Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
No data available
News
29 juni 2010 05:57
Ritual Adat Melayu dan Dayak untuk Tolak Bala
Sintang, Kalbar - Setelah aksi massa menduduki rumah jabatan Wakil Bupati (Wabup) Sintang pada Jumat (25/6) lalu, maka pada Minggu (27/6) kemarin sejumlah warga menggelar ritual adat tolak bala di tempat yang sama. Acara itu dilaksanakan dengan menggunakan adat dua suku, yakni Melayu dan Dayak.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Gusti Ardania dari kalangan Melayu, YL Enan dari Serawai-Ambalau, Yunusno dari DAD Dedai, Mohtar Pius dari DAD Ketungau, tokoh Kayan Hulu Adi Nugroho serta sejumlah tokoh adat lainya. Hadir pula, calon wakil bupati yang di usung Koalisi Pelangi Kartiyus. Prosesi adat Dayak yang memakai ritual suku Uud Danum ini, dipimpin oleh Nyaring dan adat Malayu dipimpin Oleh Gusti Ardania.
Gusti Ardania, tokoh muslim Melayu Sintang mengatakan, sebelum membaca doa tolak bala, pihaknya lebih dulu melakukan ritual adattepung tawar. “Tepung tawar ini di maksudkan untuk mengembalikan kepasrahan manusia terkait semua hal yang terjadi pada Allah. Baik itu kekerasan, rasa takut maupun trauma,” jelasnya.
Ia juga megakui bila pembacaan doa tolak bala tidak terlepas dari aksi massa di rumah jabatan wakil bupati Sintang beberapa waktu lalu. “Memang ada hubungan dengan kejadian itu. Makanya prosesi adat ini kita lakukan, untuk menjauhkan kita semua dari bala,” jelasnya.
Sedangkan Kartiyus mengatakan, ritual tolak bala ini lebih dikhususkan untuk para penghuni rumah yang kaget setengah mati pasca aksi massa, setelah demo di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sintang.
“Para penghuni rumah ini ketakutan luar biasa, bahkan ada sampai menangis. Apalagi pada saat kejadian ada yang membawa senjata tajam. Gimana mereka tidak ketakutan dengan kejadian itu. Tolak bala ini dilakukan agar tidak terjadi hal yang sama dikemudian hari. Selain itu, saya bersama pak Jarot yang akan bertarung dalam Pemilukada ulang, juga meminta perlindungan pada Tuhan Yang Maha Esa. Karena kita orang yang beradat, maka acara ini kita laksanakan,” tegasnya.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang A Mikael Abeng mengaku, bahwa ritual adat yang dilaksanakan memang sudah ada izin dari DAD Sintang. “Mereka sudah menyampaikan masalah ini ke kita. Dan memang apa yang dilakukan itu memang tidak pantas. Apalagi ada ritual adat yang membawa simbol agama,” tegas Abeng.
Dalam kesempatan itu, Abeng juga meminta masalah adat dan politik tidak dicampuradukan. “Jangan bawa masalah adat dalam politik. Karena, adat itu sangat menghormati hak-hak orang lain,” tegasnya.(zal)