Kamis, 29 Juni 2017   |   Jum'ah, 4 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 1.174
Hari ini : 4.819
Kemarin : 40.272
Minggu kemarin : 260.371
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.729.669
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rowah Wulan dan Sampek Jum`at (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

1. Asal-Usul

Ramadhan merupakan bulan istimewa. Bak seorang tamu agung dan suci, Ramadan selalu disambut penuh antusias oleh umat Muslim. Masyarakat di berbagai daerah memiliki cara-cara yang berbeda untuk menyambutnya. Perbedaan cara tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan latar belakang sejarah yang menyertai masyarakat serta, secara khusus, persepsi dan pengharapan terhadap bulan Ramadhan itu sendiri. Karena prosesnya berlangsung sejak lama dan bersifat turun-temurun, maka formalisasi cara-cara tersebut menjadikannya sebagai sebuah tradisi.

Salah satu tradisi penyambutan bulan Ramadan yang dianggap khas bisa terlihat dari upacara yang dilakukan oleh orang-orang Sasak golongan Wetu Telu di Lombok, Indonesia. Sejak sebulan sebelum bulan Ramadhan, penganut Wetu Telu mengadakan rowah wulan dan sampek jumat sebagai bentuk penyambutan dan pemuliaan bulan Ramadhan, walaupun penganut Wetu Telu tidak berpuasa selama satu bulan penuh. Rowah Wulan diselenggarakan pada hari pertama bulan Sya‘ban sedangkan Sampek Jumat pada Jumat terakhir bulan Sya‘ban atau disebut Jum‘at penutup.

rowah wulan

Orang Sasak sedang memamah sirih

Walaupun penganut Wetu Telu tidak berpuasa selama satu bulan penuh karena pemahaman yang  berbeda terhadap bulan Ramadhan dan juga karena pengaruh adat istiadatnya seperti kebiasaan memamah sirih pada pagi, siang, ataupun sore hari, tetapi ketika bulan puasa menjelang, mereka menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang guna menjaga kesucian bulan Ramadhan. Penganut Wetu Telu diminta untuk menunda semua upacara (ritus) peralihan individu (begawe) seperti nguringsang (pemotongan rambut), nyunatang (khitan), dan ngawinang (perkawinan) karena perayaan tersebut akan merusak kesucian bulan Ramadhan. Bahkan jika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia, keluarganya harus menyelenggarakan upacara kematian secara sederhana dan menangguhkan upacara pasca kematian sesudah bulan Ramadhan.    

Dalam menentukan kapan waktu pelaksanaan upacara, penganut Wetu Telu menggunakan neptu (perhitungan tradisional). Penggunaan neptu sebagai penentu pelaksanaan upacara menunjukkan bahwa setiap kelompok mempunyai cara-cara dan logika tersendiri kapan melaksanakan upacara.    

2. Peralatan/Tempat Pelaksanaan

Tempat-tempat yang digunakan untuk melaksanakan upacara ini adalah:

  • Rumah para pemuka adat utama sebagai tempat pelaksanaan Rowah Wulan dan Sampek Jum‘at.
  • Makam Reak (situs kuburan di komplek pemakaman leluhur yang paling tua) dan makam lainnya sebagai tempat upacara Mengosap dan Mas Do‘a
  • Masjid Kuno sebagai tempat diadakannya Pariapan Sampet Jum‘at.

Adapun peralatan yang dibutuhkan antara lain:

  • Sapu tangan tenun (osap),
  • Kendi air
  • Pabuan berisi lekesan dan sembek.
  • Bahan-bahan makanan dan lauk pauk untuk acara makan-makan
  • Sampak (piring terbuat dari tanah)
  • Kemenyan

3. Tata Laksana

Walaupun Rowah Wulan dan Sampek Jumat sama-sama merupakan upacara menyambut bulan Ramadhan dan diakhiri dengan makan bersama, tetapi tatacaranya berbeda. Pada  Sampek Jumat, upacara didahului dengan melakukan Mengosap dan Mas Do‘a di komplek makam keramat, sedangkan pada upacara Rowah Wulan kegiatan semacam itu tidak ada. Namun acara inti dari keduanya, saat pelaksanaan, sama.

Oleh karena itu, tulisan ini hanya akan mendeskripsikan pelaksanaan Sampek Jum‘at yang didahului oleh pelaksanaan upacara Mengosap dan Mas Do‘a. Adapun tata laksananya adalah sebagai berikut:

a. Mengosap

Mengosap dilakukan pada malam hari oleh Kiai Kagungan (Penghulu, Lebai dan Ketip) dan Kiai Santri bertempat di Makam Reak, dipimpin oleh Penghulu. Runtutan acaranya sebagai berikut:

  1. Penghulu duduk berjongkok  di anak tangga pintu depan  pintu depan Makam Reak dibelakangnnya Ketip, Lebai, dan para Kiai santri juga dalam posisi duduk berjongkok.
  2. Penghulu mengucapkan do‘a dalam bahasa setempat untuk meminta ijin para arwah leluhur untuk memasuki Makam Reak.
  3. Lalu ia melangkah ke depan untuk membuka pintu dan masuk ke dalam Makam Reak disertai Ketip dan Lebai, sedangkan para Kiai santri tetap jongkok di anak tangga terbawah pintu depan.
  4. Di dalam tempat itu mereka menyapu permukaan lantai tanah menggunakan sapu tangan tenun (osap).
  5. Setelah selesai mereka meletakkan kendi air dan pabuan berisi lekesan dan sembek
  6. Selanjutnya para pemuka adat dan agama tersebut pergi ke seluruh makam lainnya dan melakukan hal yang sama. Di tiap-tiap makam, para Kiai santri membantu Penghulu, Ketib dan Lebai untuk membersihkan kuburan, membawa dan menaruh kendi serta lekesan. Sesaji dan kendi air diambil pada malam berikutnya.

b. Mas Do‘a

Malam berikutnya semua pemuka adat mendatangi komplek Makam Reak untuk mengumpulkan lekesan dan kendi. Upacara ini dinamakan Mas Do‘a. Urutan upacara Mas Do‘a adalah sebagai berikut:

  1. Upacara Mas Do‘a dimulai dari Makam Reak dengan dipimpin Penghulu diikuti oleh Ketip, Lebai, dan Kiai Santri lainnya.
  2. Penghulu memasuki rumah bambu yang menaungi Makam Reak, sementara para Kiai yang lain duduk bersila menunggu di anak tangga pintu depan Makam Reak.
  3. Di dalam Makam Reak, Penghulu membakar kemenyan
  4. Kemudian membaca do‘a pendek berbahasa Arab dengan dialek lokal
  5. Selesai berdo‘a, Penghulu mengangkat telapak tangan ke depan mulutnya diikuti oleh  para Kiai yang menunggu di luar sembari mengucapkan Amin.
  6. Selanjutnya penghulu mengumpulkan lekesan dan kendi sebelum meninggalkan Makam Reak.
  7. Setelah dari Makan Reak, Kiai Kagungan (Penghulu, Lebai, dan Ketip) disertai oleh para Kiai Santri melanjutkan hal serupa di makam-makam yang lain.

c. Meriap

Setelah selesai melakukan Mas Do‘a, upacara selanjutnya adalah makan bersama (meriap atau pariapan) di Masjid Kuno. Adapun prosesinya adalah sebagai berikut:

  1. Beberapa kurir mewakili tiap kampu (seperti kampung) dan lingkungan sekitar kampu-kampu tersebut, gubung, masing-masing mengirimkan sampak (makanan ritual yang ditaruh di atas piring tanah liat) ke Masjid Kuno. Sekalipun makanan ritual dipersiapkan di rumah tiap-tiap pemuka adat, anggota masyarakat sekitar yang memasok bahan mentah dan membantu memasak.
  2. Selama proses mempersiapkan makanan tersebut, seluruh pemuka agama menunggu di dalam Masjid Kuno.
  3. Para pemuka agama duduk di dekat mimbar kayu. Mimbar diletakkan di tengah Masjid Kuno sebagai pemisah antara Kiai Raden dengan Kiai Kagungan.
  4. Para Kiai Kagungan dan Kiai Raden duduk bersila menghadap ke Timur sementara para Kiai Santri duduk menghadap ke Barat.
  5. Setelah proses penyiapan makanan dianggap selesai, maka Pembekel (penata acara) memulai penyilakan, yakni mengutarakan tujuan diadakannya upacara Pariapan Sampek Jum‘at.
  6. Kemudian penghulu memimpin upacara dengan memanjatkan do‘a kesejahteraan, dalam bahasa Arab. Seperti biasa, semua Kiai lain mengangkat telapak tangan mereka sambil mengamini do‘a Penghulu.
  7. Setelah do‘a selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.
  8. Setelah makan, penghulu memimpin pembacaan do‘a pendek kedua berbahasa Arab.
  9. Setelah acara meriap (makan bersama) di Masjid Kuno selesai, mereka mengulangi acara serupa di masing-masing kampu. Dimulai dari kampu Penghulu dan dilanjutkan dengan kampu-kampu lainnya.
  10. Setelah semuanya selesai, Pemangku atau Kiai mengoleskan sembek yang dikumpulkan dari komplek pemakaman keramat leluhur pada dahi para peserta upacara.  

Demikian tata laksana pelaksanaan upacara penyambutan bulan Ramadhan yang dilakukan oleh orang Islam Sasak kelompok Wetu Telu di Lombok Nusa Tenggara Barat.

4. Doa-Doa  atau Mantra  

Doa yang digunakan dalam upacara menyambut bulan Ramadhan  (Rowah Wulan dan Sampek Jum‘at) adalah:

  • Doa pendek berbahasa Arab digunakan pada upacara Mengosap dan Mas Doa‘.
  • Doa Kesejahteraan dalam bahasa Arab pada upacara Pariapan Sampek Jum‘at (teks do‘a dalam proses pengumpulan data)

5. Nilai-Nalai

Tujuan pelaksanaan Rowah Wulan dan Sampek Jum‘at sedikitnya ada tiga macam yaitu: Pertama, mensucikan diri. Bulan Ramadhan diyakini sebagai bulan yang suci oleh karena itu untuk memasukinya harus dalam keadaan suci. Keyakinan seperti ini tidak terkait dengan apakah pada saat bulan Ramadhan mau berpuasa atau tidak.

Kedua,  pemujuaan leluhur. Upacara Mengosap dan Mas Do‘a sebagai bagian penting dari Sampet Jumat adalah untuk memberitahu kepada para leluhur bahwa mereka akan memasuki bulan puasa. Mereka memohon kepada para leluhur agar memberkati mereka dengan kekuatan, kedamaian dan kerukunan untuk menjalankan puasa. Pemujaan leluhur dapat dilihat dari pengolesan sembek oleh Kiai atau pemangku yang dikumpulkan dari komplek pemakaman keramat leluhur di dahi para peserta upacara sebagai simbol bahwa tiap peserta mendapatkan berkah leluhur. Karena siapa saja yang meninggalkan upacara tanpa mendapatkan berkah leluhur akan menemui ketemuk (sanksi supranatural), maka semua orang menunggu hingga prosesi pengolesan sembek tuntas.

Ketiga, melestarikan adat-istiadat. Upacara Rowah Wulan dan Sampek Jum‘at yang dilakukan oleh masyarakat Sasak merupakan upaya untuk melestarikan adat-istiadat (culture). Sebagai adat, setiap bentuk ritual yang ditemukan oleh generasi terdahulu diwariskan pada generasi berikutnya. (AS/bdy/3/09-07)      

Sumber :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Ramadhan Wetu Telu, http://terune-sasaq.blogspot.com/2007/08/ramadhan.html, diakses tanggal 14 September 2007
  • Ziarah Jelang Ramadhan, http://terune-sasaq.blogspot.com/2007/09/ziarah-jelang-ramadhan_10.html, di akses 14 September 2007
Dibaca : 11.771 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password