Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.126
Hari ini : 58.868
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.475.755
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Harimau dan Kancil (Kuantan Singingi)

1. Asal Usul

Harimau dan kancil adalah suatu permainan yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan para pemain itu sendiri, khususnya pemain yang berperan sebagai harimau dan kancil. Selama permainan berlangsung, para pemainnya akan berbaris membentuk lingkaran untuk menghadang “harimau” yang akan menerkam “kancil”. Barisan tersebut diibaratkan sebagai “pagar” agar “harimau” tidak dapat menerkam “kancil” yang ada di dalamnya. Awal mula permainan ini, konon berasal dari orang tua-tua yang hendak memberi pemahaman kepada anak-anak tentang binatang (harimau), yang dahulu masih sering terlihat di sekitar hutan yang berdekatan dengan perkampungan mereka. Harimau dianggap sebagai binatang buas yang makanannya adalah kancil, rusa, babi hutan dan lain sebagainya. Sewaktu mencari makan tersebut, terkadang hingga ke tepi hutan yang berbatasan dengan perkampungan penduduk. Harimau yang mendekati perkampungan itu dikhawatirkan akan memakan anak-anak, karena dianggap seperti kancil atau rusa yang merupakan makanannya sehari-hari. Warga yang merasa khawatir apabila harimau menerkam dan memakan anak-anak mereka, kemudian menciptakan suatu permainan bagi anak-anak yang berkaitan dengan tingkah laku binatang tersebut, agar anak-anak selalu waspada terhadap binatang tersebut.

Permainan Harimau dan kancil sebenarnya hampir mirip dengan permainan tan besi yang ada di daerah Maluku Utara, hanya “sejarahnya” saja yang beda. Pada tan besi, permainan diadakan pada malam hari, yang bertujuan untuk menjaga lingkungan sekitarnya dari gangguan penjahat yang mungkin akan datang secara tiba-tiba. Para pemainnya pun bukan hanya anak-anak, melainkan juga oleh remaja dan orang tua.

2. Pemain

Pemain Harimau dan Kancil ini berjumlah 10--40 orang. Permainan ini dapat dilakukan secara bersama-sama oleh anak laki-laki dan perempuan yang berusia antara 7--12 tahun. Dari sekian banyak pemain tersebut, hanya dua orang diantara mereka yang akan berperan sebagai harimau dan kancil. Pemain yang dipilih untuk menjadi harimau, adalah orang yang dianggap kuat dan memiliki postur tubuh yang lebih besar daripada pemain yang berperan sebagai kancil. Sedangkan pemain lainnya akan membentuk barisan melingkar sebagai pagar bagi kancil agar harimau tidak mudah masuk.

3. Tempat Permainan

Permainan ini dapat dilakukan di halaman sekolah, (pada waktu istirahat) atau di halaman rumah pada sore hari, sambil menunggu datangnya magrib.

4. Peralatan Permainan

Permainan Harimau dan Kancil tidak memerlukan peralatan apapun untuk memainkannya. Para pemain hanya menggunakan anggota tubuh mereka sebagai “alat” untuk menyerang (bagi harimau) dan membentuk “pagar” (bagi pemain lainnya) agar harimau tidak dapat menangkap kancil.

5. Peraturan Permainan

Peraturan permainan ini tergolong mudah yaitu, apabila harimau dapat menerobos “pagar” dan menangkap kancil, maka ia dinyatakan menang.

6. Proses Permainan

Proses permainan Harimau dan Kancil dimulai dengan membuat “pagar” yang dilakukan oleh sejumlah pemain dengan berbaris melingkar dan berpegangan tangan. Di tengah-tengah lingkaran ini terdapat pemain yang berperan sebagai kancil. Setelah pagar terbentuk, harimau datang dengan cara mengendap-endap ke dekat “pagar”. Lalu, ia akan melompat-lompat dan mencari celah, sambil sesekali mengaum, agar dapat masuk dan menerkam kancil. Pada saat harimau tersebut mengaum, biasanya para penonton akan tertawa melihat tingkah kancil yang berlari ketakutan di dalam “pagar”. Setelah itu, harimau akan berusaha sekuat tenaga untuk menerobos “pagar”. Jika berhasil menembus, “pagar” akan terpecah dan harimau nantinya akan mengejar kancil di luar “pagar”. Pengejaran yang dilakukan oleh harimau tergantung dari gesit atau tidaknya pemain yang berperan sebagai kancil. Apabila pemeran kancil gesit dalam berlari, maka kejar-mengejar akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan apabila pemain kancil tidak terlalu gesit, maka harimau dapat dengan mudah menangkapnya dan permainan akan berakhir. Permainan akan dimulai lagi setelah peserta, secara aklamasi, menentukan pemeran harimau dan kancil yang baru.

7. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai Harimau dan Kancil adalah: kerja keras, kerja sama dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat pemeran harimau yang berusaha sekuat tenaga untuk menangkap kancil. Kerja keras juga terlihat dari semangat barisan “pagar” yang berusaha untuk menghalangi harimau menangkap kancil. Nilai kerja sama tercermin dari kekompakan barisan “pagar” dalam menghalangi pergerakan harimau. Nilai kerja sama ini dapat menjadi cerminan kepribadian orang Kuantan Singingi dalam kehidupan kesehariannya, yang nantinya dapat digunakan untuk mengekalkan kesatuan di dalam masyarakatnya sendiri. Nilai sportivitas tercermin dari sikap para pemain yang setelah permainan usai hubungan pertemanannya tetap berlangsung baik. Sikap sportif perlu ditunjukkan karena permainan ini adalah permainan fisik (adu kekuatan) yang dapat menyulut emosi setiap pemain yang  pada gilirannya dapat menimbulkan perkelahian. (AG/bdy/33/6-07)

Sumber:

Fakhri dan Bustami M. Lipsi. 2002. Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi. Pekanbaru: Unri Press.

Dibaca : 15.555 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password