16 oktober 2015 07:07
Mendekap Adat dalam Dunia yang Berubah
Judul Buku
| : | Adat Melayu Serumpun |
Editor
| : | Abdul Latif Abu Bakar |
| Penerbit | :
| Universiti Malaya |
Cetakan
| :
| Pertama, 2001 |
Tebal
| :
| xiii +486 Halaman |
Ukuran
| :
| 14 cm x 21,5 cm. |
Adat merupakan gagasan dan perilaku budaya dalam suatu tata sosial yang berupa nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang mengikat para pemeluknya dalam keseharian. Tetapi adat juga memiliki sifat hidup dan dinamis. Oleh karena itu, sebuah adat bisa saja bergeser, berubah, dan berkembang sesuai dinamika masyarakatnya. Yang mencemaskan adalah apabila perubahan adat budaya itu tidak sesuai dengan semangat kearifan yang mengedepankan nilai etika dan moral, apatah lagi kalau berseberangan dengan adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.
Buku ini berupaya menjelaskan mengenai adat Melayu, baik berupa pokok pikiran maupun ketentuan-ketentuan, serta perilaku penting dalam alam budaya Melayu serumpun yang mencakup adat Melayu di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan lainnya. Adat Melayu ini sangat potensial untuk menyaring budaya luar agar masyarakat tidak terseret dalam arus tanpa daya dan tetap terjaga dalam mendekap kearifan adat dan jati dirinya.
Kebudayaan Melayu di setiap wilayah sebaran tersebut, walaupun berasal dari satu kebudayaan yang sama, saat ini memiliki beberapa perbedaan karena terjadinya pergesekan dengan budaya lain. Perbedaan ini harus disikapi dengan bijak agar terhindar dari hal-hal yang bersifat negatif. Sifat masyarakat Melayu yang egaliter dan terbuka sangat memungkinkan masuknya budaya lain dalam ranah adat Melayu. Pengaruh luar tidak harus semuanya ditolak mentah-mentah karena dalam proses penyesuaian budaya, adat kebiasaan yang relatif sama dengan adat Melayu, tentu dapat diterima dengan baik.
Berbagai adat Melayu di beberapa wilayah yang dibahas di dalam buku ini, di antaranya adat Melayu Melaka, Sarawak, Singapura, Riau, Sumatera, Aceh, Kalimantan, Jambi, Sulawesi, dan Mindanau. Sementara pada bagain lain dibahas pula tentang perubahan dalam adat Melayu, dinamika dan tradisi merantau, adat jawa di Malaysia, adat Melayu menurut pancasila di Indonesia, perjuangan orang Melayu melawan Inggris tahun 1825-1832, dan lain sebagainya.
Buku ini disusun didahului oleh seminar Adat Melayu Serantau yang mempertemukan para tokoh adat Melayu dari beberapa negara untuk saling bertukar pengetahuan mengenai adat istiadat Melayu. Para tokoh adat tersebut sekaligus penulis makalah yang kemudian disusun menjadi buku ini. Mereka antara lain Tenas Effendy dari Riau, Tengku Lukman Sinar tokoh Melayu Serdang, Tgk. Ali Hasjmy dari Aceh, Djohan Hanafiah dari Palembang, dan Noriah Mohammed dari Malaysia.
Selain tokoh-tokoh Melayu ternama tersebut, seminar ini juga melibatkan, di antaranya Abdul Latif Abu Bakar, Abdullah Zakaria Ghazali, Nik Abdul Rashid, Khazin Mohd Tamrin, Norazit Selat, Awang Hasmadi Awang Mois, Idroes Hakimi, Mawardi Rivai, Syarif Ibrahim, Alqadrie, Muhammad Hakim Nyak Pha, Hafiz Faisal Abdul Karim Bacara Al-Haj, Ranivoson Mohd. Thaib, Syarifuddin, A. Nurgaya Nohong, dan Lembaga Adat Provinsi Jambi.
Buku ini memang bukan satu-satunya buku yang membahas tentang adat Melayu serumpun. Tetapi harus diakui keterlibatan begitu banyak tokoh Melayu dan keluasan pembahasan di dalamnya merupakan poin positif. Karena itu, buku ini penting untuk perluasan pengetahuan kita tentang adat istiadat Melayu serta pernik-perniknya yang berkembang di banyak wilayah serumpun Melayu dunia. Penting juga sebagai bahan acu baik dalam perspektif normatif maupun akademis. (OS Koto/Res/68/10-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Read : 1.038 time(s).