari penghidupan yang mencerahkan. (OS Koto/Res/40/07-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Read : 1.240 time(s).