Monday, 8 June 2026   |   Monday, 22 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 1.293
aujourd hui : 22.879
Hier : 24.191
La semaine dernière, : 227.151
Le mois dernier : 9.252.016
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



21 april 2016 07:07

Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh



Judul Buku
:
Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh
Penulis
:
Rusdi Sufi, dkk.
Penerbit:
Balai Kajian dan Nilai Tradisional Banda Aceh
Cetakan
:
Kedua, 2004
Tebal
:
xiii + 189 Halaman
Ukuran
:14,5 cm x  21 cm.

Konsentrasi buku ini adalah menguraikan tentang aneka suku dan budaya dalam sejarah Aceh. Suku-suku itu di antaranya adalah suku Aneuk Jamee yang mendiami kawasan pesisir selatan Aceh, tepatnya di kecamatan Tapaktuan, Samadua, Labuhan Haji Timur, Labuhan Haji Barat, Susoh, Manggeng, Johan Pahlawan, Kaway XVI, dan kecamatan Kuala. Ada juga suku Alas yang mendiami kawasan kabupaten Aceh Tenggara. Sejak abad ke 18-20 banyak pendatang yang hijrah ke tanah Alas ini baik dari kawasan Aceh sendiri maupun dari luar Aceh, seperti Minang, Jawa, bahkan Cina, dan lain-lain. Mereka menggabungkan diri dengan penduduk setempat dan mengidentifikasi diri dengan berbagai nama marga, di antaranya marga Selian, Beureueh, Acih, Seucawan, Bangko, dan sebagainya.

Suku Gayo banyak menetap di kawasan pedalaman Aceh. Suku hasil campuran antara orang-orang Cik dan Bukit ini berada di kabupaten Aceh Tengah. Mereka in terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues.  Masih banyak suku-suku yang dijelaskan dalam buku ini, termasuk suku Kluet, Simeulue, Singkil, Tamiang, dan lain-lain.

Aceh sendiri merupakan suku bangsa yang di dalamnya terdapat berbagai suku-suku yang memiliki karakter tersendiri yang berbseda antara satu dengan yang lainnya. Sebarannya terutama di dataran rendah yang memiliki tanah yang subur, selain itu banyak juga di antara mereka yang hidup dan tinggal di kawasan pesisir dan hidup sebagai nelayan.

Bahasa masyarakat Aceh adalah rumpun bahasa Austronesia dengan aneka dialek yang beragam sesuai dengan ragam suku yang ada. Dialek tersebut adalah Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidi, Tunong, Seunagan, Matang, dan Meulaboh. Sementara itu bahasa yang banyak penuturnya adalah dialek Banda. Hal tersebut dikarenakan dialek ini digunakan di Banda Aceh yang kini menjadi ibukota dari Provinsi Aceh.

Buku ini juga mengelaborasi budaya tempatan yang sangat kaya, sekaligus cara pandang masyarakat Aceh terhadap berbagai fakta dan fenomena alam dan sosial di sekitarnya. Hal ini membuktikan produktifitas orang aceh dalam karya tulis yang memang sudah dikenal dunia sejak lama. Dokumentasi pengetahuan masyarakat Aceh relatif sempurna pada masanya. Naskah zaman dahulu sudah membicarakan tentang makhluk halus, alam flora fauna dan gejala yang menyertainya, seni budaya dan tradisi, permainan anak dan persenjataan perang, hingga tradisi bahari yang sempat menjulangkan nama Aceh ke seantero jagat.

Sejarah, keragaman etnis dan budaya yang ada di Aceh adalah kekayaan besar yang dimiliki Indonesia. Tanpa kesertaan mereka dalam peta perjuangan dan kehidupan masa lalu, mungkin Indonesia akan menjadi sebuah negara yang sulit dibayangkan keberadaannya. Buku ini menjadi penting untuk menggugah apresiasi kita terhadap keagungan bangsa Aceh yang sesungguhnya. (Oki Koto/Res/96/3-2016)

Read : 1.378 time(s).