Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 3.144
Hari ini : 24.386
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.022.544
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Kola-kola (Maluku)

1. Asal Usul

Awal mula permainan kola-kola sudah tidak diketahui lagi, namun yang pasti telah dikenal jauh sebelum terjadinya perang Banua dan Perang Jailolo (1914). Kola-kola artinya “angkat-angkat”. Kegiatan yang dilakukan dalam permainan ini bersifat angkat-mengangkat antarpemain. Dalam permainan ini pemain yang diangkat akan duduk di atas lipatan tangan kawan-kawannya. Di Maluku, Indonesia, permainan ini terdapat di Pulau Halmahera, tepatnya di Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, Propinsi Maluku Utara, Indonesia. Di Maluku Tengah, permainan ini mirip dengan permainan kuda-kudaan, karena pemain yang diangkat akan duduk di atas pundak pemain lainnya.

2. Pemain

Jenis permainan ini dapat dimainkan oleh semua orang dan semua umur, baik laki-laki maupun perempuan, dalam kelompok yang jumlah anggotanya telah ditentukan, yaitu 3, 7 dan 15 orang. Pada kelompok dengan anggota 3 orang, pembagian tugasnya adalah: 2 orang sebagai mabagin (bahasa Sahu) yang artinya “dasar”, dan 1 orang sebagai kapita (bahasa Sahu) yang artinya “penyerang”. Kelompok dengan anggota 7 orang, pembagian tugasnya adalah: 4 orang sebagai mabagin, 1 orang sebagai kapita, dan 2 orang sebagai mangasu (tiang). Kelompok dengan 15 orang anggota pembagiannya: 8 orang mabagin, 6 orang mangasu, dan 1 orang kapita.

3. Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan kola-kola dapat dimainkan di mana saja, karena hanya memerlukan alat musik yang berupa tifa dan gong yang berfungsi sebagai pengiring permainan. Jadi, bisa di tepi pantai, di pasir putih, di dalam laut yang dangkal, di lapangan yang luas, di pekarangan rumah atau halaman sekolah.

4. Aturan dan Proses Permainan

Aturan permainan kola-kola, baik itu kelompok yang jumlahnya 3, 7, maupun 15 orang sebagian besar sama. Yang membedakannya hanyalah adanya tiang (mangasu) yang nantinya akan diduduki oleh kapita, sehingga kapita jauh lebih tinggi posisi duduknya ketimbang kelompok yang terdiri dari 3 orang. Kelompok yang dapat menjatuhkan kapita kelompok lainnya dinyatakan sebagai pemenang. Jalannya permainan adalah sebagai berikut.

Pada kelompok yang terdiri atas 3 orang, maka yang 2 orang akan duduk sebagai mabagin (dasar). Kedua orang ini akan melipat tangan kirinya sejajar pundak dan memegang tangan kanannya sendiri pada bagian siku. Kemudian, tangan kanannya memegang siku kiri kawannya sendiri. Pada kelompok yang jumlahnya 7 orang, maka yang 4 orang akan berbuat hal yang sama, sedangkan kelompok yang jumlah anggotanya 15 orang, maka yang 8 orang juga akan melakukan hal serupa untuk membuat mabagin. Setelah itu, kapita akan berdiri dan duduk di atas lipatan tangan kawannya yang telah membentuk mabagin tersebut dengan diiringi bunyi-bunyian tifa. Tifa akan berbunyi lagi sebagai isyarat agar kedua kelompok mulai saling menyerang hingga salah satu kapita dari kedua kelompok tersebut terjatuh. Pada kelompok yang anggotanya berjumlah 7 dan 15 orang, setelah mabagin terbentuk, maka di atasnya akan ada beberapa pemain lagi yang akan duduk dengan posisi tangan seperti mabagin untuk menjadi mangasu (tiang). Jumlah mangasu untuk kelompok yang anggotanya 7 orang adalah 2 orang, sedangkan kelompok yang anggotanya 15 orang, jumlah mangasunya 6 orang. Setelah mangasu terbentuk, barulah kapita akan duduk di atas mangasu tersebut. Bagi kelompok yang, setelah bertarung, dapat menjatuhkan kapita kelompok lawan, maka kelompok tersebut dinyatakan sebagai pemenangnya. Sebagai catatan, peran mabagin dan mangasu hanya sebagai “tempat duduk” bagi kapita, dan tidak boleh menyerang mabagin dan mangasu kelompok lain. Pemenang dalam permainan ini, jika diadakan sebagai pengisi waktu luang, tidak akan memperoleh apa-apa kecuali rasa kapuasan dan kebanggaan diri. Namun jika permainan ini diselenggarakan oleh desa atau sekolah (pada hari kemerdekaan, misalnya), maka pemenangnya akan mendapatkan hadiah berupa buku tulis, buku bacaan, uang, dan sebagainya.

5. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai kola-kola ini adalah kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kerja keras dan kerja sama tercermin dari para pemain untuk menjatuhkan kapita kelompok lain. Nilai sportivitas tercermin dari sikap dan perilaku yang sportif. Artinya, jika kalah akan menerimanya dengan lapang dada.

Sumber:

Suradi Hp, dkk. 1981. Permainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 10.054 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password