Saturday, 23 May 2026   |   Saturday, 6 Dzulhijah 1447 H
Visiteurs en ligne : 0
aujourd hui : 6.230
Hier : 30.549
La semaine dernière, : 221.971
Le mois dernier : 15.288.374
Vous êtes le visiteur numéro 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

15 juli 2009 08:15

Melihat Jawa Lewat Melayu: Dari Hikayat Sampai Bahasa

Workshop Internasional II `Pemikiran Jawa-Melayu`
Melihat Jawa Lewat Melayu: Dari Hikayat Sampai Bahasa

Surakarta, MelayuOnline.com -  Hikayat Hang Tuah kerap dinilai sebagai karya agung yang memuat banyak pemikiran tentang Melayu. Hikayat legendaris ini mengupas tentang kebesaran dan kejayaan peradaban Melayu di masa lampau.  Namun ternyata Hikayat Hang Tuah tidak hanya tentang Melayu saja, karena melalui Hikayat Hang Tuah pula orang Melayu juga memberi apresiasi terhadap tradisi Jawa. Banyak sekali unsur-unsur Jawa yang terkandung dalam lembar-lembar tebal Hikayat Hang Tuah. Hikayat ini merupakan salah satu sumber studi Jawa, yang berasal dari ranah Melayu. Ini penting karena studi Jawa seringkali bersumber dari Eropa atau Amerika, dan bahkan dilakukan oleh intelektual Barat, sementara kita sebagai orang Melayu memiliki keterbatasan baik dari dokumen yang telah dibawa ke Eropa maupun sedikitnya akademisi yang tertarik untuk mempelajari Melayu-Jawa.

Wacana inilah yang menjadi bahasan menarik dalam acara Workshop Internasional II dengan mengangkat tajuk “Pemikiran Melayu-Jawa” yang diadakan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS selama dua hari, Senin-Selasa (14-15/7). Seminar antarabangsa ini terlaksana berkat kerjasama tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). UNS merupakan tuan rumah kedua, setelah tahun sebelumnya, pada 16-17 Juni 2008, perhelatan serupa diadakan di UGM Yogyakarta. Sementara UKM Malaysia mendapat giliran untuk menyelenggarakan acara tahunan ini pada tahun 2010 mendatang.


Pada sesi pertama, Senin (14/7), dihadirkan tiga pembicara dari tiga universitas penggagas even ini, Drs Sudarno MA dari UNS, Dr. Ida Rochani Adi, SU dari UGM, serta Prof. Dr. Noriah Mohammed dari UKM dengan moderator Prof Dr H Bani Sudardi MHum. Dalam pemaparannya, Prof Dr Noriah Mohammed menyampaikan beberapa fragmen dalam Hikayat Hang Tuah. Dalam karya agung pujangga Melayu tersebut ternyata banyak ditemukan unsur-unsur kejawaan. Noriah mencontohkan dengan sebuah penggalan dalam Hikayat Hang Tuah yang menggunakan istilah “Raden” pada permulaan untuk menyebut nama Raden Bahar. Penggunaan nama “Raden” ini, menurut Noriah, memperlihatkan objektivitas pujangga Melayu dalam upaya mengangkat Jawa karena “Raden” merupakan penyebutan kedudukan yang dihormati dalam strata sosial masyarakat Jawa.

Sebelumnya, acara diskusi telah berlangsung meriah berkat uraian Dr. Ida Rochani yang dengan jeli menggiring wacana diskusi tentang ancaman degradasi budaya Jawa, yang bahkan dilakukan oleh orang-orang Jawa sendiri yang cenderung malu menerapkan tradisinya sendiri. Namun, Ida Rochani melihat fenomena ini dari sisi lain, bahwa pada hakikatnya orang Jawa sangat bangga dengan kebudayaannya tetapi dengan proses dan cara yang agak berbeda. Menurut Ida, semakin tinggi tingkat kemapanan status sosial ekonomi seseorang, semakin tinggi pula keinginan orang itu untuk kembali ke akar tradisi. Dengan kata lain, orang Jawa ingin budaya Jawa tidak menjadi budaya yang sepele melainkan sebagai budaya yang adiluhung.

Pembicara ketiga adalah Drs. Sudarno MA yang menyoroti tentang “terpilihnya” bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS ini menyatakan, dipakainya bahasa Melayu sebagai bahasa nasional tidak lepas dari faktor politis. Akibatnya, terjadilah pembedaan penggunaan bahasa Melayu pada masing-masing bangsa penggunanya, bahkan sampai pada tingkatan lokal. Sudarno menuturkan, orang Malaysia yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-harinya tidak akan mau mengakui bahasa Melayu yang mereka pakai sebagai bahasa Indonesia.  Hal yang sama juga terjadi pada orang Indonesia. Rakyat Indonesia enggan menyamakan bahasa Indonesia, bahasa yang berakar dari bahasa Melayu, dengan bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia.


Gejala pembedaan pemakaian bahasa Melayu tersebut, menurut Sudarno, juga terjadi dalam lingkup lokal. Orang Melayu Riau, misalnya, tidak pernah menyebut bahwa bahasa Melayu yang dipakainya sama dengan bahasa Melayu nasional atau bahasa Indonesia. Sudarno menyimpulkan bahwa alasan bahasa Melayu dipilih sebagai bahasa nasional karena bahasa Melayu dianggap lebih egaliter, tidak ada perbedaan kelas sosial, seperti yang lazim terjadi dalam aturan pemakaian bahasa Jawa.


Sesi pertama seminar internasional “Pemikiran Melayu-Jawa” ini diakhiri dengan pertukaran kenang-kenangan antara UNS, UGM, dan UKM. Diserahterimakan juga cenderahati dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta kepada UNS, UGM, dan UKM yang disampaikan oleh Mahyudin Al Mudra, pemangku BKPBM sekaligus Pemimpin Umum www.MelayuOnline.com. Sebagai penutup pada sesi ini, dilakukan peluncuran buku “Kreativiti Minda Melayu-Jawa dalam Khazanah Bahasa, Sastera dan Budaya”. Buku ini merupakan hasil kumpulan makalah Workshop Internasional I yang diadakan di UGM tahun 2008 silam. Kehadiran buku ini terlaksana berkat jerih-payah dan inisiatif dari UKM Malaysia yang bertindak sebagai pihak penerbitnya. Dalam acara ini Mahyudin Al Mudra, Pemangku BKPBM dan Aris Arif Mundayat dari PSSAT UGM dan sekaligus konsutan BKPBM  menjadi pembentang kertas kerja pada sesi kedua.

(Iswara NR/Brt/01/07-2009)

Sumber Foto: http://melayuonline.com


Read : 4.554 time(s).

Write your comment !