Rabu, 29 Maret 2017   |   Khamis, 1 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 4.294
Hari ini : 21.111
Kemarin : 95.293
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.017.031
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Abbatu Samba (Sulawesi Selatan)

1. Asal Usul

Pada masyarakat Bugis-Makassar yang tinggal di Kabupaten Bulukumba (Sulawesi Selatan, Indonesia), khususnya di Bonto Bahari, ada sebuah permainan yang disebut sebagai abbatu samba. Dari mana dan kapan permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti, yang jelas permainan tersebut telah dikenal oleh orang Bonto Bahari secara turun-temurun.

Abbatu samba yang merupakan bahasa setempat (Bugis-Makassar dialek Bonto Bahari) untuk sebuah permainan sesungguhnya merupakan gabungan dari kata “ab” yang berarti “melakukan sesuatu”, kata “batu” yang berarti “biji”, dan kata “samba” yang berarti “asam”. Abbatu samba, dengan demikian, dapat diartikan sebagai suatu permainan yang berkenaan dengan biji asam. Dalam konteks ini, biji-biji asam disusun dalam sebuah lubang yang pinggirnya dilingkari dengan sebuah garis yang melingkar. Dalam permainan ini, biji-biji tersebut pada gilirannya dilempar dengan batu pengngambak. Dan, yang dikenainya akan menjadi milik si pelempar.

Pada masa lalu garis yang melingkari lubang tidak pernah ada. Jadi, ketika itu biji yang terkena batu penggambak dan keluar dari lubang, maka biji tersebut menjadi milik si pelempar. Namun, setelah adanya garis melingkar dengan jarak sekitar satu jengkal dari lubang, maka yang akan jadi milik si pelempar adalah biji yang keluar dari garis.

2. Pemain

Permainan ini pada umumnya hanya dimainkan oleh anak laki-laki yang berusia sekitar 6--12 tahun, dengan jumlah pemain minimal 2 orang dan maksimal 4 orang. Permainan ini dilakukan secara individual dan bukan kelompok.

3. Tempat permainan

Permainan abbatu samba tidak memerlukan tempat yang luas, sebab arena permainannya hanya berupa sebuah lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman sekitar 5 cm. Dengan ukuran arena yang relatif kecil tersebut, tentu saja permainan dapat dilakukan di mana saja, asalkan di atas tanah, seperti di pekarangan rumah atau lapangan. Sekitar 20 cm dari lubang, terdapat garis yang melingkar yang berfungsi sebagai garis batas boleh-tidaknya biji asam taruhan diambil. Para pemain yang akan bermain, biasanya akan berjongkok sekitar satu meter dari garis batas tersebut sebelum melakukan lontaran.

4. Peralatan Permainan

Peralatan yang digunakan dalam permainan abbatu samba adalah sebuah batu pengngambak dan sejumlah biji asam untuk setiap pemain. Batu pengngambak yang akan digunakan sebagai pelontar sebenarnya adalah juga biji asam. Namun, yang dipilih untuk dijadikan pengngambak biasanya adalah biji yang agak besar dan berat, sehingga ketika dilontarkan dapat dengan mudah menghamburkan biji-biji asam lain yang berada di dalam lubang. Sedangkan biji-biji asam lain yang dibawa oleh pemain, adalah sebagai taruhan yang nantinya akan dimasukkan dalam lubang untuk dikenai oleh batu pengngambak. Jumlah biji-biji asam yang harus dibawa bergantung dari kesepakatan pemain.

5. Peraturan Permainan

Peraturan permainan abbatu samba tergolong mudah karena hanya melontarkan batu pengngambak ke arah biji-biji asam yang berada di dalam lubang. Jika seseorang dapat mengeluarkannya dalam jumlah yang banyak (lebih banyak daripada lawan mainnya), maka ia akan menjadi pemenangnya. Agar permainan ini dapat berjalan dengan tertib dan lancar, maka aturan permainan sangat diperlukan. Aturan-aturan dalam permainan ini adalah sebagai berikut: (1) pemain harus berjongkok ketika melontarkan batu pengngambak-nya; (2) apabila lontaran tidak berhasil mengenai biji-biji taruhan, maka pelontarnya harus memberi kesempatan pemain lawan untuk melontar; (3) lontaran dianggap sah apabila posisi pemain berada di luar garis lingkar lubang. Peraturan ini jarang sekali diterapkan karena garis lingkar hanya berdiameter sekitar 30 cm, sehingga para pemain umumnya selalu berhasil melontarkan batu pengngambak-nya; (4) apabila melontar dan ternyata biji taruhan bersama batu pelontar berada di luar garis lingkar, maka biji taruhan tersebut berhak diambil dan pelontar masih diberi kesempatan melontar lagi biji taruhan yang sudah keluar dari lubang, namun hanya biji yang masih berada di dalam garis lingkar; dan (5) apabila batu pengngambak berada di dalam garis lingkar, sedang biji asam taruhan terhambur melewati garis lingkar, maka semua biji tersebut berhak diambil sebagai kemenangan (baha).

6. Proses Permainan

Proses permainan abbatu samba adalah sebagai berikut:

  1. Sipekke (sepakat), yaitu penentuan urutan pemain yang akan melontarkan batu pengngambak. Caranya dengan gambreng dan suit (apabila jumlah pemainnya 4 orang). Namun apabila hanya 2 orang, maka hanya suit saja yang dilakukan. Siapa diantara pemain yang sewaktu gambreng atau suit dapat mengalahkan lawan mainnya, maka yang bersangkutan akan mendapat kesempatan pertama untuk memulai permainan;
  2. Mallele (memungut), yaitu pemain yang akan memulai permainan selanjutnya akan mengambil biji-biji asam dari pemain lainnya. Jumlah biji asam yang harus diserahkan biasanya hanya sekitar 6--10 biji saja, karena jika terlalu banyak, akan memenuhi lubang dan sulit untuk disusun;
  3. Ammolik (menyimpan), yaitu biji-biji yang telah dikumpulkan, selanjutnya akan di susun di dalam lubang. Penyusunan biji-biji asam tersebut diusahakan serapi mungkin agar tidak ada biji yang bertumpang-tindih;
  4. Mengngambak (melontar), yaitu pemain akan mulai melontarkan batu pengngambak-nya ke arah lubang untuk mengeluarkan biji-biji taruhan. Cara melontar batu pengngambak adalah dengan berjongkok, kemudian salah satu tangan yang menggenggam pengngambak akan diangkat, dan setelah itu pengngambak akan dilontarkan ke arah lubang; dan
  5. Nisambe (pergantian), yaitu pergantian pelempar yang terjadi apabila pemain melakukan kesalahan atau tidak berhasil mengenai biji-biji asam taruhan. Permainan abbatu samba dinyatakan selesai apabila seluruh biji taruhan yang berada di dalam lubang telah habis. Apabila para pemain masih mempunyai biji-biji buah asam sebagai taruhan, maka permainan akan dimulai kembali seperti semula. Pemenang dari permainan ini adalah pemain yang dapat mengumpulkan biji-biji buah asam paling banyak diantara pemain-pemain lainnya dan disebut accakkarak (pemenang). Dan, bagi yang kalah dalam permainan ini akan disebut carruk (bangkrut).

7. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai abbatu samba ini adalah keterampilan, kecermatan dan sportivitas. Nilai keterampilan dan kecermatan tercermin dari usaha para pemain untuk sedapat mungkin mengeluarkan biji-biji asam taruhan dari garis lingkar agar dapat diambil sebagai nilai kemenangan. Seseorang dapat dengan mudah mengeluarkan biji taruhan dari dalam lubang apabila telah menguasai teknik-teknik melontarkan batu pengngambak dan memiliki kecermatan dalam memilih sasarannya. Keterampilan melontar dan memilih sasaran tersebut hanya dapat dimiliki, apabila seseorang sering bermain dan atau berlatih melontarkan pengngambak. Dalam kehidupan sehari-hari, apabila orang selalu melatih keterampilan dan kecermatan yang dimilikinya, apapun bentuknya, kemungkinan besar akan meraih kesuksesan dalam setiap usahanya. Dan, nilai sportivitas tercermin dari sikap dan perilaku yang sportif para pemain. Dalam hal ini, pemain yang kalah harus mengakui kekalahannya dan rela menyerahkan biji-biji buah asam yang dipertaruhkannya kepada pihak yang menang. Sedangkan bagi pihak yang menang, tidak boleh menyombongkan diri, sebab pada permainan yang akan datang, mungkin saja dapat dikalahkan oleh pihak yang sebelumnya kalah. (AG/bdy/27/6-07)

Sumber:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1980. Permainan Anak-Anak Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 9.665 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password