Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 7.452
Hari ini : 50.325
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.474.973
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Rbintin Vatuk (Maluku)

1. Asal usul

Rbintin Vatuk atau yang berarti “menyapu biji buah”  berasal dari kata “Rbintin” artinya “sapu” dan “Vatuk” yang berarti “keluar”. Secara umum permainan ini terdapat di kepulauan Tanimbar, Kebupaten Maluku Tenggara, khususnya di Pulau Yadena, Selaru, Seira, Angwarmase dan Fordata. Permainan ini konon sudah ada sejak pertengahan abad XVIII, bertepatan dengan tahun kelahiran penduduk yang pertama kali mendiami kepulauan Tanimbar.

2. Pemain

Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan remaja pria yang berusia 10--18 tahun. Sedangkan, jumlah seluruh pemainnya minimal 20  orang dan maksimal 40 orang. Pemain dibagi menjadi 2 kelompok yang jika jumlah pemainnya 20 orang, maka anggotanya 10 orang dan jika jumlah pemain 40 orang, maka anggota kelompoknya 20 orang. Permainan ini biasanya dimainkan pada waktu sore sekitar pukul 16.00 s/d 18.00 WIT, dan tidak terikat pada suatu peristiwa sosial maupun unsur-unsur kepercayaan tertentu. Rbintin vatuk hanya dapat dimainkan pada musim Timur, karena biji buah parang hanya dapat dipungut di pesisir pantai daerah-daerah yang telah disebutkan di atas yang berlangsung dari bulan Juni sampai Desember. Jadi, boleh dikatakan sebagai permainan musiman.

3. Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan rbintin vatuk memerlukan sebuah lapangan yang luas. Sementara itu, peralatan yang digunakan hanyalah 3 biji buah parang untuk setiap pemain (dalam bahasa Yameda disebut “Kaplili” dan Formosa disebut “Lei”) dan sebuah sapu lidi untuk tiap regu yang nantinya digunakan oleh pemimpin regu untuk menyapu tempat biji buah yang sudah kosong. Saat menyapu biji ini biasanya mereka secara bersama menyanyikan lagu dengan syair sebagai berikut:

Bitin bitin kapalili
Bitin bitin kapalili ahoi

4. Aturan dan Proses Permainan

Aturan permainan rbintin vatuk adalah: (1) Tiap regu harus mempunyai seorang ketua regu; (2) Setiap pemain harus mempunyai 3 biji buah parang sedangkan untuk pemimpin regu ditambah dengan sebuah sapu lidi; (3) Regu yang mendapat giliran hanya berhak melempar satu biji buah parang untuk setiap pemain; (4) Regu penadah berhak menanam tiga buah biji parang setiap pemain; (5) Pemain yang gagal pada tahap pertama berhak melempar pada tahap kedua; (6) Pemain yang berhasil pada tahap pertama, tidak perlu lagi melempar pada tahap kedua; (7) Apabila lemparan ketua regu berhasil pada tahap pertama, semua pemain yang lemparannya gagal dinyatakan berhasil dan dapat langsung melempar pada tahap ketiga. Proses permainan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama disebut lempar jarak jauh 12 meter. Para pemain melempar secara bergiliran dalam satu barisan dan paling terakhir adalah lemparan ketua regu. Pemain yang berhasil adalah yang mengenai biji-biji yang telah ditanam oleh lawannya walau tidak berbunyi sekalipun. Tahap kedua dilakukan setelah biji-biji ditanam seperti semula. Cara melemparnya sama seperti tahap pertama, namun jaraknya lebih dekat, sekitar 7 meter. Tahap ketiga sama dengan tahap pertama dan kedua, namun jarak lemparannya lebih dekat lagi yaitu 2 meter. Setelah selesai dengan babakan yang ketiga, maka pemain kembali lagi pada tahap pertama dan seterusnya sampai permainan usai. Regu yang mencetak paling banyak biji dinyatakan sebagai regu pemenang dan yang sedikit dinyatakan sebagai regu yang kalah.

5. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan rbintin vatuk adalah keterampilan, kerja keras, kerja sama dan sportivitas. Nilai keterampilan tercermin dari ketepatan mengenai biji yang telah ditanam yang memerlukan keahlian khusus. Nilai kerja keras tercermin  dari usaha para pemain untuk mengenai buah biji parang lawan. Kemudian, nilai kerja sama tercermin dari peran pemimpin regu yang berusaha membawa kawan-kawannya yang gagal pada suatu tahap permainan, agar dapat mengikutinya kembali pada tahap berikutnya. Dan, nilai sportivitas tidak hanya tercermin dari para pemain yang tidak berbuat curang saat melakukan lemparan, tetapi juga  yang kalah menerima kekalahannya dengan lapang dada.

Sumber :

Suradi Hp, dkk, 1981, Perainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 9.176 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password