Kamis, 23 Maret 2017   |   Jum'ah, 24 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 3.589
Hari ini : 35.734
Kemarin : 36.989
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.972.251
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Buang Au (Lombok - Nusa Tenggara Barat)

a:3:{s:3:

1. Asal-usul

Kelahiran bayi tidak saja bermakna sosial, bertambahnya anggota masyarakat, tetapi juga bersifat sakral. Oleh karena itu, kelahiran seorang bayi biasanya mendapatkan perlakukan istimewa. Nuansa sakral dan sosial dalam kelahiran seorang bayi, misalnya, dapat dilihat dalam upacara buang au yang diadakan oleh orang Sasak, merupakan penduduk asli dan kelompok etnis mayoritas di Lombok, Inodnesia.

Dalam masyarakat Sasak, kelahiran seorang bayi biasanya dibantu oleh seorang dukun beranak (balian). Setelah membantu proses persalinan, balian membakar arang dan menempatkannya di bawah ranjang di mana bayi dibaringkan. Ini dimaksudkan untuk menjaga agar si bayi merasa hangat dan dapat tidur nyenyak. Kira-kira satu minggu kemudian, orangtua si bayi mengadakan upacara buang au yang secara harfiah berarti membuang abu. Dalam upacara ini, balian membuang seluruh abu yang dihasilkan arang, sedangkan orangtua bayi mengumumkan nama bayi yang baru dilahirkan.

Pemberian nama tidak dilakukan sembarangan karena orang Sasak meyakini bahwa nama akan mempengaruhi masa depan anak. Mereka percaya bahwa nama yang tidak cocok bagi yang menyandangnya akan mengundang nasib buruk. Karena alasan inilah, orangtua biasanya berkonsultasi dengan Pemangku atau Kiai mengenai nama yang cocok untuk anaknya. Dalam memilih nama, Kiai dan Pemangku menggunakan perhitungan astrologis berdasarkan waktu, tanggal, bulan dan tahun saat bayi dilahirkan. Meski begitu beberapa orangtua memakai nama kakek atau kakek buyut yang sudah meninggal untuk bayi mereka demi mengenang asal-usul dan garis keturunannya.

2. Peralatan

Dalam upacara kelahiran masyarakat Sasak, ada beberapa alat yang digunakan yaitu:

  • Bedak keramas adalah campunan santan kelapa, darah ayam dan sembek yang ditaruh di tempurung kelapa.
  • Sampak yaitu sebuah alat seperti nampan yang terbuat dari tanah. Jumlah sampak ditentukan oleh berapa jumlah orang yang diundang. Menurut tradisi, sampak berjumlah ganjil digunakan untuk upacara gawe urip dan sampak berjumlah genap digunakan untuk gawe pati.
  • Lekesan (seperti sesajen dalam tradisi Jawa)
  • Hidangan untuk makan bersama. Mewah tidaknya hidangan ditentukan oleh besar-kecilnya upacara dan tingkat penghasilan penyelenggara upacara (epen gawe). Hidangan mewah ditandai dengan disembelihnya banyak hewan seperti sapi dan kerbau, sedangkan hidangan sederhana biasanya hanya menyembelih kambing dan ayam, bukan sapi atau kerbau.

3. Tata Laksana

Orang Sasak percaya bahwa ketika seorang bayi lahir kedunia, ia membawa dosa orangtuanya di masa lalu. Oleh karena itu, agar seorang bayi lepas dari dosa tersebut, seminggu setelah kelahirannya diadakan upacara buang au dengan menyelenggarakan bedak keramas (upacara pembersihan) dan doa Kiai. Bedak keramas dibuat dari campuran santan kelapa, darah ayam dan sembek yang ditaruh di tempurung kelapa. Ramuan tersebut dioleskan di kening bayi dan orangtuanya. Bedak keramas disusul dengan makan bersama, pariapan buang au, yang dihadiri Kiai, Pemangku, Toaq Lokaq, kerabat patrilinial ayah si bayi, dan beberapa bangsawan.

Pelaksanaan upacara buang au, biasanya, diadakan di berugak, tempat untuk duduk-duduk khas masyarakat Lombok saat berkumpul dan bersantai; biasanya juga disebut bale-bale. Upacara buang au ini dipimpin oleh Kiai. Jika epen gawe mengundang lebih dari satu orang Kiai atau kalau seluruh Kiai Kagungan diundang dalam upacara tersebut, biasanya salah seorang dari mereka, Penghulu, Ketip atau Lebai yang memimpin upacara.

Adapun tata urutan pelaksanaan  upacara buang au  adalah sebagai berikut:

  1. Para undangan yang datang langsung menempati tempat sesuai dengan aturan yang berlaku. Para Kiai duduk bersila menghadap ke timur di depan Pemangku, Toaq Lokaq dan para bangsawan duduk menghadap ke barat.
  2. Setelah para undangan berkumpul, sampak (hidangan) dikeluarkan dan diletakkan di antara kaum pria yang duduk dalam dua barisan. Masing-masing sampak untuk dua peserta yang duduk berhadapan.
  3. Ketika semua sampak sudah  dibagikan, seorang penyilak yang jongkok di tanah tepat di bawah Kiai yang duduk di berugak, atas nama penyelenggara upacara (epen gawe) menyampaikan tujuan diadakannya upacara dan meminta Kiai untuk memberkati epen gawe (penyelenggara).
  4. Kia, yang memimpin upacara, kemudian mengangkat tangan dan membacakan doa pendek.
  5. Kemudian ia menganggukkan kepala kepada penyilak sambil berkata ya (auk) yang berarti penyilak sudah boleh meninggalkan tempatnya untuk mulai makan. Mula-mula Kiai membasuh tangannya, mengambil air dari bejana tanah liat dan pengumurkannya.
  6. Para hadirin yang berada di samping dan di depan menirukan apa yang dilakukan oleh Kiai.
  7. Setelah para hadirin menirukan apa yang dilakuannya, Kiai kemudian meminta kepada hadirin utama untuk membuka penutup sampak dan mengatakan kepada mereka untuk mulai makan.
  8. Kiai memulai acara makan dengan mencicipi nasi menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya sebanyak tiga kali. Tindakan ini juga diikuti oleh para hadirin lainnya.
  9. Sesudah itu, Kiai kembali meminta para hadirin untuk menikmati seluruh hidangan dengan secara formal mengatakan: silak beleq’ang.
  10. Akhir upacara ditandai dengan menyembek pada tubuh si bayi, sedangkan pada orangtua si bayi, Kiai hanya mengusapkan sembek di keningnya saja. Hal semacam itu dimaksudkan untuk mendapatkan berkah dari papuk-baluk.
  11. Setelah acara semuanya selesai, epen gawe (penyelenggara) membawa dan meletakkan sembek di depan makam kakek dan kakek buyutnya selama satu malam dan mengambil pada hari berikutnya saat mereka mengolam. Epen bale diundang dengan menempatkan lekesan di pojok atas rumah, sementara berkah epen gubug dikumpulkan dari lekesan yang diinapkan semalam di kampu Pemangu atau Kiai.

Selesainya tahapan-tahapan acara tersebut menunjukkan bahwa upacara buang au telah selesai dilaksanakan.

4. Doa-Doa

Doa yang digunakan dalam upacara buang au adalah doa pendek berbahasa Arab. (teks doanya masih dalam proses pengumpulan data). 

5. Nilai-nilai

Buang au adalah praktek orang-orang Sasak yang, seperti upacara-upacara lainnya, sarat dengan ciri khas dan juga mengandung nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah: nilai keagamaan (sakral) dan nilai sosial-kultural. Nilai keagamaan (sakral) yang terkandung dapat dilihat dari jumlah sampak yang berjumlah ganjil (menunjukkan manusia yang hidup masih belum sempurna) dan pembacaan doa berbahasa arab. Selain itu nilai-nilai sakral juga ditunjukkan adanya sembek yang diletakkan di depan makam kakek dan kakek buyutnya dan lekesan yang diletakkan di pojok atas rumah menunjukkan adanya keyakinan bahwa arwah para pendahulunya dan makhluk-makhluk halus lainnya dapat memberikan berkah bagi keturunannya yang masih hidup dan, pada saat bersamaan, dapat juga membuat celaka. Sedangkan nilai sosial-kulturalnya dapat dilihat diantaranya pada: prosesi makan bersama dan pembacaan doa keselamatan berbahasa Arab menunjukkan bahwa tradisi lokal dipercaya mampu menyerap pengaruh-pengaruh dari luar. Disamping itu, pelaksanaan upacara buang au yang terlembagakan sedemikian rupa, lengkap dengan tatacaranya, membuktikan bahwa kebudayaan selalu diwariskan dan dilembagakan. 

(AS/bdy/2/09-07)

Sumber:

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Belajar dari Sejarah, http://labulia.blogsome.com/2007/04/04/ belajar-dari-sejarah/, diakses tanggal 11 Sepetember 2007.
  • Nusa Tenggara Barat, http://www.depdagri.go.id/ konten.php?nama=Daerah&op= detail_provinsi&id_prov=24&dt=nilai&nm_prov=Nusa%20Tenggara%20Barat, diakses tanggal 11 Sepetember 2007.
  • Wetu Telu, Kearifan Tradisional di Lereng Utara Rinjani, http://impalaunibraw.or.id/dat/detail.php?id=12_0_1_0_M, diakses tanggal 11 Sepetember 2007.
Dibaca : 11.953 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password