27 april 2007 23:07
Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara
Buku Sastra Melayu Lintas Daerah terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Oktober 2005 mencuatkan ide mengembangkan bahan dasar melayu di Asia Tenggara. Itu menantang kemelitan orang atas isi buku ini yang daftar pustakanya memuat 390 sumber acuan.
Jejak kehidupan kemelayuan tersebar di beberapa wilayah di Nusantara, yang benang merahnya tampak dalam Bab VII Epilog: Keberlanjutan ke Masa Kini. Sastra Melayu bertaut dengan kehidupan masyarakat Melayu, yang amat beraneka, berkembang ketika kerajaan Melayu seperti di Aceh berjaya di abad ke-15 dan ke-16, dan masyarakatnya terlindungi oleh kekuasaan legal kesultanan. Saat sebuah kerajaan Melayu runtuh, sastra Melayu tidak serta-merta rubuh, namun terbawa bersama pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Melayu yang lain, mulai dari Aceh, Riau, Pontianak, Banjarmasin, di Butun di Sulawesi Tenggara, Makassar di Sulawesi Selatan, Mataram dan Bima di Nusa Tenggara Barat. Kini, masih ada sastra Melayu di Terengganu, Johor, dan di Patani -Thailand.
Dengan jelas buku ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu telah berfungsi sebagai sarana sastra yang luas area pemakaian dan pendukungnya, sedangkan pendukungnya dari dulu hingga kini memperkaya sastra Melayu sebagai hasil dialog dengan budaya dunia yang besar, seperti budaya Hindu, Islam (Arab Parsi), Barat, dan China. Dalam konteks Indonesia, sastra Melayu adalah sastra yang diperkaya dengan kebinekaan budaya etnik di Indonesia. Adalah mokal bahwa sastra Indonesia melepaskan diri dari bahasa Melayu sebagai akarnya. Di Lombok, misalnya, tradisi hikayat masih hidup dalam kegiatan keseharian masyarakatnya.
Tetapi, naskah sastra Melayu sampai kini masih harus diselamatkan. Dalam konteks beragam kebahasaan dan kesastraan, tercetus gagasan kuat untuk mengembangkan bahan dasar Melayu di Asia Tenggara. Kiranya ide ini dapat mengisi secara lebih tegas keberlanjutan sastra Melayu. Dalam konteks kesastraan Indonesia, sastra Melayu menjadi bagian yang kedudukan dan fungsinya sama dengan sastra daerah lainnya, dengan kelebihannya semata-mata pada posisi bahasa Melayu sebagai asal bahasa Indonesia. Keberlanjutannya mewujud dalam bentuk metamorfosis, seperti tampak pada hasil pergulatan kreatif Sitor Situmorang dan juga Hartoyo Andangdjaja dalam pantun-pantun mereka. Fenomena serupa tampak pada pengolahan mantra dalam tradisi Melayu Riau oleh Sutardji Calzoum Bachri. Juga bisa disebut penulis seperti Gus tf. dengan novel Tambo: Sebuah Pertemuan, yang menafsir tambo untuk meredam kegelisahannya menghadapi modernitas.
Tak terbatas susastra
Arti sastra Melayu di sini dibatasi oleh pemakaian bahasa Melayu dengan segala variasinya, sedangkan istilah sastra tak hanya mengacu pada susastra. Selain itu, sastra Melayu dianggap mencakup sastra yang bahasanya masih dapat disebut Melayu, bukan perwujudannya dalam bahasa-bahasa yang tumbuh seiring dengan masyarakat bercitra modern, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. Selanjutnya, Bab I Pendahuluan menawarkan catatan arkeologis sebagai latar berkembangnya bahasa dan sastra Melayu, uraian tentang dialek dan ragam bahasa Melayu, berpencarnya bahasa tersebut dari masa ke masa, aksara dan pernaskahan sastra Melayu, hubungan antarbangsa, perkembangan sastra Melayu, dan kerangka tinjauan sejarah budaya.
Pokok bahasan utama buku ini ialah isi karya-karya sastra Melayu dalam beragam wujudnya di berbagai daerah di Nusantara. Pusat-pusat pengembangan sastra Melayu, yaitu Aceh, Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Patani, Malaka, Johor, Singapura, Palembang, Riau-Siak-Indragiri, Deli Serdang, Terengganu, Sumatera Barat, Kerinci, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Ternate, Butun, Betawi, Lombok, Bali, dan Bima diuraikan dalam Bab II Tempat- tempat Perkembangan Sastra Melayu. Keanekaragaman jenis sastra Melayu disorot dalam Bab III Pengelompokan Sastra Melayu.
Bab IV Wajah India, Jawa, Parsi, dan China di Alam Melayu melacak asal-usul sejumlah naskah sastra Melayu. Misalnya, Hikayat Sri Rama dalam bahasa Melayu ternyata berasal dari tradisi rakyat India Selatan. Sastra Melayu juga mengenal cerita Bharata Yudha dengan berbagai nama, seperti Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Pandawa. Ini merupakan terjemahan atau saduran dari kakawin Bharata Yudha dalam bahasa Jawa Kuno, karya Empu Sedah dan Panuluh, berdasarkan motif utama wiracarita India Mahabharata, perang antara Pandawa dan Korawa.
Di kepulauan Nusantara, akar- akar budaya Islam Parsi mulai tertanam sejak abad ke-13 M. Unsur-unsur Parsi mencuat dalam Taj as-Salatin, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hannafiyah, dan Hikayat Burung Pingai. Sejak awal abad ke-17 sampai 1960-an, sastra Melayu China Peranakan berkembang dalam bentuk syair, novel, dan teater. Banyak terjemahan atau saduran dari bahasa China, terjemahan dari bahasa Barat, dan dari bahasa setempat tentang karya yang bersifat politik, sejarah, filsafat, pendidikan, dan keagamaan.
Universalitas cerita
Pengaruh Islam yang bersumberkan Al Quran, hadis, fikh, tasawuf, usuluddin, serta peristiwa dan tokoh Islam diulas dalam Bab V Sastra Melayu Pengaruh Islam, sedangkan, Bab VI Ketunggalan dan Keanekaan:Tema dan Motif, mengupas universalitas cerita. Dalam penyebarannya, cerita tak mengenal batas negara dan bangsa. Juga ada kecondongan universal yang spontan memunculkan bentuk dan unsur sastra serupa di bagian dunia yang berbeda, bahkan berjauhan tanpa adanya saling kaitan. Di sini bisa disebut Hikayat Indraputra yang tema dan motifnya beraneka, namun diterima dalam berbagai lingkungan budaya, dengan penyesuaian seperlunya.
Bab VII Tinjauan Pola Hubungan Antarkerajaan antara lain menyigi peran kerajaan Aceh dalam politik, keagamaan, dan tamadun di abad ke-17, ketika Aceh menjadi model: pembentukan negara. Perjalanan para ulama menjadi gejala penting dalam penyebaran agama Islam, dengan pola-polanya.Pola pertama mengekor Pasai yang menjadikan Islam pendorong berdirinya kerajaan.Pola kedua seturut gaya Malaka dan Gowa-Tallo, yang mengislamkan masyarakat luas sesudah kraton. Pola ketiga ialah Jawa, tempat Islam menantang kekuasaan sebelumnya, yang berorientasi pada Hindu-Budha.
Direbutnya Malaka oleh Portugis menahan pengembangan budaya Melayu oleh kerajaan Aceh di area ini, dan membuat para pedagang Muslim berlayar ke Maluku lewat pantai barat Sumatera. Ini mendukung perkembangan kesultanan Banten, yang juga ditopang oleh tibanya para pedagang Jawa Tegah dan Jawa Timur, yang menjauhi kuasa Mataram. Ketika kejayaan Aceh merosot, banyaknya komoditas dagang yang mengalir lewat Jambi dan Banten membuat pelabuhan-pelabuhan Cirebon, Tuban, dan Gresik makin ramai. Itu menunjang kerajaan Gowa-Tallo dengan pelabuhannya Somba Opu. Pelayaran dan hubungan antarkerajaan di wilayah Nusantara, terutama sejak abad ke-16, dan abad ke-17, telah begitu berkembang dan memacu perkembangan sastra.
Catatan
Mengembangkan bahan dasar Melayu di Asia Tenggara, tidak sekonkret ide Mataim Bakar dari Brunei Darussalam dalam artikel Potensi Bahasa Melayu sebagai Bahasa Utama ASEAN (lihat Katharina Endriati Sukanto,ed, Menabur Benih Menuai Kasih, Persembahan Karya Bahasa, Sosial, dan Budaya untuk Anton M Moeliono Pada Ulang Tahunnya yang ke 75, Yayasan Obor, Jakarta, hal 539) Toh, itu bisa melecut ide kreatif untuk, misalnya, menggarap sesuatu dari kenyataan banyaknya naskah wayang dalam bahasa Melayu seperti telah dipaparkan oleh A Ikram (lihat Bahasa dan Sastra Tahun 1 No 2 1975).
Buku ini menunjukkan bahwa kemajuan budaya suatu bangsa mengandaikan kegiatan menulis dan menerjemah. Setidaknya kedua kegiatan ini bisa dipergiat lebih dahulu selagi para peneliti masih harus menggeledah nilai-nilai dalam khazanah sastra Melayu sebagai bahan untuk suatu karya kreatif. Diharapkan dari Sastra Melayu Lintas Daerah ini kita bisa menimba gairah untuk lebih giat dalam menulis dan menerjemahkan buku.
Apakah kemelayuan monopoli agama tertentu? Pertanyaan ini terjawab oleh prinsip bahwa ide mengembangkan bahan dasar Melayu di Asia Tenggara ditempatkan dalam konteks Indonesia. (hal 398), dalam arti bahwa sastra Melayu menjadi bagian yang kedudukan dan fungsinya sama dengan sastra daerah lainnya. (hal 399). Selain itu, dari fakta bahwa mistisisme dalam semua agama bersifat universal, dapat disimpulkan bahwa kemelayuan dapat berangkulan dengan agama yang mana pun.
Dari segi editing, perlu dicermati, misalnya, anggapan bahwa kata pengaruh, misalnya, dalam frasa Persian influences on Malay literature memberi kesan negatif, sehingga diganti dengan istilah bercorak (hal 296, 297), Anehnya, sesudah itu, tetap muncul kata pengaru. Juga ada pilihan kata yang tidak tepat, misalnya, Pigeaud... mendakwa bahwa Terengganu adalah... (hal 118) Ada pula struktur kalimat rancu, misalnya: Ia... diberi gelar oleh raja Aceh... dan mengangkatnya.... (hal 115).
Akhirnya, atas terbitnya buku ini salut kepada para editornya, yaitu Edi Sedyawati, Dedy Sugono, Abdul Rozak Zaidan, Edwar Djamaris, dan Achadiati Ikram, yang semuanya juga menulis artikel. Juga selamat kepada para penyumbang tulisan, yaitu Harimurti Kridalaksana, Susanto Zuhdi, Imran T Abdullah, Oman Fathurrahman, Dewaki Kramadibrata, Mujizah, A Samin Siregar, Uli Kozok, Chairil Effendy, Tommy Christomy, La Niampe, Maria Indra Rukmi, Nyoman Wedakusuma, Siti Chamamah Soeratno, Ciptaningrum Fuad Hassan, Abdul Hadi W M, dan Nafron Hasyim.
Alfons Taryadi, peminat sastra
Source: Kompas
Read : 6.069 time(s).