22 juni 2016 07:07
Dari Bahasa Melayu Sampai Bahasa Indonesia
Judul Buku
| : | Dari Bahasa Melayu Sampai Bahasa Indonesia |
Editor
| : | UU Hamidy |
| Penerbit | :
| Unilak Press |
Cetakan
| :
| Pertama, 2003 |
Tebal
| :
| viii + 111 Halaman |
Ukuran
| : | 12 cm x 17,5 cm. |
Buku ini menguraikan tentang perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Penulis menyorot secara khusus arus masuk kata-kata asing maupun daerah ke dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, hal ini akan memengaruhi makna dari bahasa Melayu yang juga berdampak pada berubahnya makna bahasa.
Selain itu, masuknya bahasa-bahasa tersebut juga menimbulkan beberapa persoalan di dalam bahasa Indonesia. Pertama, pemakai bahasa Indonesia banyak yang tidak mengerti kata-kata yang berasal dari bahasa asing dan bahasa daerah itu. Keadaan ini bisa membuat komunikasi penuturnya menjadi tidak efektif. Kedua, sistem bahasa Indonesia menjadi labil, sehingga pemakai bahasa Indonesia sulit memperoleh pedoman yang baku. Dan, ketiga, akan membuat pengucapan bahasa Indonesia amat banyak ragamnya yang berakibat pengucapan yang baku menjadi sulit diperoleh dan terpelihara.
Para penutur bahasa Indonesia mestinya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar bahasa dapat terpelihara dan berkembang dengan baik. Ada beberapa hal yang sangat mendesak untuk diperhatikan dalam pembinaan dan pemeliharaan bahasa Indonesia. Pertama, bahasa Indonesia belum punya pedoman pengucapan. Pengucapan bahasa Indonesia sebagian besar diwarnai oleh dialek-dialek daerah masing-masing. Kedua, arti kata bahasa Indonesia amat lemah. Sejumlah kata yang sepintas lalu terkesan sama sering dikacaukan oleh si pemakainya. Ketiga, singkatan kata yang dibuat sesuka hati relatif tidak terkendali yang berakibat kurangnya efektifitas dalam berkomunikasi.
Serapan terhadap bahasa daerah maupun asing memang tidak terelakkan. Akan tetapi seharusnya bahasa Indonesia merujuk pada bahasa ibu dalam melafalkan kata atau bunyi agar sesuai dengan maksud dan maknanya. Perbedaan bunyi/lafal pengucapkan akan berdampak kepada tatanan bahasa tersebut. Contoh, kata “lihat” tentu akan berbeda arti bila dilafalkan/dibunyikan dengan kata “liat”. Dalam bahasa Melayu liat dapat diartikan dengan “alot/kalis”. Di dalam buku ini penulis memaparkan yang seharusnya dilakukan agar kata dalam bahasa-bahasa tersebut tidak rusak dan memiliki pengertian sebagaimana mestinya.
Selain itu, buku ini juga membahas mengenai sejarah bahasa Indonesia yang bersumber dari bahasa Melayu, seleksi pemakaian kata-kata dalam bahasa, ketelitian menyusun kalimat, logika hingga keterampilan dalam berbicara. Gugatan terhadap praktik kebahasaan dalam buku ini patut dipertimbangkan sekalipun masih sangat terbuka untuk diperdebatkan. Semangat ‘purifikasi’ terhadap bahasa Indonesia agar tetap dalam semangat sejarah awal kelahirannya sudah sewajarnya mendapatkan poin apresiasi. (Oki Koto/Res/100/4-2016)
Read : 1.333 time(s).