Kamis, 14 Desember 2017   |   Jum'ah, 25 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.646
Hari ini : 30.618
Kemarin : 36.474
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.954.628
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Isutan Jarat (Kalimantan Selatan)

a:3:{s:3:

1. Asal usul

Isutan jarat adalah nama permainan tradisional yang berkembang di daerah Kalimantan Selatan. Isutan mungkin peralihan dari kata ‘usutan’ yang berarti ‘mencari’. Sedangkan, jarat adalah istilah yang digunakan oleh Orang Banjar untuk menyebut tali yang ujungnya bersimpul sebagai penjebak atau pengikat (tali lasso di Amerika). Jadi, permainan isutan jarat intinya adalah mencari tali yang bajarat (memiliki jerat). Dalam hal ini setiap pemain berusaha untuk mencari jarat yang disembunyikan di dalam pasir oleh lawan mainnya. Caranya dengan menusukkan sebilah lidi/kayu/bambu ke dalam pasir yang diperkirakan ada jarat-nya.

2. Pemain

Jumlah pemain isutan jarat minimal dua orang dan maksimal empat orang karena dalam permainan ini ada posisi pasang (yang menyembunyikan jarat) dan posisi naik (yang mencari lubang jarat). Lebih dari jumlah itu terlalu ramai sehingga bisa menimbulkan kebingungan.

3. Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan ini biasanya dilakukan di pinggir sungai saat air surut atau di halaman rumah yang banyak pasirnya. Permainan ini tidak ada kaitannya dengan jenis upacara atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, dapat dimainkan kapan saja. Namun demikian, biasanya dilakukan menjelang sore hari sebelum mandi di sungai. Peralatan yang digunakan adalah tali yang terbuat dari serat pohon pisang dan bilah bambu atau bilah kayu lainnya yang dibuat  agak runcing dengan panjang tidak lebih dari lengan. Pohon pisang yang kering dan telah terlihat seratnya, juga dapat digunakan oleh pemain untuk membuat tali jarat.

4. Aturan dan Proses Permainan

Permainan isutan jarat dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap menyembunyikan jarat dan tahap mencari jarat. Jika jumlah pemain 4 orang, maka dalam tahap menyembunyikan jarat, ke-4 pemain tersebut berpencar ke daerah yang berpasir dan masing-masing menyembunyikan jarat-nya. Masing-masing mempunyai teknik tersendiri dalam menyembunyikan jerat. Salah satu diantaranya ujung jerat dibuat berkelok-kelok sehingga letak jerat yang sesungguhnya sulit ditebak. Dalam teknik ini biasanya tali yang berkelok-kelok yang sebenarnya tidak ber-jerat sengaja disisakan dipermukaan pasir, sehingga lawan bisa tertipu (tebakannya meleset).

 

Selanjutnya, adalah tahap mencari jarat. Dalam tahap ini ditentukan terlebih dahulu timbunan pasir siapa yang akan dicari terlebih dahulu. Setelah itu, masing-masing pemain akan menusukkan bilahnya ke dalam timbunan pasir untuk menebak letak jarat. Ketika seluruh pemain telah menusukkan bilahnya, maka pemasang jarat menariknya sehingga akan ketahuan siapa yang berhasil menebak jarat. Setiap pemain akan mendapat giliran untuk menebak jarat pemain lainnya.

 

5. Nilai Budaya

Nilai budaya yang terkandung dalam permainan ini adalah kecermatan dan sportivitas. Nilai kecermatan tercermin dalam keberhasilan menebak jarat lawan. Sedangkan, nilai sportivitas tercermin dalam menyembunyikan jarat. Dalam konteks ini para pemain betul-betul tidak melakukan pengintaian dan mereka memasang jarat pada lubang yang ukurannya telah disepakti bersama.

Sumber :

  1. Anak Sultan
  2. www.kerajaanbanjar.wordpress.com
Dibaca : 12.639 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password