22 februari 2016 07:07
Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura
Judul Buku
| : | Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura |
Penulis
| : | Drs. H. Gusti Mhd. Mulia |
| Penerbit | :
| Keraton Tanjungpura |
Cetakan
| :
| Pertama, 2007 |
Tebal
| :
| iv + 110 Halaman |
Ukuran
| : | 16 cm x 21 cm. |
Buku ini disusun bertujuan sebagai salah satu bahan acuan dan dokumentasi sejarah mengenai Kerajaan Tanjungpura yang tepatnya berada di wilayah Kabupaten Kayong Utara. Dalam catatan sejarah, di Kabupaten Kayong Utara dahulunya pernah berdiri tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan Sukadana, Kerajaan Matan, dan Kerajaan Simpang.
Sebagai salah satu kerajaan besar yang disejajarkan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, Kerajaan Tanjungpura merupakan salah satu yang cukup dikenal pada masanya. Keberadaan Kerajaan Tanjungpura tertuang di dalam kitab Negarakartagama karangan Mpu Prapanca. Walau demikian keberadaan kerajaan ini sulit dipastikan karena peninggalan-peninggalan kerajaan seperti bekas istana maupun naskah-naskah yang mengisahkan mengenai kerajaan tersebut tidak didapati.
Salah satu peneliti yang pernah menulis mengenai kerajaan di Kalimantan yaitu P. J. Veth dalam bukunya Afdeling Borneo’s Weater, Eerste Deel yang diterbitkan pada tahun 1854, juga mengalami kendala ketika ingin menjelaskan keterkaitan antara Kerajaan Tanjupura dengan keturunan Brawijaya sebagaimana cerita rakyat yang terus terjaga dan terpelihara mengenai asal-usulnya.
Berdasarkan cerita yang berkembang, Kerajaan Tanjungpura didirikan oleh Brawijaya ketika ia pergi untuk mengasingkan diri karena penyakit yang ia derita. Brawijaya merupakan cucu dari Damarwulan dan memiliki enam orang saudara, yaitu Lang Buana, Jayapati, Lang Singapati, Jayawani, Indra Wadana, dan Wijaya Wani. Brawijaya memiliki nama asli Indra Wijaya dan diangkat sebagai raja karena kedikdayaannya dalam sayembara untuk menentukan siapakah yang akan dijadikan raja kala itu. Indra Wijaya menang dan ia diberi gelar Brawijaya. Pemberian gelar tersebut dirasa kurang tepat oleh kelima saudaranya yang kemudian menculik dan meracuni Indra Wijaya.
Selain menjelaskan mengenai Kerajaan Tanjungpura, buku ini juga menjelaskan mengenai kerajaan-kerajaan lainnya yang ada di Kalimantan seperti Kerajaan Ulu Aik (Hulu Air), Sukadana, Matan, Simpang-Matan, Kayong-Matan (Tanjungpura II) dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Diceritakan pula tentang legenda Pangeran Sidang Penape serta peristiwa perang Belangkait di Kerajaan Simpang-Matan dan lenyapnya dua generasi Kerajaan Simpang.
Dengan diterbitkannya buku ini, diharapkan sejarah maupun cerita yang ada di Kabupaten Kelayong Utara diketahui. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan sumber referensi bagi para akademisi maupun peneliti yang ingin meneliti lebih dalam lagi tentang sejarah Kerajaan Tanjungpura khususnya dan kerajaan-kerajaan lain di bumi Kalimantan pada umumnya. (Oki Koto/Res/82/11-2015)
Read : 947 time(s).