Sunday, 24 May 2026   |   Sunday, 7 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 922
aujourd hui : 17.028
Hier : 30.549
La semaine dernière, : 221.971
Le mois dernier : 15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

13 november 2015 08:37

Menjaga Budaya Nusantara Lewat Temu Zapin Nusantara 2015

Jakarta - Tarian Zapin merupakan salah satu dari pada berbagai jenis tarian Melayu yang masih ada hingga sekarang. Tarian Zapin berasal dari perkataan Arab yaitu “Zaffan” yang artinya penari dan “Al-Zafn” yang artinya gerak kaki. Tarian ini diilhamkan oleh peranakan Arab dan diketahui berasal dari Yaman.  Setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang Arab pada awal abad ke-16, Tarian Zapin ini kemudian merebak ke negeri-negeri sekitar Johor seperti di Riau, Singapura, Sarawak dan Brunei Darusalam.

Zapin masuk ke Nusantara sejalan dengan berkembangnya agama Islam sejak abad ke 13 Masehi. Kesenian yang dibawa para pendatang tersebut kemudian berkembang di kalangan masyarakat pemeluk agama Islam. Sekarang kita dapat menemukan Zapin hampir diseluruh pesisir Nusantara. Seperti pesisir timur Sumatera Utara, Riau dan Kepulauan Riau. Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung. Jakarta, pesisir Utara – Timur dan Selatan Jawa. Nagara, Mataram, Sumbawa, Maumere. Seluruh pesisir Kalimantan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Ternate, dan Ambon. Sedangkan di negara tetangga terdapat di Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.

Di Nusantara, Zapin dikenal dalam 2 jenis, yaitu Zapin Arab yang mengalami perubahan secara lamban, dan masih dipertahankan oleh masyarakat turunan Arab. Jenis kedua adalah Zapin Melayu  yang ditumbuhkan oleh para  ahli lokal, dan disesuaikan dengan  lingkungan masyarakatnya. Kalau Zapin  Arab hanya dikenal satu gaya saja, maka Zapin Melayu sangat beragam dalam gayanya. Begitu  pula sebutan untuk tari tersebut tergantung dari bahasa atau dialek lokal  di mana dia tumbuh dan berkembang. Sebutan Zapin umumnya dijumpai   di Sumatera  Utara dan Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera  Selatan dan Bengkulu menyebutnya Satu diambil dari Alif.

Julukan Bedana terdapat di Lampung, sedangkan  di Jawa  umumnya menyebut Zafin. Masyarakat  Kalimantan  cenderung memberi nama Jepin, di  Sulawesi Selatan disebut  Jippeng, Sulawesi Tenggara disebut Balumpa dan di Maluku lebih akrab dengan nama Jepen. Sementara di Nusatenggara dikenal dengan julukan Dana-dani.

Berangkat dari keberagaman Zapin yang tumbuh subur di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, akan menyelenggarakan Temu Zapin Nusantara 2015. Kegiatan bertaraf nasional ini akan diikuti oleh peserta perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia dan akan digelar pada tanggal 28 – 29 November 2015  di Candi Bentar – Taman Mini Indonesia Indah. Kegiatan Temu Zapin Nusantara 2015 ini adalah merupakan bentuk kepedulian Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Zapin dan seni lainnya.

Sumber:  http://berita.suaramerdeka.com


Read : 2.054 time(s).

Write your comment !