Selasa, 21 Februari 2017   |   Arbia', 24 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 735
Hari ini : 1.463
Kemarin : 37.075
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.764.820
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Sum Lere Radu Bulan Nir Ouwe (Maluku)

1. Asal Usul

Asal usul permainan yang disebut sebagai Sum lere radu bulan nir ouwe ini sulit diketahui. Namun, yang jelas permainan ini telah dikenal oleh masyarakat Kepulauan Tanimbar (Maluku Tenggara), Indonesia, khususnya masyarakat Pulau Selaru, Pulau Seira, Pulau Angwarmase, dan Pulau Fordata sejak akhir abad XVIII. Sum lere radu bulan nir ouwe artinya “menyuruk kandang matahari dan bulan”. Permainan ini sama seperti permainan Ular Naga (Jakarta), yaitu ada dua orang penjaga yang berhadapan dan saling berpegangan tangan yang kemudian diangkat ke atas membentuk kerucut, sehingga jika diturunkan akan memerangkap pemain di dalamnya. Kedua orang penjaga itu diibaratkan sebagai bulan dan matahari.

2. Pemain

Permainan Sum lere radu bulan nir ouwe pada umumnya dilakukan oleh anak-anak yang berusia 6--12 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah pemainnya 10--40 orang. Dari sekian banyak pemain tersebut, hanya satu orang yang menjadi bulan dan satu orang menjadi matahari, sedangkan sisanya akan dibagi dua grup setelah dalam permainan terjaring dalam kandang bulan dan matahari.

3. Tempat dan Peralatan Permainan

Luas arena permainan yang diperlukan tergantung dari banyak sedikitnya pemain. Jika pemain kurang dari 40 orang, maka luas arena hanya berukuran 5 x 5 meter persegi. Namun, jika pemain sekitar 40 orang maka luasnya diperlebar menjadi 8 x 8 meter persegi. Di tengah-tengah arena akan dibuat sebuah garis batas yang nantinya akan dipergunakan sebagai batas kalah atau menang oleh regu matahari dan bulan saat saling tarik-menarik. Dengan luas yang maksimal hanya 16 meter persegi, maka pekarangan rumah atau tanah yang agak lapang pun dapat dijadikan arena permainan. Permainan sum lere radu bulan nir ouwe tidak mempergunakan alat apapun, kecuali 2 buah lagu sebagai pengiring nyanyian. Syair untuk lagu pertama adalah sebagai berikut:

Sung sung mas mas bete roli

Kyawar roli sung oila la ilala

Sedangkan, syair untuk lagu yang kedua adalah sebagai berikut:

Sungo lailai sungo lailai

Nbotin owesu sunsa

Ino we metriat

4. Aturan dan Proses Permainan

Aturan permainan sum lere radu bulan nir ouwe tergolong mudah, yaitu setelah grup terbagi dua (matahari dan bulan), maka kedua regu tersebut akan saling tarik-menarik hingga melewati garis batas permainan untuk menentukan menang atau kalahnya sebuah grup.

Jalannya permainan dimulai dengan penentuan pemain (dengan cara aklamasi) yang akan menjadi matahari dan bulan. Setelah itu, kedua pemain (matahari dan bulan) akan saling berhadapan dan berpegangan tangan, kemudian diangkat ke atas membentuk sebuah kerucut (jika diturunkan akan memerangkap pemain di dalamnya). Sementara itu, para pemain lain akan berbaris memanjang, sambil berpegangan pada pundak pemain yang ada di depannya untuk mulai berjalan memutari bulan dan matahari, melalui “lorong” yang dibuat oleh rentangan tangan matahari dan bulan. Saat berjalan mengitari dan memasuki “lorong” antara matahari dan bulan tersebut, biasanya para pemain akan bernyanyi. Di akhir nyanyian tangan pemain yang berperan sebagai matahari dan bulan akan turun dan memerangkap salah seorang dari barisan pemain yang mengelilinginya. Kemudian, matahari dan bulan akan bertanya kepada pemain yang terperangkap tersebut untuk memilih (secara sukarela) matahari atau bulan. Jika pemain memilih matahari maka ia akan berdiri di belakang matahari, dan sebaliknya apabila ia memilih bulan, maka ia akan berdiri di belakang pemain yang berperan sebagai bulan. Demikian seterusnya hingga tidak ada lagi pemain yang mengitari matahari dan bulan. Dengan cara seperti itu, otomatis grup matahari dan bulan terbentuk.

Selanjutnya, matahari dan bulan akan berdiri berjajar dan saling berpegangan (hanya satu tangan) lagi tepat di atas garis batas permainan. Sementara tangan yang satunya lagi (baik matahari maupun bulan) akan memegang salah satu tangan pemain lain (yang tadi telah memilih). Pemain tersebut akan memegang tangan pemain lainnya sehingga nantinya akan terbentuk barisan melebar dengan matahari, bulan dan garis batas di antara keduanya sebagai pusatnya. Kemudian, kedua grup tersebut akan saling tarik-menarik hingga salah satu regu melewati garis batas yang telah ditentukan. Pada tahap ini permainan sum lere radu bulan nir ouwe hampir sama dengan permainan hela rotane, yang membedakan hanyalah tidak digunakan rotan dalam usaha tarik-menarik tersebut. Regu yang dapat menarik regu lain melewati garis batas maka regu tersebut dinyatakan sebagai pemenangnya. Jika pemain masih ingin bermain maka permainan dimulai lagi seperti semula.

5. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan sum lere radu bulan nir ouwe ini adalah kerja sama, kerja keras, demokrasi, dan sportivitas. Nilai kerja sama dan sekaligus kerja keras tercermin dari para pemain yang tergabung dalam satu grup akan bahu membahu menarik grup lain melewati batas yang telah ditentukan. Sedangkan nilai demokrasi tercermin dari kebebasan para pemain untuk sesuka hati memilih menjadi anggota grup bulan atau matahari. Nilai sportivitas tercermin dari sikap dan tingkah laku anggota grup yang kalah, mengakui kekalahannya dengan lapang dada, karena ada kesadaran bahwa dalam suatu permainan pasti akan ada pihak yang kalah dan pihak yang menang.

Sumber :

Suradi Hp, dkk. 1981. Permainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 9.202 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password